Kisah Ainun, Pengajar Tunanetra Raih S2
Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi Ainun untuk terus mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi. Pengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tasikmalaya tersebut berhasil menyelesaikan studi magister Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.
Pencapaian ini menjadi babak baru dalam perjalanan akademiknya. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana sekitar 20 tahun lalu, Ainun kembali ke almamaternya untuk memperdalam ilmu yang berkaitan langsung dengan pekerjaan yang selama ini dijalaninya.
Kisah Ainun bukan hanya tentang keberhasilan meraih gelar magister. Perjalanannya juga menggambarkan perubahan besar dalam pemanfaatan teknologi bagi penyandang disabilitas netra, sekaligus menyoroti pentingnya lingkungan pendidikan yang dapat diakses oleh semua mahasiswa.
Dalam pemberitaan resmi UPI pada 16 Oktober 2026, Ainun menceritakan pengalaman menjalani perkuliahan, tantangan aksesibilitas, serta harapannya terhadap pendidikan bagi penyandang disabilitas. <Cite refs={[“turn255856search0”]}/>
Melanjutkan Studi Setelah Dua Dekade
Ainun sebelumnya menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sejarah di UPI. Setelah menyelesaikan jenjang sarjana, ia langsung bekerja sebagai pengajar di SLB.
Pengalaman mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus membuatnya semakin memahami pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu. Kesempatan melanjutkan studi kemudian dimanfaatkan untuk memperdalam pengetahuan di bidang yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Ainun memilih program S2 Pendidikan Khusus agar latar belakang akademiknya semakin sejalan dengan pengalaman profesionalnya. Keputusan tersebut menunjukkan keinginannya untuk terus belajar sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Melanjutkan pendidikan setelah bertahun-tahun bekerja tentu membutuhkan penyesuaian. Mahasiswa pascasarjana harus membagi waktu antara perkuliahan, tugas akademik, dan tanggung jawab lain di luar kampus.
Bagi Ainun, tantangan tersebut juga berkaitan dengan akses terhadap materi pembelajaran dan teknologi yang digunakan selama kuliah. Meski demikian, ia mampu melewati proses akademik hingga menyelesaikan program magisternya.
Perbedaan Teknologi Saat S1 dan S2
Salah satu bagian penting dari perjalanan Ainun adalah perubahan teknologi pendukung bagi penyandang disabilitas netra.
Ketika menempuh pendidikan sarjana sekitar dua dekade lalu, fasilitas teknologi yang dapat membantu mahasiswa tunanetra belum berkembang seperti sekarang. Ainun masih bergantung pada bantuan orang lain untuk membacakan materi perkuliahan.
Ketergantungan tersebut membuat proses belajar membutuhkan waktu dan koordinasi tambahan. Materi tertulis yang dapat dibaca secara langsung oleh mahasiswa lain belum tentu bisa diakses Ainun secara mandiri.
Situasinya berubah ketika ia kembali menjalani pendidikan magister. Ainun menggunakan laptop dengan perangkat pembaca layar NVDA atau NonVisual Desktop Access. Teknologi tersebut memungkinkan teks pada layar dibacakan melalui suara sehingga pengguna dapat mengakses informasi digital dan mengoperasikan komputer dengan lebih mandiri.
Dengan bantuan pembaca layar, Ainun bisa mengetik, membaca materi yang kompatibel, serta menyelesaikan tugas perkuliahan tanpa selalu meminta bantuan orang lain.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi aksesibel dapat membuka kesempatan lebih luas bagi penyandang disabilitas. Perangkat yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna membantu mereka mengerjakan aktivitas akademik secara lebih mandiri.
Namun, manfaat teknologi tetap bergantung pada kesesuaian dokumen, aplikasi, dan situs web yang digunakan. Sistem digital yang tidak dirancang secara aksesibel masih dapat menimbulkan hambatan bagi pengguna pembaca layar.
Menjalani Perkuliahan dengan Sistem Campuran
Ainun mengikuti program magister melalui kelas kerja sama dengan sistem pembelajaran campuran atau blended learning. Metode ini menggabungkan kegiatan belajar daring dan tatap muka.
Sebagian besar perkuliahan berlangsung secara daring, sedangkan pertemuan langsung di kampus dilaksanakan beberapa kali dalam satu semester.
Sistem tersebut memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran tanpa harus selalu datang ke kampus. Bagi Ainun, pembelajaran daring juga memungkinkan penggunaan perangkat teknologi pendukung selama materi dan platform perkuliahan dapat diakses dengan baik.
Meski demikian, pembelajaran digital tidak otomatis menghilangkan semua hambatan. Situs web yang tidak kompatibel dengan pembaca layar dapat menyulitkan mahasiswa ketika mengakses informasi atau menyelesaikan proses administrasi.
Pengalaman Ainun memperlihatkan bahwa penyelenggaraan pendidikan modern perlu memperhatikan aksesibilitas sejak tahap perancangan. Materi kuliah, formulir, sistem pengumpulan tugas, dan portal akademik harus dapat digunakan oleh mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam.
Aksesibilitas Digital Masih Menjadi Tantangan
Di tengah kemajuan teknologi, Ainun masih menemukan kendala ketika menggunakan sejumlah layanan digital di lingkungan kampus.
Ia menyampaikan bahwa beberapa bagian situs web UPI belum sepenuhnya ramah bagi pengguna pembaca layar. Kendala tersebut pernah dirasakan ketika mengunggah tugas maupun mengirimkan tesis melalui tautan repositori.
Bagi pengguna yang mengandalkan pembaca layar, informasi pada laman web harus tersusun dengan jelas dan dapat dikenali oleh teknologi bantu. Tombol, kolom isian, menu navigasi, serta instruksi perlu memiliki penanda yang tepat agar dapat dioperasikan tanpa bantuan visual.
Ketika elemen tersebut tidak terbaca, pengguna bisa kesulitan menyelesaikan tugas yang bagi pengguna lain relatif sederhana.
Ainun menilai aksesibilitas internet perlu mengikuti standar yang sesuai agar penyandang disabilitas netra dapat menggunakan layanan digital dengan baik.
Di sisi lain, ia mengapresiasi keramahan orang-orang yang ditemuinya di lingkungan UPI. Fasilitas kampus juga dinilainya cukup membantu, meskipun kondisi fisik seperti banyaknya tangga tetap menuntut kehati-hatian.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa aksesibilitas pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penerimaan mahasiswa penyandang disabilitas. Dukungan juga perlu hadir dalam bentuk fasilitas fisik, layanan administrasi, dan sistem digital yang dapat digunakan secara mandiri.
Beradaptasi Kembali dengan Lingkungan Kampus
Setelah lama tidak menjalani kegiatan akademik di kampus, Ainun harus menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan UPI.
Kondisi kampus telah mengalami perubahan dibandingkan saat ia menempuh pendidikan sarjana. Penambahan gedung dan perubahan tata ruang membuatnya perlu mempelajari kembali orientasi serta mobilitas di lingkungan kampus.
Bagi penyandang disabilitas netra, kemampuan mengenali jalur, posisi bangunan, dan lingkungan sekitar merupakan bagian penting dari mobilitas yang aman.
Perubahan lingkungan yang cukup besar dapat membuat seseorang perlu waktu untuk membangun kembali pemahaman mengenai tata letak kampus. Karena itu, informasi arah yang mudah diakses dan lingkungan yang aman dapat membantu mahasiswa berkegiatan dengan lebih percaya diri.
Kisah Ainun juga memperlihatkan bahwa kemandirian bukan berarti seseorang tidak membutuhkan dukungan. Lingkungan yang aksesibel justru membantu setiap orang menggunakan kemampuan yang dimiliki secara optimal.
Pesan Ainun untuk Penyandang Disabilitas
Ainun mengajak mahasiswa penyandang disabilitas, terutama generasi muda, untuk tetap bersemangat belajar dan mengikuti perkembangan teknologi informasi.
Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi bekal penting untuk membuka akses terhadap pengetahuan dan meningkatkan kemandirian. Teknologi dapat membantu penyandang disabilitas mengakses informasi yang sebelumnya sulit dijangkau.
Ia juga menyampaikan pesan kepada orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas agar tidak kehilangan harapan dan tetap memberikan kesempatan pendidikan setinggi mungkin.
Dalam pengalamannya sebagai pengajar, Ainun masih menemukan peserta didik yang menghadapi stigma negatif di masyarakat. Penyandang disabilitas terkadang dipandang sebelah mata atau dianggap memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan orang tanpa disabilitas.
Padahal, setiap individu memiliki potensi yang dapat berkembang apabila memperoleh kesempatan belajar, latihan, dan dukungan yang tepat.
Pendidikan dan teknologi, menurut Ainun, memiliki peran penting untuk membantu penyandang disabilitas mengembangkan kemampuan serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Pendidikan Inklusif Membutuhkan Dukungan Nyata
Keberhasilan Ainun menyelesaikan pendidikan magister menjadi contoh bahwa kesempatan belajar dapat terus terbuka bagi penyandang disabilitas. Namun, pengalaman yang ia ceritakan juga menunjukkan bahwa perjuangan menuju pendidikan yang setara belum selesai.
Perguruan tinggi perlu memastikan sistem akademik dapat digunakan oleh mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam. Hal tersebut mencakup penyediaan materi pembelajaran yang aksesibel, portal akademik yang kompatibel dengan teknologi bantu, serta lingkungan kampus yang aman.
Pengembang teknologi dan pengelola layanan digital juga memiliki peran penting dalam memastikan bahwa situs web serta aplikasi tidak menciptakan hambatan baru bagi pengguna penyandang disabilitas.
Sementara itu, masyarakat perlu menghindari stigma dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Kisah Ainun menegaskan bahwa keterbatasan penglihatan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan tinggi. Dengan ketekunan, dukungan yang tepat, dan teknologi yang aksesibel, kesempatan untuk berkembang dapat terbuka lebih luas.
Keberhasilannya meraih gelar magister bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan yang inklusif membutuhkan komitmen bersama agar setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dan meraih masa depan.
Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/
