Wacana perubahan sistem seleksi masuk perguruan tinggi kembali mencuat. Seorang anggota Komisi X DPR RI mengusulkan agar tes masuk kampus cukup menggunakan satu jalur seleksi, sekaligus memangkas skema yang selama ini dinilai terlalu kompleks.

Usulan tersebut langsung memantik perdebatan di kalangan akademisi, siswa, hingga pengamat pendidikan. Sebab, sistem penerimaan mahasiswa baru saat ini dikenal memiliki beberapa jalur berbeda, mulai dari seleksi berbasis prestasi hingga ujian tertulis nasional.

Sistem yang Dinilai Terlalu Rumit

Selama ini, calon mahasiswa di Indonesia dihadapkan pada beberapa jalur seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Jalur tersebut umumnya mencakup seleksi berdasarkan prestasi akademik, tes berbasis komputer, serta seleksi mandiri yang diselenggarakan masing-masing kampus.

Bagi sebagian pihak, banyaknya jalur dianggap memberi peluang lebih luas bagi siswa. Namun, tidak sedikit pula yang menilai sistem ini membingungkan dan berpotensi menimbulkan ketidakadilan.

Anggota Komisi X DPR menilai penyederhanaan menjadi satu jalur bisa membuat sistem lebih transparan, efisien, dan mudah dipahami masyarakat.

Alasan Penyederhanaan Seleksi

Usulan satu jalur masuk kampus dilatarbelakangi sejumlah pertimbangan. Salah satunya adalah efisiensi biaya dan waktu bagi siswa maupun penyelenggara.

Banyak calon mahasiswa harus mengikuti lebih dari satu tes demi memperbesar peluang diterima. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara mental, tetapi juga menambah beban finansial.

Dengan satu jalur seleksi nasional, proses dinilai bisa lebih terstruktur dan mengurangi tekanan berlebihan pada siswa.

Potensi Dampak Positif

Jika diterapkan, sistem satu jalur berpotensi menciptakan standar penilaian yang seragam. Hal ini dianggap dapat meminimalkan disparitas kualitas seleksi antarperguruan tinggi.

Selain itu, penyederhanaan sistem dapat meningkatkan transparansi. Dengan mekanisme tunggal, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan seleksi bisa dilakukan lebih ketat.

Beberapa pengamat pendidikan juga menilai model ini bisa mendorong perbaikan kualitas pendidikan menengah, karena fokus persiapan siswa menjadi lebih jelas.

Kekhawatiran Hilangnya Alternatif

Di sisi lain, wacana satu jalur masuk kampus menuai kritik. Banyak pihak khawatir kebijakan tersebut justru mengurangi kesempatan bagi siswa dengan potensi berbeda.

Jalur prestasi, misalnya, selama ini menjadi peluang bagi siswa dengan rekam jejak akademik atau non-akademik unggul tanpa harus bersaing dalam tes tertulis.

Jika hanya satu jalur diterapkan, sistem seleksi harus benar-benar mampu mengakomodasi keragaman potensi siswa.

Peran Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi juga memiliki kepentingan dalam sistem seleksi. Selama ini, jalur mandiri memberi kampus fleksibilitas untuk memilih mahasiswa sesuai kebutuhan dan karakter institusi.

Pemangkasan jalur seleksi bisa berdampak pada otonomi kampus dalam menentukan standar penerimaan.

Karena itu, diskusi mengenai usulan ini tidak hanya menyangkut efisiensi, tetapi juga menyentuh aspek tata kelola pendidikan tinggi.

Perspektif Siswa dan Orang Tua

Bagi siswa dan orang tua, sistem seleksi masuk perguruan tinggi merupakan fase krusial. Tekanan akademik dan psikologis sering kali meningkat menjelang periode ujian.

Sebagian orang tua menyambut baik ide penyederhanaan karena dianggap dapat mengurangi kebingungan serta biaya tambahan.

Namun, ada pula yang menilai banyaknya jalur justru memberi peluang cadangan jika gagal di satu seleksi.

Tantangan Implementasi

Menerapkan satu jalur seleksi nasional bukan perkara mudah. Pemerintah perlu memastikan kesiapan infrastruktur, sistem pengawasan, hingga mekanisme evaluasi.

Skema penilaian juga harus dirancang secara komprehensif agar tidak hanya mengukur kemampuan akademik semata.

Jika tidak dirancang matang, kebijakan ini berisiko menimbulkan ketimpangan baru dalam akses pendidikan tinggi.

Pembelajaran dari Negara Lain

Beberapa negara menerapkan sistem seleksi tunggal berbasis ujian nasional. Model ini memudahkan standarisasi, tetapi sering dikritik karena terlalu menitikberatkan pada nilai tes.

Sebaliknya, ada pula negara yang menggunakan kombinasi nilai akademik, esai, wawancara, dan aktivitas ekstrakurikuler.

Indonesia perlu mempertimbangkan karakteristik sistem pendidikan nasional sebelum memutuskan perubahan besar dalam mekanisme seleksi.

Reformasi Pendidikan Berkelanjutan

Usulan satu jalur masuk kampus sejatinya bagian dari diskursus reformasi pendidikan yang lebih luas. Pemerintah dan DPR terus mencari formula terbaik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Seleksi masuk perguruan tinggi hanyalah satu mata rantai dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Perbaikan kurikulum, pemerataan akses, dan peningkatan kualitas pengajar tetap menjadi faktor penentu utama.

Karena itu, perubahan sistem seleksi perlu diiringi kebijakan komprehensif di sektor pendidikan.

Menuju Sistem yang Lebih Adil

Pada akhirnya, tujuan utama sistem seleksi adalah menjamin akses yang adil dan merata bagi seluruh calon mahasiswa. Apakah melalui satu jalur atau beberapa jalur, prinsip transparansi dan keadilan harus menjadi prioritas.

Usulan anggota Komisi X DPR membuka ruang diskusi publik mengenai masa depan pendidikan tinggi di Indonesia. Keputusan akhir tentu memerlukan kajian mendalam serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan terus berkembang dan membutuhkan evaluasi berkelanjutan agar mampu menjawab tantangan zaman.


Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/