Perjalanan pendidikan tidak selalu berjalan mulus. Bagi Ramli, jalan menuju bangku doktoral penuh dengan tantangan yang nyaris menghentikan langkahnya. Namun, tekad kuat membawanya bangkit. Kini, ia tercatat sebagai mahasiswa program doktor (S3) di Institut Teknologi Bandung, sekaligus awardee beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.

Kisah Ramli bukan sekadar cerita tentang prestasi akademik, melainkan tentang ketahanan mental, keberanian menghadapi keterbatasan, dan semangat untuk menembus batas.

Nyaris Putus Kuliah

Ramli lahir dengan kondisi disabilitas yang membuatnya harus berjuang lebih keras dibandingkan kebanyakan mahasiswa lain. Aksesibilitas kampus, keterbatasan fasilitas, hingga tantangan finansial menjadi bagian dari kesehariannya.

Pada satu titik, tekanan akademik dan situasi ekonomi sempat membuatnya mempertimbangkan untuk menghentikan studi. Biaya hidup yang meningkat dan kurangnya dukungan membuat masa depan terasa samar.

“Saya hampir menyerah,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan berbagi cerita. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, Ramli memilih bertahan.

Titik Balik Kehidupan

Momentum perubahan datang ketika ia menemukan informasi mengenai beasiswa LPDP. Program ini membuka kesempatan bagi mahasiswa berprestasi, termasuk penyandang disabilitas, untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan dukungan pembiayaan penuh.

Proses seleksi bukan perkara mudah. Selain memenuhi syarat akademik, Ramli harus melewati tahapan administrasi, tes potensi, hingga wawancara. Ia mempersiapkan diri dengan tekun, memperbaiki proposal riset, serta memperkuat motivasi studinya.

Kerja keras itu berbuah manis. Ramli dinyatakan lolos sebagai awardee LPDP, sebuah pencapaian yang mengubah arah hidupnya.

Melanjutkan S3 di ITB

Kesempatan tersebut membawanya melanjutkan studi doktoral di Institut Teknologi Bandung. ITB dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, dengan tradisi riset yang kuat.

Lingkungan akademik yang kompetitif tidak membuat Ramli gentar. Ia justru melihatnya sebagai ruang untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang bagi pencapaian intelektual.

Di program S3, ia fokus pada penelitian yang relevan dengan bidang keahliannya. Komitmennya terhadap riset membuatnya semakin percaya diri menatap masa depan.

Tantangan Sebagai Mahasiswa Difabel

Meski telah mendapatkan beasiswa, tantangan tidak serta-merta hilang. Aksesibilitas fasilitas kampus dan mobilitas sehari-hari tetap menjadi isu yang perlu dihadapi.

Namun, Ramli memilih memandang tantangan tersebut sebagai peluang advokasi. Ia aktif menyuarakan pentingnya kampus inklusif yang ramah difabel, baik dari sisi infrastruktur maupun kebijakan akademik.

Baginya, pendidikan harus menjadi hak yang setara bagi semua, tanpa diskriminasi.

Dukungan Keluarga dan Lingkungan

Di balik kesuksesannya, terdapat dukungan keluarga yang tak pernah surut. Orang tua dan kerabat menjadi sumber motivasi utama saat ia berada di titik terendah.

Lingkungan akademik di ITB pun memberikan ruang inklusif bagi Ramli untuk berkembang. Rekan mahasiswa dan dosen pembimbing turut mendukung perjalanan risetnya.

Sinergi dukungan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa keberhasilan bukan hasil perjuangan individu semata, melainkan kolaborasi banyak pihak.

LPDP dan Akses Pendidikan Inklusif

Program beasiswa LPDP selama ini dikenal membuka peluang bagi berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa difabel. Pendekatan inklusif ini menjadi langkah penting dalam pemerataan akses pendidikan tinggi.

Dengan dukungan pembiayaan dan pengembangan kapasitas, awardee memiliki kesempatan fokus pada studi tanpa terbebani persoalan finansial.

Kisah Ramli menjadi contoh konkret bagaimana kebijakan pendidikan yang tepat dapat mengubah nasib seseorang secara signifikan.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Perjalanan Ramli memberikan pesan kuat kepada generasi muda Indonesia: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Ia membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan menuju pencapaian tertinggi. Dari hampir putus kuliah hingga menempuh S3, perjalanan tersebut bukanlah proses instan.

Konsistensi belajar, keberanian menghadapi kegagalan, serta kemauan memperbaiki diri menjadi fondasi utama kesuksesannya.

Membangun Pendidikan yang Setara

Kisah ini juga menjadi refleksi bagi institusi pendidikan untuk terus meningkatkan aksesibilitas dan inklusivitas. Kampus ramah difabel bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga budaya akademik yang menghargai keberagaman.

Pendidikan inklusif menciptakan ruang di mana setiap individu dapat berkembang sesuai potensinya. Dengan demikian, keberhasilan seperti yang diraih Ramli bukan lagi pengecualian, melainkan hal yang lazim.

Menatap Masa Depan

Kini, sebagai mahasiswa doktoral di ITB, Ramli menatap masa depan dengan optimisme. Ia berharap penelitiannya kelak memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Lebih dari itu, ia ingin menjadi simbol harapan bagi penyandang disabilitas lain yang mungkin tengah berjuang di bangku pendidikan.

Perjalanan Ramli menunjukkan bahwa kegagalan dan keputusasaan bukan akhir dari segalanya. Dengan dukungan yang tepat dan tekad yang kuat, pintu kesempatan selalu terbuka.

Kisah ini bukan sekadar cerita inspiratif, melainkan pengingat bahwa pendidikan memiliki kekuatan transformatif. Dari hampir menyerah hingga menapaki jenjang doktoral, Ramli membuktikan bahwa batas terbesar sering kali bukan pada kondisi fisik, melainkan pada keberanian untuk terus melangkah.


Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/