Sosialisasi Permendikdasmen 13/2025
Daftar Isi
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menyosialisasikan Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 tentang struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Regulasi ini menjadi perhatian luas karena memuat sejumlah penyesuaian dalam pengaturan pembelajaran, termasuk isu yang ramai diperbincangkan: apakah Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) benar-benar dihapus?
Sosialisasi ini digelar untuk memberikan pemahaman kepada pemerintah daerah, kepala sekolah, pengajar, serta pemangku kepentingan pendidikan mengenai arah kebijakan kurikulum terbaru. Perubahan struktur kurikulum dinilai sebagai bagian dari upaya penyempurnaan implementasi pendidikan nasional agar lebih adaptif dan efektif.
Latar Belakang Terbitnya Permendikdasmen 13/2025
Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 hadir sebagai penyempurnaan dari kebijakan sebelumnya yang mengatur struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kurikulum dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan antara lain:
- Beban belajar siswa yang dinilai belum merata
- Tantangan implementasi proyek pembelajaran
- Kesiapan sumber daya pengajar
- Evaluasi efektivitas program penguatan karakter
Regulasi terbaru ini diharapkan mampu menjawab berbagai dinamika tersebut sekaligus memberikan kepastian arah kebijakan pendidikan.
Fokus pada Struktur Kurikulum
Dalam sosialisasi yang dilakukan, pemerintah menekankan bahwa Permendikdasmen 13/2025 mengatur struktur kurikulum secara lebih sistematis. Penyesuaian mencakup alokasi jam pelajaran, integrasi kompetensi, serta penguatan mata pelajaran inti.
Struktur kurikulum baru dirancang agar lebih seimbang antara aspek akademik, karakter, dan keterampilan abad ke-21. Pemerintah ingin memastikan bahwa siswa tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga memiliki kompetensi berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif.
Benarkah P5 Dihapus?
Isu yang paling menyita perhatian publik adalah dugaan penghapusan Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Program ini sebelumnya menjadi bagian penting dalam implementasi kurikulum, dengan fokus pada pembelajaran berbasis proyek untuk membangun karakter siswa.
Dalam penjelasan resmi, pemerintah menyatakan bahwa pendekatan penguatan karakter tetap menjadi bagian integral dari kurikulum. Namun, skema pelaksanaannya mengalami penyesuaian.
Alih-alih berdiri sebagai program terpisah dengan alokasi waktu khusus, nilai-nilai yang terkandung dalam P5 diarahkan untuk lebih terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran reguler. Dengan demikian, substansi penguatan karakter tetap ada, meski formatnya berbeda.
Integrasi Nilai Pancasila
Penguatan Profil Pelajar Pancasila sebelumnya difokuskan melalui proyek tematik yang dilaksanakan secara periodik. Dalam struktur baru, nilai-nilai tersebut dirancang untuk lebih menyatu dalam setiap mata pelajaran.
Langkah ini diambil untuk mengurangi beban administratif serta memastikan implementasi lebih konsisten di berbagai daerah. Pemerintah menilai integrasi langsung ke dalam pembelajaran dapat memperluas dampak dan menghindari kesan bahwa penguatan karakter hanya bersifat proyek sesaat.
Respons Pengajar dan Sekolah
Sosialisasi Permendikdasmen 13/2025 mendapat beragam respons dari kalangan pendidik. Sebagian pengajar menyambut baik penyederhanaan struktur kurikulum karena dinilai dapat mengurangi beban teknis dalam perencanaan proyek.
Namun, ada pula kekhawatiran bahwa tanpa format proyek khusus, penguatan karakter bisa kurang terstruktur. Pengajar membutuhkan panduan teknis yang jelas agar integrasi nilai Pancasila tidak sekadar menjadi formalitas dalam dokumen pembelajaran.
Kepala sekolah juga menyoroti pentingnya pelatihan lanjutan agar transisi kurikulum berjalan efektif.
Dampak bagi Siswa
Bagi siswa, perubahan struktur kurikulum berpotensi memengaruhi pola pembelajaran di kelas. Jika sebelumnya mereka terlibat dalam proyek lintas mata pelajaran, kini pendekatan tersebut mungkin lebih tersebar dalam aktivitas harian.
Di satu sisi, integrasi nilai karakter dalam setiap pelajaran dapat membuat pembelajaran lebih kontekstual. Di sisi lain, siswa mungkin kehilangan pengalaman proyek kolaboratif yang terstruktur jika implementasinya tidak dirancang matang.
Karena itu, kualitas pelaksanaan di lapangan menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini.
Penekanan pada Efektivitas
Pemerintah menegaskan bahwa tujuan utama perubahan bukanlah mengurangi substansi pendidikan karakter, melainkan meningkatkan efektivitas pelaksanaan kurikulum.
Evaluasi menunjukkan bahwa pelaksanaan proyek P5 di sejumlah daerah menghadapi kendala, seperti keterbatasan fasilitas, waktu, serta pemahaman pengajar. Dengan integrasi yang lebih fleksibel, diharapkan sekolah dapat menyesuaikan dengan kondisi masing-masing tanpa kehilangan esensi program.
Tantangan Implementasi
Setiap perubahan kebijakan pendidikan selalu menghadapi tantangan. Sosialisasi yang masif menjadi langkah awal agar seluruh pemangku kepentingan memahami arah perubahan.
Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi meliputi:
- Konsistensi implementasi antarwilayah
- Ketersediaan pelatihan pengajar
- Monitoring dan evaluasi berkala
- Penyesuaian perangkat ajar
Tanpa pengawasan dan pendampingan yang memadai, perubahan struktur kurikulum berisiko menimbulkan kebingungan di tingkat sekolah.
Arah Kebijakan Pendidikan Nasional
Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan yang terus berkembang. Pemerintah berupaya menyeimbangkan tuntutan global dengan nilai-nilai kebangsaan.
Struktur kurikulum yang lebih terintegrasi diharapkan dapat menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, relevan, dan tetap berakar pada karakter Pancasila.
Perubahan ini juga menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan bukanlah sesuatu yang statis. Evaluasi dan penyempurnaan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pendidikan nasional.
Kesimpulan
Sosialisasi Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 membuka babak baru dalam pengaturan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Isu penghapusan P5 menjadi sorotan, namun pemerintah menegaskan bahwa nilai penguatan karakter tetap dipertahankan melalui pendekatan yang lebih terintegrasi.
Keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada kesiapan sekolah, pengajar, serta dukungan pemangku kepentingan. Dengan implementasi yang tepat, perubahan struktur kurikulum diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat karakter generasi muda Indonesia.
Sumber Artikel : https://dinaspendidikan.kepriprov.go.id/
Sumber Gambar : https://dinaspendidikan.kepriprov.go.id/
