Nama Clarissa Aurelia Nahid Saputra menjadi perhatian setelah kisahnya melanjutkan pendidikan di University of California San Diego atau UC San Diego, Amerika Serikat, melalui dukungan Beasiswa Garuda Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atau Kemdiktisaintek.
Mahasiswa asal Jakarta tersebut tidak hanya menjalani aktivitas akademik. Saat memasuki tahun pertama perkuliahan, Clarissa bersama rekan-rekannya juga mengembangkan Clean AI Labs, sebuah startup berbasis kecerdasan buatan yang menyasar kebutuhan perusahaan.
Kisah tersebut menunjukkan bagaimana kesempatan pendidikan di luar negeri dapat berjalan beriringan dengan aktivitas riset dan pengembangan bisnis teknologi.
Kemdiktisaintek dalam keterangan pada 29 September 2026 menyebut Clarissa sebagai salah satu penerima Beasiswa Garuda Batch 1 tahun 2025. Beasiswa tersebut menjadi dukungan bagi Clarissa untuk melanjutkan pendidikan sarjana di Amerika Serikat.
Diterima 14 Kampus Luar Negeri
Sebelum akhirnya memilih UC San Diego, Clarissa mendapatkan kesempatan dari sejumlah perguruan tinggi luar negeri.
Dalam wawancara dengan detikEdu, Clarissa menyebut dirinya memperoleh 14 Letter of Acceptance (LoA) dari kampus di berbagai negara. Beberapa di antaranya adalah National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC), UC Davis, University of Edinburgh, dan King’s College London.
Pilihan akhirnya jatuh kepada UC San Diego.
Clarissa menjelaskan bahwa salah satu pertimbangan memilih kampus tersebut adalah lingkungan akademik yang berkaitan dengan robotika. Ia juga melihat California sebagai lingkungan yang mendukung pengembangan teknologi dan startup.
Keputusan tersebut membuat perjalanan pendidikannya tidak berhenti pada ruang kelas.
Berawal dari Prestasi di Sekolah
Portofolio Clarissa mulai terbentuk sejak masih menjadi siswa SMA Unggulan MH Thamrin.
Ia mengikuti berbagai kegiatan akademik, termasuk kompetisi fisika. Dalam wawancara yang dikutip detikEdu, Clarissa menyebut pernah mengikuti International Physics Olympiad dan menjadi wakil ketua OSIS di sekolahnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari portofolio ketika dirinya mempersiapkan pendaftaran ke berbagai universitas luar negeri.
Banyaknya LoA yang diperoleh juga membuat Clarissa memiliki sejumlah pilihan sebelum menentukan kampus tujuan.
Pada akhirnya, minat terhadap robotika dan ekosistem teknologi menjadi salah satu pertimbangan yang mengarahkannya ke UC San Diego.
Mengenal Beasiswa Garuda
Clarissa pertama kali mengetahui Beasiswa Garuda melalui partisipasinya dalam program persiapan Beasiswa Indonesia Maju.
Dalam keterangan resmi Kemdiktisaintek, Clarissa mengatakan informasi mengenai penerimaan Beasiswa Garuda datang berdekatan dengan penerimaan beasiswa lain. Ia kemudian memilih Beasiswa Garuda karena program tersebut memberikan kesempatan untuk belajar di Amerika Serikat, khususnya UC San Diego.
Beasiswa Garuda sendiri merupakan program beasiswa bergelar yang ditujukan untuk memberikan akses pendidikan kepada putra-putri Indonesia untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi terbaik dunia.
Program tersebut didukung melalui pendanaan Dana Abadi Pendidikan yang dikelola LPDP dan dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek.
Biaya Kuliah hingga Biaya Hidup
Beasiswa Garuda tidak hanya memberikan dukungan untuk biaya pendidikan.
Dalam panduan resmi Beasiswa Garuda Sarjana, komponen pendanaan mencakup biaya SPP atau tuition fee, biaya pendaftaran, serta tunjangan buku.
Penerima juga mendapatkan sejumlah dana pendukung, antara lain transportasi, aplikasi visa, asuransi kesehatan, biaya kedatangan, biaya hidup bulanan, dan biaya keadaan darurat atau force majeure.
Dukungan tersebut dirancang untuk membantu penerima menjalani pendidikan di luar negeri sejak tahap persiapan keberangkatan hingga masa studi.
Dalam kasus Clarissa, dukungan Beasiswa Garuda turut mencakup proses persiapan administratif sebelum keberangkatan ke Amerika Serikat.
Menurut Clarissa, tim Beasiswa Garuda membantu proses administrasi seperti pembuatan dokumen resmi dan menghubungkan penerima dengan kedutaan setempat.
Bangun Startup di Tahun Pertama
Di tengah kesibukan kuliah, Clarissa bersama rekan-rekannya mengembangkan Clean AI Labs.
Startup tersebut bergerak pada model bisnis B2B dan menggunakan teknologi untuk membantu perusahaan menemukan calon pembeli berdasarkan data nyata dari aktivitas bisnis.
Kemdiktisaintek menjelaskan bahwa data yang digunakan antara lain berkaitan dengan pengiriman, perizinan, dan pergantian pemasok. Dengan pendekatan tersebut, Clean AI Labs berupaya membantu perusahaan menemukan prospek bisnis melalui data yang tersedia.
Pengembangan startup dilakukan ketika Clarissa baru menjalani tahun pertama kuliahnya.
Aktivitas tersebut membuat rutinitas Clarissa tidak hanya berisi perkuliahan. Ia juga terlibat dalam pengembangan produk dan bisnis bersama timnya.
Tetap Menjaga Prestasi Akademik
Menjalankan kuliah sekaligus membangun startup bukan pekerjaan sederhana.
Dalam wawancara dengan detikEdu, Clarissa mengakui bahwa membagi waktu antara kuliah dan startup cukup sulit. Meski demikian, laporan tersebut menyebut Clarissa mampu mencatat IPK 3,96 selama menjalani studi di UC San Diego. Ia juga aktif membantu riset yang berkaitan dengan robotika.
Clarissa mengungkapkan salah satu pendekatan yang digunakan adalah menetapkan tujuan besar sejak awal, kemudian menyusun langkah yang diperlukan untuk mencapainya.
Metode tersebut membuat aktivitas akademik, riset, dan startup ditempatkan dalam perencanaan yang lebih terstruktur.
Startup Dapat Pendanaan
Perkembangan Clean AI Labs kemudian memasuki tahap berikutnya setelah memperoleh pendanaan.
Menurut keterangan resmi Kemdiktisaintek, startup yang dikembangkan Clarissa dan rekan-rekannya mendapatkan pendanaan US$50.000 dari Jackson Square Ventures serta US$500.000 dari Y Combinator.
Pendanaan tersebut menjadi bagian dari perkembangan Clean AI Labs sebagai startup teknologi yang dikembangkan di lingkungan Silicon Valley.
Y Combinator sendiri dikenal sebagai salah satu akselerator startup yang memiliki jaringan perusahaan teknologi dari berbagai negara.
Bagi Clarissa, perkembangan startup berlangsung bersamaan dengan perjalanan akademiknya di Amerika Serikat.
Beasiswa Bukan Hanya Soal Finansial
Setelah menjalani tahun pertama, Clarissa melihat Beasiswa Garuda bukan hanya sebagai dukungan biaya pendidikan.
Dalam keterangan Kemdiktisaintek, ia mengatakan program tersebut juga membantunya bertemu dengan penerima beasiswa lain dan membangun lingkungan pertemanan yang saling mendukung.
Interaksi dengan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat menjadi bagian dari pengalaman sosial selama menjalani studi.
Ia juga memperoleh pengalaman akademik melalui riset robotika dan kegiatan seperti hackathon. Berbagai aktivitas tersebut memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan akademik serta teknologi yang berbeda dari pengalaman sebelumnya di Indonesia.
Menyiapkan Langkah Berikutnya
Perjalanan Clarissa di UC San Diego masih berlangsung. Setelah melewati tahun pertama, ia memiliki sejumlah rencana untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan profesionalnya.
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana jalur pendidikan, beasiswa, riset, dan kewirausahaan dapat berjalan secara bersamaan.
Clarissa datang ke UC San Diego dengan pengalaman akademik dan organisasi dari Indonesia. Setelah memperoleh dukungan Beasiswa Garuda, ia kemudian memasuki lingkungan pendidikan Amerika Serikat sekaligus membangun startup bersama rekan-rekannya.
Clean AI Labs menjadi salah satu proyek yang berkembang selama masa tersebut.
Bagi penerima beasiswa, pengalaman Clarissa juga menunjukkan bahwa pendidikan di luar negeri dapat menjadi ruang untuk membangun jejaring dan mengembangkan proyek di luar kegiatan perkuliahan.
Sementara bagi program Beasiswa Garuda, kisah Clarissa menjadi salah satu contoh penerima yang memanfaatkan kesempatan studi di luar negeri sekaligus mengembangkan minat pada bidang teknologi dan kewirausahaan.
Dengan perjalanan akademik yang masih panjang, perkembangan Clarissa dan Clean AI Labs akan menjadi bagian berikutnya dari kisah talenta muda Indonesia yang menempuh pendidikan di lingkungan teknologi global.
Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/
