Daftar Isi
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 dipastikan membawa perubahan penting dalam dunia pendidikan dasar. Jika selama ini evaluasi pembelajaran identik dengan soal pilihan ganda, mulai 2026 pendekatan tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya andalan. Pemerintah menyiapkan format soal yang lebih beragam untuk mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh, baik di jenjang SD maupun SMP.
Kebijakan ini sejalan dengan upaya peningkatan kualitas asesmen pendidikan yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Fokus utama TKA 2026 bukan hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir, pemahaman konsep, serta kemampuan siswa menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.
TKA 2026 dan Perubahan Paradigma Asesmen
TKA dirancang sebagai alat ukur kemampuan akademik siswa yang lebih komprehensif. Berbeda dengan ujian konvensional, TKA menempatkan siswa sebagai subjek aktif yang ditantang untuk bernalar, menganalisis, dan menyampaikan gagasan.
Perubahan ini menandai pergeseran paradigma asesmen dari sekadar menghafal menuju pemahaman mendalam. Melalui variasi bentuk soal, pengajar dan sekolah diharapkan dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat tentang capaian belajar siswa.
Tidak Lagi Sekadar Pilihan Ganda
Pilihan ganda selama ini dianggap praktis dan mudah dinilai, namun memiliki keterbatasan. Model ini cenderung mengukur kemampuan mengenali jawaban, bukan memahami materi secara utuh. Dalam konteks TKA 2026, pilihan ganda tetap digunakan, tetapi tidak lagi menjadi format dominan.
Sebagai gantinya, TKA 2026 menghadirkan tiga bentuk soal utama yang dirancang untuk menguji berbagai aspek kemampuan akademik siswa SD dan SMP.
1. Soal Pilihan Ganda Kompleks
Berbeda dari pilihan ganda konvensional, soal pilihan ganda kompleks menuntut siswa menganalisis lebih dari satu informasi. Dalam satu soal, siswa dapat diminta memilih lebih dari satu jawaban yang benar, atau menentukan kombinasi jawaban berdasarkan data yang disajikan.
Format ini mendorong siswa untuk membaca soal dengan cermat, memahami konteks, dan tidak sekadar menebak. Di jenjang SD, soal ini disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif anak, sementara di SMP kompleksitasnya ditingkatkan melalui penggunaan grafik, tabel, atau wacana pendek.
2. Soal Isian Singkat
Bentuk soal kedua adalah isian singkat. Dalam format ini, siswa diminta menuliskan jawaban secara ringkas, baik berupa kata, frasa, angka, maupun kalimat pendek. Soal isian singkat dirancang untuk mengukur pemahaman konsep dasar dan ketepatan berpikir.
Keunggulan format ini terletak pada kemampuannya menilai sejauh mana siswa benar-benar memahami materi. Tidak ada opsi jawaban yang bisa ditebak, sehingga siswa harus mengandalkan pemahaman sendiri. Untuk SD, soal isian singkat biasanya berkaitan dengan konsep sederhana, sedangkan untuk SMP mulai mengarah pada penerapan konsep.
3. Soal Uraian atau Respons Terbuka
Soal uraian menjadi salah satu elemen penting dalam TKA 2026. Melalui soal ini, siswa diminta menjelaskan jawaban, mengemukakan alasan, atau memaparkan langkah penyelesaian masalah. Format ini dianggap paling efektif untuk mengukur kemampuan bernalar dan berargumentasi.
Di tingkat SD, soal uraian disusun dengan bahasa sederhana dan konteks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara di SMP, siswa mulai ditantang untuk menyusun jawaban yang lebih sistematis dan logis. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir yang ditunjukkan dalam jawaban.
Dampak bagi Siswa dan Pengajar
Penerapan tiga bentuk soal ini membawa konsekuensi bagi siswa dan pengajar. Bagi siswa, TKA 2026 menuntut kesiapan yang berbeda. Mereka tidak cukup hanya menghafal materi, tetapi harus memahami konsep dan mampu menjelaskannya kembali.
Bagi pengajar, perubahan ini menuntut penyesuaian strategi pembelajaran. Proses belajar di kelas perlu diarahkan pada diskusi, pemecahan masalah, dan latihan berpikir kritis. Pengajar juga diharapkan membiasakan siswa dengan berbagai jenis soal sejak dini, agar tidak kaget saat menghadapi TKA.
Mendorong Pembelajaran Bermakna
Salah satu tujuan utama TKA 2026 adalah mendorong pembelajaran bermakna. Dengan variasi bentuk soal, siswa diajak mengaitkan materi pelajaran dengan situasi nyata. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan yang menekankan relevansi dan pemahaman jangka panjang.
Asesmen tidak lagi dipandang sebagai momok, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Melalui TKA, siswa diharapkan mampu mengenali kekuatan dan kelemahan diri, sementara sekolah dapat menggunakan hasil asesmen sebagai dasar perbaikan pembelajaran.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski konsepnya dinilai positif, implementasi TKA 2026 bukan tanpa tantangan. Salah satu isu utama adalah kesiapan sumber daya, baik pengajar maupun sarana pendukung. Penilaian soal uraian, misalnya, memerlukan waktu dan standar penilaian yang jelas agar hasilnya objektif.
Selain itu, diperlukan sosialisasi yang masif kepada orang tua dan siswa agar perubahan format soal tidak menimbulkan kebingungan. Dukungan pelatihan bagi pengajar menjadi kunci agar tujuan TKA 2026 dapat tercapai secara optimal.
Kesimpulan
TKA 2026 menandai langkah penting dalam reformasi asesmen pendidikan di Indonesia. Dengan menghadirkan tiga bentuk soal—pilihan ganda kompleks, isian singkat, dan uraian—asesmen ini tidak lagi sekadar menguji hafalan, tetapi juga pemahaman dan penalaran siswa.
Perubahan ini diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang lebih bermakna di jenjang SD dan SMP. Jika diterapkan dengan baik, TKA 2026 dapat menjadi fondasi kuat bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional, sekaligus mempersiapkan generasi muda yang kritis dan adaptif menghadapi tantangan masa depan.
Sumber Artikel : https://edukasi.sindonews.com/
Sumber Gambar : https://edukasi.sindonews.com/
