Tiga siswa kelas XII SMA Al Hikmah International Islamic Boarding School (IIBS) Batu, Jawa Timur, menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui inovasi teknologi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Muhammad Nero Alfath, Muhammad Zakwan Abqory, dan Naufal Rafi Hermawan berhasil meraih Juara 2 kategori Innovation Technology dalam ajang Baronas Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Ketiganya mengembangkan sistem otomatisasi kursi roda yang dirancang untuk mempermudah mobilitas pengguna. Karya tersebut mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni kebutuhan akan alat bantu yang dapat mendukung pergerakan dan kemandirian penyandang disabilitas.
Prestasi ini memperlihatkan bahwa pelajar tingkat sekolah menengah atas dapat berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknis, tetapi juga mempertimbangkan manfaat sosial.
Ajang Baronas Competition 2026 berlangsung pada 24–25 Oktober 2026. Kompetisi tersebut menjadi ruang bagi peserta dari berbagai daerah untuk mengembangkan gagasan dan menunjukkan kemampuan dalam bidang robotika serta inovasi teknologi.
Mengembangkan Teknologi untuk Mobilitas
Kursi roda merupakan alat bantu penting bagi individu yang mengalami keterbatasan mobilitas. Namun, kebutuhan setiap pengguna berbeda-beda. Sebagian pengguna membutuhkan bantuan untuk menggerakkan kursi roda, sementara sebagian lainnya memerlukan perangkat yang lebih praktis agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan teknologi pendukung mobilitas terus dilakukan. Sistem otomatisasi berpotensi membantu mengurangi kebutuhan pengoperasian secara manual, bergantung pada rancangan, mekanisme kendali, serta kemampuan perangkat yang dikembangkan.
Inovasi tiga siswa SMA Al Hikmah IIBS Batu berangkat dari gagasan tersebut. Mereka merancang sistem otomatisasi kursi roda sebagai upaya menghadirkan solusi yang dapat mempermudah pengguna dalam melakukan mobilitas.
Meski demikian, rincian teknis seperti metode kendali, jenis sensor, komponen elektronik, dan mekanisme navigasi pada prototipe mereka belum dijelaskan secara terperinci dalam informasi yang tersedia. Karena itu, kemampuan sistem perlu dipahami berdasarkan fungsi yang telah dilaporkan, tanpa mengasumsikan bahwa perangkat tersebut sudah memiliki fitur otomatis tertentu.
Hal yang menonjol dari karya tersebut adalah orientasinya terhadap kebutuhan manusia. Teknologi tidak berhenti sebagai proyek untuk memenuhi persyaratan kompetisi, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Berhasil Bersaing di Baronas Competition
Baronas merupakan singkatan dari Lomba Robot Nasional, sebuah ajang yang berada di bawah Departemen Teknik Elektro ITS. Kompetisi ini menjadi wadah bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan dalam bidang robotika, otomasi, dan pengembangan teknologi.
Pada 2026, Baronas menghadirkan kategori Innovation Technology yang berfokus pada karya ilmiah dan prototipe berbasis teknologi. Berdasarkan informasi penyelenggara melalui situs resmi Baronas, kategori tersebut mengusung tema Innovative Robotics as the Foundation of Industry 5.0.
Peserta tidak hanya dituntut menyampaikan gagasan, tetapi juga menunjukkan bagaimana gagasan itu diterapkan dalam bentuk karya. Proses tersebut membutuhkan kemampuan mengidentifikasi masalah, menyusun konsep, mengembangkan solusi, serta menjelaskan nilai guna inovasi di hadapan penilai.
Dalam konteks tersebut, sistem otomatisasi kursi roda yang dikembangkan Nero, Zakwan, dan Naufal membawa isu aksesibilitas ke dalam kompetisi teknologi. Karya mereka menghubungkan pengetahuan teknis dengan kebutuhan pengguna yang nyata.
Meraih posisi kedua di tingkat nasional menjadi pencapaian penting bagi ketiganya. Pengalaman tersebut juga membuka ruang bagi pengembangan lebih lanjut, baik melalui penyempurnaan rancangan, pengujian, maupun evaluasi bersama calon pengguna.
Sekolah Apresiasi Kreativitas Siswa
Kepala SMA Al Hikmah IIBS Batu, Ahmad Fais, menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih ketiga siswa tersebut. Menurutnya, keberhasilan itu mencerminkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan kolaborasi dalam mengembangkan karya teknologi.
Pihak sekolah memandang pencapaian tersebut bukan hanya sebagai hasil kompetisi, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendidikan. Siswa didorong untuk mengeksplorasi ide, mencoba pendekatan baru, dan mengembangkan kemampuan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Pembelajaran berbasis proyek seperti ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menghubungkan teori dengan praktik. Mereka dapat belajar bahwa sebuah inovasi membutuhkan lebih dari sekadar ide menarik. Ada proses perencanaan, pembagian tugas, pengujian, dan perbaikan yang harus dilakukan agar suatu rancangan dapat berfungsi sesuai tujuan.
Kerja tim juga menjadi unsur penting. Pengembangan perangkat teknologi umumnya melibatkan berbagai pekerjaan yang saling berkaitan, mulai dari perumusan masalah hingga penyusunan presentasi. Kolaborasi membantu anggota tim memadukan sudut pandang dan keterampilan yang berbeda.
Prestasi ketiga siswa tersebut diharapkan dapat mendorong pelajar lain untuk berani mengembangkan gagasan, termasuk gagasan yang berangkat dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar.
Tantangan Mengembangkan Kursi Roda Otomatis
Penghargaan kompetisi merupakan pencapaian awal, tetapi pengembangan alat bantu mobilitas tidak berhenti setelah prototipe berhasil dipresentasikan. Perangkat yang ditujukan untuk membantu pengguna perlu melewati evaluasi yang memperhatikan keamanan, kenyamanan, kemudahan pengoperasian, dan keandalan.
Pada kursi roda otomatis, aspek keselamatan menjadi perhatian utama. Sistem perlu dirancang agar responsnya sesuai dengan kendali pengguna dan kondisi lingkungan. Risiko seperti tabrakan, kehilangan kendali, gangguan daya, atau kegagalan komponen harus dipertimbangkan sebelum perangkat digunakan secara rutin.
Selain itu, rancangan perlu memperhatikan kebutuhan pengguna yang beragam. Kemampuan fisik, kondisi lingkungan, serta pola penggunaan dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Melibatkan pengguna sejak tahap pengembangan dapat membantu pembuat teknologi memahami kebutuhan yang mungkin tidak terlihat dari sudut pandang perancang saja.
Ketersediaan biaya dan kemudahan perawatan juga menjadi faktor penting. Teknologi yang bermanfaat perlu mempertimbangkan apakah perangkat dapat diproduksi, diperbaiki, dan digunakan tanpa membebani pengguna secara berlebihan.
Untuk itu, inovasi otomatisasi kursi roda masih memiliki peluang pengembangan melalui pengujian berulang, masukan dari ahli terkait, dan kolaborasi dengan komunitas penyandang disabilitas. Langkah tersebut dapat membantu memastikan bahwa teknologi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Inovasi Pelajar dan Masa Depan Teknologi Inklusif
Perkembangan teknologi inklusif menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari laboratorium besar atau perusahaan teknologi. Lingkungan pendidikan juga dapat menjadi tempat lahirnya gagasan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Siswa yang terbiasa mengamati persoalan di sekitarnya dapat mengembangkan proyek yang relevan dengan kebutuhan nyata. Dalam proses itu, mereka tidak hanya mempelajari sains dan teknologi, tetapi juga membangun empati, kemampuan bekerja sama, dan tanggung jawab sosial.
Karya Nero, Zakwan, dan Naufal menjadi contoh bagaimana pembelajaran teknologi dapat diarahkan untuk mendukung aksesibilitas. Kursi roda otomatis yang mereka kembangkan membawa pesan bahwa teknologi seharusnya membantu memperluas kesempatan seseorang untuk beraktivitas, bukan sekadar menjadi simbol kemajuan.
Meski masih memerlukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut untuk menilai penerapan praktisnya, capaian di Baronas Competition 2026 menjadi langkah positif bagi ketiganya.
Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya memberi ruang bagi pelajar untuk mencoba, membuat prototipe, dan menguji gagasan. Dengan pendampingan yang tepat serta kolaborasi dengan pengguna dan tenaga ahli, inovasi yang lahir dari sekolah berpeluang berkembang menjadi solusi yang semakin bermanfaat.
Pada akhirnya, keberhasilan tiga siswa SMA Al Hikmah IIBS Batu bukan hanya tentang meraih Juara 2. Lebih dari itu, karya mereka menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana untuk memahami kebutuhan sesama dan menghadirkan perubahan yang berarti dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber Artikel : https://edukasi.sindonews.com/
Sumber Gambar : https://edukasi.sindonews.com/
