Perjalanan pendidikan tinggi Mustapha Abolore Abdulwahab di Indonesia akhirnya sampai pada titik penting. Mahasiswa internasional asal Nigeria tersebut resmi menyelesaikan pendidikan sarjana di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Namun, kisah Mustapha tidak hanya tentang keberhasilannya meraih gelar sarjana. Selama tinggal dan menempuh pendidikan di Solo, ia juga berhasil beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya setempat. Bahkan, mahasiswa asal Nigeria tersebut kini mampu menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.
Kisah tersebut mencuat ketika Mustapha dipercaya menjadi perwakilan wisudawan untuk menyampaikan sambutan pada Wisuda UNS Periode VIII Tahun 2026, Sabtu, 26 September 2026.
Di hadapan pimpinan universitas, dosen, keluarga, dan para wisudawan, Mustapha membuka sambutannya dengan kalimat bahasa Jawa.
“Kok iso tekan kene, ya?” kata Mustapha, sebagaimana dikutip dari laman resmi UNS.
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan perjalanan seorang mahasiswa dari Nigeria yang datang ke Indonesia untuk kuliah, tetapi akhirnya ikut menyerap bahasa dan budaya masyarakat tempat ia tinggal.
Awalnya Bingung dengan Kebiasaan Warga
Mustapha mengisahkan bahwa ketika pertama kali tiba di Indonesia, ada satu kebiasaan masyarakat yang membuatnya cukup bingung.
Setiap kali keluar dari tempat tinggalnya, ia kerap ditanya hendak pergi ke mana. Pertanyaan tersebut bisa datang dari satpam, ibu kos, hingga tukang parkir.
Bagi Mustapha, kebiasaan itu berbeda dengan pengalaman hidupnya di Nigeria.
Ia bahkan sempat mengira banyaknya pertanyaan tersebut sebagai bentuk interogasi.
Namun, seiring berjalannya waktu, Mustapha mulai memahami bahwa pertanyaan seperti “Mas, mau ke mana?” merupakan bagian dari interaksi sosial masyarakat di sekitarnya.
Dalam bahasa Jawa yang lebih halus, pertanyaan tersebut dapat berubah menjadi “Badhe tindak pundi?”.
Pengalaman sederhana itu menjadi salah satu bagian menarik dari proses adaptasi Mustapha selama tinggal di Solo.
Ia bukan hanya belajar materi perkuliahan, tetapi juga mempelajari kebiasaan masyarakat, cara berkomunikasi, serta bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tiga Tahun Belajar Bahasa Indonesia
Kemampuan bahasa Mustapha sebenarnya tidak berhenti pada bahasa Jawa.
Sebelum menyelesaikan kuliah, ia juga sudah menunjukkan kemampuan berbahasa Indonesia dalam berbagai kegiatan.
Pada Festival Handai Indonesia (FHI) 2026, Mustapha berhasil meraih Juara 2 Lomba Berpidato Bahasa Indonesia. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Prestasi tersebut menjadi hasil dari proses belajar bahasa Indonesia yang telah dijalaninya selama sekitar tiga tahun.
Dalam kompetisi tersebut, Mustapha membawakan tema “Kesetaraan dalam Pendidikan”. Ia menyampaikan pentingnya akses pendidikan yang bermutu dan adil bagi setiap anak tanpa melihat asal maupun lokasi tempat tinggal.
Bagi Mustapha, belajar bahasa Indonesia bukan sekadar kebutuhan akademik.
Bahasa tersebut menjadi alat untuk berkomunikasi dengan masyarakat, mengikuti kegiatan kampus, membangun pertemanan, sekaligus memahami kehidupan di Indonesia.
Ia juga menilai salah satu hal menarik dari bahasa Indonesia adalah fleksibilitas susunan kata dalam percakapan.
Setelah berhasil meraih juara kedua FHI 2026, Mustapha memberikan pesan kepada mahasiswa internasional lainnya agar tidak menyerah dalam mempelajari bahasa Indonesia.
Menurutnya, bahasa Indonesia kini semakin memiliki ruang dalam pergaulan internasional.
Lulus dari Agroteknologi UNS
Di lingkungan akademik, Mustapha menempuh pendidikan di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNS.
Bidang tersebut membawanya pada berbagai kegiatan akademik dan penelitian. Namanya juga tercatat dalam salah satu publikasi ilmiah yang melibatkan mahasiswa dan akademisi Fakultas Pertanian UNS.
Dalam publikasi tersebut, Mustapha tercantum sebagai salah satu penulis penelitian mengenai media edukatif berbasis permainan interaktif untuk pembelajaran manajemen pemilahan sampah pada murid sekolah dasar.
Hal ini memperlihatkan bahwa pengalaman Mustapha di UNS tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sosial dan kemampuan bahasa.
Ia juga terlibat dalam kegiatan akademik yang berhubungan dengan lingkungan dan pendidikan.
Setelah melewati masa perkuliahan, Mustapha akhirnya menyandang status sebagai lulusan UNS.
Dipercaya Mewakili Wisudawan
Puncak perjalanan Mustapha di UNS terjadi ketika ia mendapat kepercayaan untuk menyampaikan sambutan mewakili wisudawan pada prosesi Wisuda Periode VIII Tahun 2026.
Kepercayaan tersebut menjadi momen penting karena ia merupakan mahasiswa internasional yang datang dari Nigeria.
Dalam pidatonya, Mustapha tidak hanya berbicara tentang keberhasilannya menyelesaikan pendidikan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua, dosen, pimpinan universitas, tenaga kependidikan, petugas kebersihan, laboran, hingga petugas keamanan yang menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa selama berada di kampus.
Menurut Mustapha, keberhasilan seorang mahasiswa mendapatkan gelar tidak bisa dilepaskan dari dukungan banyak pihak.
Ia juga menyampaikan pesan kepada para orang tua bahwa gelar yang diperoleh anak sebenarnya merupakan hasil dari doa dan dukungan mereka selama bertahun-tahun.
“Gelar Ini Milik Bapak dan Ibu”
Dalam sambutannya, Mustapha memberikan penghormatan kepada para orang tua wisudawan.
Ia menggambarkan toga yang dikenakan mahasiswa pada hari wisuda sebagai hasil dari perjuangan yang tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa.
Di balik satu hari wisuda, terdapat dukungan orang tua yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian emosional dalam pidatonya.
Mustapha juga mengingat kembali berbagai koreksi dari dosen yang dahulu mungkin terasa berat bagi mahasiswa.
Menurutnya, catatan dan koreksi tersebut pada akhirnya dapat dipahami sebagai bentuk perhatian dan proses pendidikan.
Bagi Mustapha, perguruan tinggi bukan sekadar tempat untuk memperoleh ijazah. Kampus juga menjadi ruang untuk membentuk karakter dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan setelah lulus.
Filosofi Jawa Jadi Bekal
Menariknya, Mustapha kemudian menggunakan filosofi Jawa untuk menyampaikan pesan kepada para lulusan.
Ia mengutip prinsip “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai bekerja dan berkarya tanpa terlalu mengedepankan kepentingan pribadi.
Bagi Mustapha, filosofi tersebut relevan dengan kehidupan para lulusan setelah meninggalkan kampus.
Setelah mendapatkan gelar, mereka akan menghadapi pertanyaan baru mengenai arah kehidupan dan kontribusi kepada masyarakat.
Ia mengibaratkan pertanyaan tersebut dengan ungkapan Jawa yang selama tinggal di Solo sudah sangat dikenalnya: “Badhe tindak pundi?” atau “Mau ke mana?”
Menurut Mustapha, ijazah dapat menjelaskan perjalanan akademik seseorang, tetapi arah kehidupan setelah wisuda ditentukan oleh tindakan yang dilakukan berikutnya.
Datang sebagai Tamu, Pulang sebagai Keluarga
Perjalanan Mustapha di UNS menunjukkan bahwa pengalaman mahasiswa internasional tidak berhenti pada ruang kelas.
Selama berada di Solo, ia berinteraksi dengan masyarakat, belajar bahasa Indonesia, memahami bahasa Jawa, mengikuti kompetisi, melakukan kegiatan akademik, dan membangun hubungan dengan lingkungan kampus.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Mustapha meninggalkan fase sebagai mahasiswa UNS.
Namun, ia mengaku tidak melihat dirinya sekadar sebagai orang asing yang pernah tinggal di Solo.
Dalam penutup sambutannya, Mustapha menggambarkan perubahan tersebut dengan kalimat yang sederhana tetapi kuat.
Ia mengatakan bahwa dirinya datang ke Solo sebagai tamu dan kini pulang sebagai bagian dari keluarga.
“Saya datang ke Solo sebagai tamu. Hari ini saya pulang sebagai keluarga. Matur nuwun, Solo. Matur nuwun, UNS.”
Kisah Mustapha memperlihatkan bagaimana pendidikan tinggi dapat menjadi ruang pertemuan lintas negara dan budaya. Gelar sarjana menjadi salah satu hasil dari perjalanan tersebut, sementara kemampuan berbahasa dan pengalaman hidup di tengah masyarakat menjadi bagian lain yang tidak kalah penting.
Dari Nigeria ke Solo, perjalanan Mustapha akhirnya menghasilkan lebih dari sekadar gelar akademik. Ia membawa pulang pengalaman tentang pendidikan, persahabatan, budaya, bahasa, dan kehidupan masyarakat Indonesia yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/
