Site icon UnpriEdu

Dua Buku Mu’ti Masuk Oxford

Oxford

Dua karya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti resmi masuk dalam koleksi perpustakaan Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS), Inggris.

Kedua buku tersebut tidak membahas kebijakan pendidikan terbaru yang sedang dijalankan pemerintah. Isinya justru berangkat dari kajian mengenai keberagaman agama, pendidikan, serta pengalaman Muhammadiyah dalam mengelola lembaga pendidikan di tengah masyarakat yang majemuk.

Dua buku yang dimaksud adalah Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan dan Pluralisme Positif: Gagasan dan Pengalaman Muhammadiyah dalam Pendidikan.

Keduanya diserahkan kepada OCIS pada Selasa, 22 September 2026. Setelah melalui proses katalogisasi, buku tersebut dapat ditemukan melalui katalog daring SOLO yang digunakan perpustakaan-perpustakaan Universitas Oxford dan tersedia bagi pembaca di ruang baca OCIS.

Buku Pertama Bahas Kristen Muhammadiyah

Gagasan utama buku tersebut berasal dari penelitian mengenai siswa dan mahasiswa Kristen serta Katolik yang menempuh pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi Muhammadiyah.

Penelitian dilakukan antara lain di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah yang memiliki populasi Muslim sebagai kelompok minoritas.

Salah satu persoalan yang dibahas adalah bagaimana lembaga pendidikan dapat mengelola keberagaman agama tanpa menghilangkan identitas keyakinan masing-masing peserta didik.

Dalam praktik yang digambarkan buku tersebut, siswa Kristen dan Katolik yang belajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah tetap mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan keyakinannya.

Pendekatan tersebut juga dikaitkan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya mengenai hak peserta didik memperoleh pendidikan agama sesuai agama yang dianutnya.

Pendidikan Menjadi Ruang Pertemuan

Dari penelitian tersebut, buku Kristen Muhammadiyah tidak sekadar mencatat keberadaan siswa non-Muslim di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Buku ini melihat pendidikan sebagai ruang tempat masyarakat dengan latar belakang berbeda dapat berinteraksi.

Kemajemukan menjadi kenyataan yang harus dikelola dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi.

Hal tersebut menjadi relevan karena lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan. Sekolah juga menjadi tempat peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang mungkin memiliki latar belakang agama, budaya, dan kondisi sosial berbeda.

Dalam konteks tersebut, pengalaman Muhammadiyah menjadi objek penelitian untuk melihat bagaimana perbedaan dapat dikelola tanpa mengharuskan seseorang kehilangan identitas keyakinannya.

Buku ini juga memiliki kaitan khusus dengan OCIS. Kata pengantarnya ditulis oleh almarhum Azyumardi Azra, akademisi Indonesia yang pernah menjadi fellow di Oxford Centre for Islamic Studies pada 1994-1995. Ia juga pernah menjadi anggota dewan penyunting Journal of Islamic Studies, yang diterbitkan OCIS bersama Oxford University Press.

Buku Kedua Angkat Pluralisme Positif

Buku kedua berjudul Pluralisme Positif: Gagasan dan Pengalaman Muhammadiyah dalam Pendidikan.

Karya tersebut ditulis Abdul Mu’ti bersama Azaki Khoirudin.

Katalog Perpustakaan Kemendikdasmen mencatat judul buku tersebut sebagai Pluralisme positif: konsep dan implementasi dalam pendidikan Muhammadiyah. Buku itu diterbitkan oleh Majelis Pustaka dan PP Muhammadiyah pada 2019, terdiri dari 207 halaman, dan memiliki ISBN 9786026097040.

Secara umum, buku ini membahas gagasan dan pengalaman Muhammadiyah dalam membangun kehidupan keberagamaan yang inklusif melalui pendidikan.

Konsep pluralisme menjadi bagian penting dalam pembahasannya. Pendidikan ditempatkan sebagai salah satu jalur untuk membangun kehidupan bersama di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan keyakinan yang beragam.

Dengan demikian, buku tersebut tidak hanya melihat pluralisme sebagai gagasan teoritis. Pengalaman yang berkembang dalam lingkungan pendidikan Muhammadiyah menjadi bagian dari pembahasan.

Mengapa Buku Ini Masuk Oxford?

Masuknya dua buku tersebut ke koleksi OCIS bukan berarti kedua karya tersebut memperoleh penilaian akademik tertentu dari Universitas Oxford.

Yang terjadi adalah buku telah diterima sebagai bagian dari koleksi perpustakaan setelah melewati proses seleksi dan katalogisasi.

OCIS sendiri merupakan lembaga kajian Islam yang berafiliasi dengan Universitas Oxford. Lembaga tersebut berdiri pada 1985 dan memiliki perpustakaan yang berfungsi sebagai koleksi rujukan bagi kajian Islam.

Menurut laporan yang mengutip penelusuran katalog SOLO, kedua buku Abdul Mu’ti tersebut tercatat sebagai karya menteri pendidikan Indonesia pertama yang masuk dalam koleksi perpustakaan OCIS.

Setelah dikatalogisasi, keberadaan buku tidak berhenti pada penyimpanan fisik. Katalog daring membuat informasi mengenai buku dapat ditemukan oleh peneliti dan pembaca yang menggunakan sistem perpustakaan Oxford.

Jejak Pemikiran Mu’ti

Dua buku yang kini masuk koleksi OCIS sebenarnya bukan karya baru yang ditulis Abdul Mu’ti setelah menjadi Mendikdasmen.

Keduanya merupakan bagian dari perjalanan pemikiran Mu’ti sebelum menduduki jabatan pemerintahan.

Katalog Perpustakaan Kemendikdasmen menunjukkan bahwa Kristen Muhammadiyah tersedia dalam koleksi perpustakaan pemerintah. Katalog tersebut mencatat edisi kedua buku dengan ISBN 9786233468046 dan tebal 240 halaman.

Sementara itu, Pluralisme Positif juga tercatat sebagai koleksi perpustakaan Kemendikdasmen dengan klasifikasi 297.77 yang berkaitan dengan kajian pluralisme dan agama.

Artinya, kedua buku tersebut telah memiliki rekam jejak sebagai karya yang membahas hubungan agama dan pendidikan jauh sebelum masuk dalam koleksi perpustakaan OCIS.

Pendidikan dan Keberagaman

Ada benang merah yang kuat di antara kedua buku tersebut, yakni pertanyaan mengenai bagaimana pendidikan dapat menjadi ruang bagi masyarakat yang berbeda latar belakang.

Sekolah dan perguruan tinggi berada di tengah masyarakat. Karena itu, persoalan keberagaman hampir tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan pendidikan.

Dalam konteks Indonesia, persoalan tersebut semakin relevan karena peserta didik berasal dari berbagai daerah, agama, budaya dan lingkungan sosial.

Pengalaman yang ditulis Mu’ti dan para penulis lainnya memberikan salah satu perspektif mengenai bagaimana lembaga pendidikan Muhammadiyah menghadapi kondisi tersebut.

Pendekatan yang digambarkan bukan dengan menghilangkan perbedaan, melainkan dengan mengelolanya melalui lingkungan pendidikan.

Bisa Dibaca Peneliti Oxford

Kini, dua karya tersebut memiliki ruang baru untuk menjangkau pembaca internasional.

Koleksi OCIS memungkinkan peneliti yang mempelajari Islam, pendidikan, Muhammadiyah, pluralisme maupun masyarakat Asia Tenggara menemukan kedua karya tersebut melalui katalog perpustakaan Oxford.

Bagi dunia akademik, keberadaan sebuah buku dalam koleksi perpustakaan juga berarti karya tersebut dapat menjadi bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.

Kedua buku Abdul Mu’ti menawarkan dokumentasi mengenai pengalaman pendidikan Muhammadiyah dalam menghadapi kemajemukan agama.

Bukan Sekadar Soal Buku

Masuknya dua karya Abdul Mu’ti ke perpustakaan Oxford akhirnya membawa perhatian kembali kepada isi buku yang telah ditulis beberapa tahun sebelumnya.

Kristen Muhammadiyah mengangkat pengalaman siswa dan mahasiswa Kristen serta Katolik yang belajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Sementara Pluralisme Positif membahas gagasan dan pengalaman Muhammadiyah dalam membangun kehidupan keberagamaan yang inklusif melalui pendidikan.

Keduanya bertemu pada satu tema besar: pendidikan sebagai ruang untuk mengelola keberagaman.

Kini, gagasan tersebut tidak hanya tersimpan dalam koleksi perpustakaan di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi dan katalogisasi, kedua buku itu menjadi bagian dari koleksi Oxford Centre for Islamic Studies dan dapat ditemukan melalui katalog perpustakaan Oxford.

Bagi pembaca dan peneliti, keberadaan dua karya tersebut membuka kesempatan untuk melihat pengalaman pendidikan Muhammadiyah dari perspektif yang lebih luas, sekaligus mengenal gagasan Abdul Mu’ti mengenai pluralitas, pendidikan dan kehidupan masyarakat yang beragam.



Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/

Exit mobile version