Daftar Isi
- 1 Bahasa yang Diucapkan Orang Tua Membentuk Cara Anak Memandang Matematika
- 2 Tekanan Verbal Bisa Memicu Kecemasan Matematika
- 3 Keyakinan Orang Tua Juga Menular pada Anak
- 4 Peran Bahasa Positif dalam Meningkatkan Prestasi
- 5 Mengajarkan Matematika Harus Tanpa Perbandingan
- 6 Cara Orang Tua Mengajarkan Matematika Mempengaruhi Hubungan Emosional
- 7 Lingkungan Belajar yang Aman Menciptakan Anak yang Percaya Diri
- 8 Dukung Anak dengan Pertanyaan, Bukan Instruksi Keras
- 9 Penutup
Peran orang tua dalam pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan menyediakan fasilitas belajar atau memotivasi mereka untuk rajin belajar. Lebih dari itu, bagaimana orang tua berbicara kepada anak saat mengajarkan suatu pelajaran—terutama matematika—ternyata memiliki dampak signifikan pada perkembangan akademik anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemilihan kata, intonasi, hingga ekspresi yang muncul selama proses belajar dapat memengaruhi kepercayaan diri dan persepsi anak terhadap pelajaran tersebut.
Matematika sering menjadi pelajaran yang dianggap menantang. Bagi sebagian anak, matematika bahkan menjadi sumber kecemasan. Menariknya, kecemasan itu kerap datang bukan dari kesulitan konsep, melainkan dari cara orang tua memberikan bimbingan.
Bahasa yang Diucapkan Orang Tua Membentuk Cara Anak Memandang Matematika
Dalam psikologi pendidikan, dikenal istilah math anxiety, yaitu kecemasan yang muncul ketika anak menghadapi operasi matematika. Salah satu pemicunya adalah respons orang tua saat mendampingi anak belajar. Ketika orang tua menggunakan kata-kata negatif seperti “Ini mudah banget, masa kamu nggak bisa?” atau “Dulu Mama juga nggak suka matematika”, ucapan tersebut dapat merusak rasa percaya diri anak.
Sebaliknya, ucapan yang mendukung seperti “Kita coba pelan-pelan, kamu pasti bisa memahami ini” membantu anak merasa aman dan lebih yakin untuk mencoba.
Menurut beberapa studi, anak-anak yang sering mendengar kata-kata bernada meremehkan, menyudutkan, atau bernuansa tekanan cenderung memiliki performa akademik yang lebih rendah meskipun secara kognitif mereka mampu.
Tekanan Verbal Bisa Memicu Kecemasan Matematika
Komunikasi yang tidak tepat dapat membuat matematika terasa menakutkan. Banyak orang tua tanpa sadar menekan anak dengan ucapan:
- “Salah lagi, fokus dong!”
- “Kamu tuh kurang teliti!”
- “Ayo cepat, jangan lama-lama!”
Meski tampak sepele, kalimat seperti ini meningkatkan stres anak. Otak yang tertekan akan sulit mencerna informasi, termasuk konsep matematika yang membutuhkan ketenangan dan konsentrasi.
Dalam proses belajar, matematika adalah pelajaran yang sangat mengandalkan kepercayaan diri. Ketika anak merasa takut salah, mereka cenderung berhenti mencoba. Hal inilah yang kemudian merusak kemampuan akademik secara bertahap.
Keyakinan Orang Tua Juga Menular pada Anak
Selain ucapan langsung, sikap orang tua terhadap matematika juga memengaruhi persepsi anak. Jika orang tua menganggap matematika sebagai pelajaran “mengerikan” atau “tidak penting”, anak akan menyerap keyakinan tersebut.
Peneliti menyebut fenomena ini sebagai belief transfer—di mana keyakinan dan sikap orang tua berpindah ke anak melalui interaksi sehari-hari.
Misalnya, ketika orang tua berkata, “Mama dulu juga nggak jago matematika, jadi wajar kalau kamu susah,” anak menangkap bahwa ketidakmampuan itu normal dan bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan.
Padahal, meski orang tua kurang menguasai matematika, mereka tetap bisa menciptakan lingkungan belajar yang positif dengan menggunakan kalimat-kalimat dukungan.
Peran Bahasa Positif dalam Meningkatkan Prestasi
Kata-kata orang tua bisa menjadi motivator yang kuat. Penelitian menunjukkan bahwa bahasa positif berpengaruh langsung pada:
- Rasa percaya diri anak
Anak lebih berani mencoba soal sulit. - Pemahaman konsep
Anak lebih rileks sehingga penyerapan materi lebih baik. - Daya tahan terhadap kegagalan
Anak tidak mudah putus asa ketika salah. - Sikap jangka panjang terhadap matematika
Anak membentuk persepsi bahwa matematika dapat dipelajari dan tidak perlu ditakuti.
Contoh ucapan positif yang direkomendasikan:
- “Kamu sudah berusaha, yuk coba lagi.”
- “Salah itu bagian dari belajar.”
- “Kita cari cara yang lebih gampang, ya.”
- “Kamu makin hebat setiap hari.”
Kalimat seperti ini memberikan ruang bagi anak untuk berkembang.
Mengajarkan Matematika Harus Tanpa Perbandingan
Salah satu hal yang sering dilakukan orang tua adalah membandingkan anak dengan teman atau saudaranya. Misalnya:
- “Kakak waktu seusiamu sudah bisa perkalian!”
- “Temanmu saja bisa, masa kamu tidak?”
Perbandingan seperti ini membuat anak merasa kurang berharga. Alih-alih termotivasi, mereka justru merasa tidak mampu.
Para psikolog menyarankan orang tua fokus pada perkembangan anak sendiri, bukan membandingkannya dengan anak lain. Pendekatan individual lebih efektif, terutama untuk pelajaran seperti matematika yang membutuhkan proses bertahap.
Cara Orang Tua Mengajarkan Matematika Mempengaruhi Hubungan Emosional
Penting untuk memahami bahwa belajar bukan hanya proses kognitif, tetapi juga emosional. Ketika anak merasa tegang atau takut saat belajar bersama orang tuanya, hubungan keduanya dapat ikut terpengaruh.
Sebagian anak bahkan enggan belajar dengan orang tuanya karena takut dimarahi atau dikritik. Hal ini menciptakan jarak emosional dan membuat proses belajar menjadi beban.
Sebaliknya, ketika belajar menjadi momen menyenangkan, kolaboratif, dan penuh dukungan, anak akan merasa nyaman dan lebih terbuka.
Lingkungan Belajar yang Aman Menciptakan Anak yang Percaya Diri
Selain kata-kata, lingkungan belajar yang tenang dan bebas tekanan juga penting. Orang tua perlu menyediakan suasana yang:
- Tidak penuh gangguan
- Tidak disertai amarah atau nada tinggi
- Mengutamakan proses, bukan hasil
- Memberi jeda ketika anak merasa lelah
Dengan lingkungan yang aman secara emosional, anak lebih mudah menyerap konsep matematika tanpa rasa takut.
Dukung Anak dengan Pertanyaan, Bukan Instruksi Keras
Teknik bertanya merupakan salah satu metode pedagogis efektif. Dibanding memberi perintah, orang tua dapat memandu anak dengan pertanyaan seperti:
- “Menurut kamu langkah selanjutnya apa?”
- “Kenapa hasilnya bisa seperti ini?”
- “Kita bisa cek dengan cara lain tidak?”
Cara ini melatih kemampuan berpikir kritis dan membuat anak merasa dilibatkan, bukan dikendalikan.
Penutup
Kata-kata orang tua memainkan peran besar dalam perjalanan akademik anak, khususnya dalam pelajaran matematika. Ucapan yang mendukung dapat menumbuhkan rasa percaya diri, sementara bahasa bernada negatif dapat menghancurkan motivasi dan memicu kecemasan.
Dengan memilih kata yang tepat, memberi dukungan emosional, dan menciptakan lingkungan belajar yang positif, orang tua dapat membantu anak melihat matematika sebagai pelajaran yang menarik dan dapat diatasi, bukan sebagai sumber ketakutan.
Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/
