Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia pendidikan berkembang dengan cepat. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya diikuti kesiapan sekolah, pengajar, maupun siswa dalam memahami cara menggunakan teknologi tersebut secara aman dan bertanggung jawab.
Kondisi itu terungkap dalam laporan Britain’s Greatest Education Opportunity Ever yang disusun mantan kepala sekolah Inggris Sir Anthony Seldon bersama Tim Bunting dan diterbitkan pada September 2026. Laporan tersebut menggunakan data survei Public First terhadap 4.021 anak muda berusia 11 hingga 24 tahun di Inggris.
Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan antara seberapa cepat siswa menggunakan AI dan seberapa siap institusi pendidikan memberikan arahan. Sebanyak 87 persen responden mengaku pernah menggunakan alat AI. Angkanya bahkan mencapai 90 persen pada kelompok usia 13-14 tahun.
Banyak Siswa Sudah Menggunakan AI
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa AI bukan lagi teknologi yang hanya dibicarakan di lingkungan industri atau perguruan tinggi. Bagi banyak pelajar, teknologi ini sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
AI dapat digunakan untuk mencari informasi, memahami materi pelajaran, membuat rangkuman, menerjemahkan teks hingga membantu mengerjakan tugas. Perkembangan chatbot generatif membuat akses terhadap teknologi tersebut semakin mudah.
Persoalannya, kemampuan menggunakan AI belum tentu sama dengan kemampuan menggunakannya secara tepat.
Laporan Seldon dan Bunting menemukan hanya sekitar 9 persen anak muda yang merasa sekolah dan universitas mempersiapkan mereka dengan sangat baik untuk menghadapi dunia yang dipengaruhi AI. Pada saat yang sama, 42 persen responden mengatakan AI membuat pendidikan sekolah terasa kurang penting, sedangkan 35 persen menilai AI justru membuat pendidikan semakin penting.
Temuan ini menjadi perhatian karena siswa dapat memperoleh jawaban dari AI dalam hitungan detik, sementara proses pendidikan tetap membutuhkan waktu untuk membangun kemampuan berpikir, memahami konsep, memeriksa informasi, dan memecahkan masalah.
Kesenjangan Antara Siswa dan Pengajar
Salah satu masalah yang muncul adalah kemungkinan terjadinya kesenjangan kemampuan antara siswa dan tenaga pendidik.
Dalam survei yang menjadi bagian laporan tersebut, 38 persen anak muda merasa lebih mahir menggunakan AI dibandingkan pengajar mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa sekolah tidak cukup hanya menyediakan akses terhadap teknologi. Pengajar juga membutuhkan pelatihan agar dapat memahami kemampuan, keterbatasan, dan risiko AI.
Laporan tersebut mendorong adanya pelatihan AI bagi pengajar sebagai bagian dari strategi pendidikan. Sekolah juga diminta memiliki strategi khusus mengenai penggunaan AI.
Hal serupa terlihat dalam laporan Pearson School & College Report 2026. Data Pearson menunjukkan hanya 25 persen pendidik sekolah dan perguruan tinggi yang mengatakan telah memperoleh pelatihan AI pada tahun akademik berjalan. Sementara itu, 56 persen siswa sekolah menengah dan 63 persen mahasiswa mengatakan institusinya memberikan aturan yang jelas mengenai penggunaan AI.
Artinya, sebagian sekolah sudah mulai membuat aturan, tetapi penerapannya belum seragam.
Risiko Ketergantungan pada AI
Masalah lain yang menjadi perhatian adalah ketergantungan siswa terhadap AI.
AI memang dapat membantu siswa memahami materi atau mencari alternatif penjelasan. Namun, jika teknologi digunakan untuk menggantikan seluruh proses berpikir, siswa berpotensi kehilangan kesempatan untuk membangun kemampuan akademiknya sendiri.
Laporan tersebut menilai sistem pendidikan perlu menyesuaikan metode penilaian dengan kondisi ketika siswa memiliki akses luas terhadap AI.
Salah satu gagasan yang diajukan adalah sistem penilaian dua jalur. Ujian tradisional tetap digunakan, tetapi dilengkapi evaluasi berkelanjutan terhadap pemahaman siswa. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menilai jawaban akhir, tetapi juga dapat melihat sejauh mana siswa benar-benar memahami materi.
Sekolah Diminta Memiliki Strategi AI
Laporan Seldon dan Bunting mengusulkan kerangka nasional untuk penggunaan AI di sekolah-sekolah Inggris.
Salah satu rekomendasinya adalah setiap sekolah dan perguruan tinggi memiliki strategi AI sendiri. Strategi tersebut kemudian dapat menjadi bagian dari evaluasi Ofsted, lembaga yang bertanggung jawab melakukan inspeksi pendidikan di Inggris.
Laporan juga mengusulkan kampanye informasi berskala nasional yang menjelaskan peluang sekaligus risiko AI. Dengan cara ini, siswa, orang tua dan pengajar diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai penggunaan teknologi tersebut.
Rekomendasi lainnya mencakup pemanfaatan AI untuk membantu pengelolaan data dan perkembangan siswa serta pembentukan tim respons cepat di lingkungan pemerintah untuk menangani perubahan teknologi.
Namun, rekomendasi tersebut masih merupakan usulan dari laporan dan bukan berarti seluruhnya sudah menjadi kebijakan pemerintah Inggris.
Kondisi di Indonesia Juga Menjadi Perhatian
Persoalan kesiapan sekolah menghadapi AI tidak hanya terjadi di Inggris. Penelitian yang diterbitkan pada Agustus 2026 mengenai kesiapan sekolah Muhammadiyah di Indonesia juga menemukan bahwa tingkat kesiapan sekolah terhadap transformasi kurikulum berbasis AI masih berada pada kategori moderat dan tidak merata.
Penelitian tersebut mencakup aspek sumber daya manusia, infrastruktur, kebijakan serta kesiapan institusi. Hasilnya menunjukkan pengajar memiliki sikap positif terhadap penggunaan AI, tetapi kompetensi teknis dan pedagogis terkait AI masih terbatas.
Di sisi lain, siswa menunjukkan kemampuan adaptasi yang relatif tinggi terhadap teknologi digital. Masalahnya, kebijakan mengenai integrasi AI ke dalam kurikulum masih bersifat parsial dan belum sistematis.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata apakah siswa mampu menggunakan AI. Tantangannya adalah apakah sekolah mampu menyediakan lingkungan pembelajaran yang membuat penggunaan AI tetap mendukung proses pendidikan.
Literasi AI Menjadi Kebutuhan Baru
Kondisi tersebut membuat literasi AI semakin penting dalam pendidikan. Siswa perlu memahami bahwa jawaban yang diberikan chatbot bukan berarti selalu benar.
Kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengenali kesalahan AI, menjaga data pribadi dan memahami etika penggunaan teknologi menjadi bagian penting dari literasi digital.
Laporan Stanford AI Index 2026 juga menunjukkan besarnya penggunaan AI dalam pendidikan. Di Amerika Serikat, empat dari lima siswa sekolah menengah dan mahasiswa menggunakan AI untuk tugas sekolah. Namun, hanya sekitar separuh sekolah menengah pertama dan atas yang memiliki kebijakan AI, sementara hanya 6 persen pengajar yang menilai kebijakan tersebut sudah jelas.
Data tersebut menunjukkan adanya pola yang sama: penggunaan AI berkembang lebih cepat dibandingkan aturan dan kesiapan institusi.
AI Bukan Sekadar Soal Teknologi
Perdebatan mengenai AI di sekolah pada akhirnya bukan hanya persoalan apakah siswa boleh atau tidak menggunakan chatbot.
Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut ditempatkan dalam proses pembelajaran. AI dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan konsep, memberikan latihan, membantu pengajar menyiapkan materi, hingga mendukung pembelajaran yang lebih personal.
Namun, teknologi tersebut membutuhkan aturan yang jelas. Pengajar tetap memiliki peran penting dalam membimbing siswa, sementara siswa perlu memahami kapan AI dapat digunakan dan kapan mereka harus mengandalkan kemampuan berpikir sendiri.
Pemerintah Inggris sendiri menyatakan bahwa perubahan kurikulum akan memberikan keterampilan digital kepada anak-anak, termasuk kemampuan mengenali disinformasi. Pemerintah juga menyebut peluang dan tantangan AI dalam pendidikan sebagai hal yang serius.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI, sekolah tidak lagi dapat hanya memilih antara menerima atau menolak teknologi tersebut. Tantangan berikutnya adalah membangun aturan, kemampuan pengajar, dan budaya belajar yang dapat membuat AI digunakan secara bertanggung jawab.
Laporan terbaru tersebut menjadi pengingat bahwa kecepatan perkembangan AI telah menciptakan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Ketika siswa sudah menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, sekolah perlu memastikan mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memahami cara memeriksa, mempertanyakan, dan menggunakan teknologi tersebut secara bijak.
Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/
