Daftar Isi
Ancaman kejahatan terhadap anak di ruang digital kian mengkhawatirkan. Salah satu yang paling berbahaya namun sering luput disadari adalah child grooming, sebuah pola manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan anak sebelum melakukan eksploitasi.
Pengajar besar dari Universitas Indonesia menegaskan bahwa child grooming bukan sekadar kejahatan seksual, tetapi kejahatan berlapis yang memanfaatkan celah emosional, minimnya literasi digital, serta lemahnya pengawasan orang dewasa.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah proses pendekatan bertahap yang dilakukan pelaku kepada anak dengan tujuan mendapatkan kendali, kepercayaan, dan kepatuhan. Proses ini sering berlangsung lama, bahkan berbulan-bulan, sehingga korban tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Pelaku biasanya memposisikan diri sebagai teman, mentor, atau figur yang dianggap memahami korban. Di era media sosial, pendekatan ini kerap dilakukan melalui gim daring, aplikasi pesan instan, hingga platform berbagi video.
Mengapa Anak Rentan Menjadi Target?
Menurut akademisi UI, anak berada pada fase perkembangan emosional yang belum stabil. Rasa ingin tahu yang tinggi, kebutuhan akan pengakuan, serta minimnya pengalaman membuat mereka lebih mudah percaya pada orang asing.
Selain itu, penggunaan gawai tanpa pendampingan juga meningkatkan risiko. Banyak anak memiliki akses internet pribadi, namun tidak dibekali pemahaman tentang bahaya interaksi digital.
Tahapan Child Grooming yang Perlu Diwaspadai
Child grooming jarang terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa tahapan umum yang sering dilakukan pelaku:
- Pendekatan awal
Pelaku memulai percakapan ringan dan membangun kesan ramah. - Membangun kepercayaan
Anak diberi perhatian khusus, pujian, atau hadiah virtual. - Isolasi emosional
Pelaku mencoba menjauhkan anak dari orang tua atau teman. - Normalisasi perilaku menyimpang
Percakapan mulai mengarah ke topik pribadi atau tidak pantas. - Eksploitasi
Pelaku meminta hal-hal yang merugikan korban secara fisik maupun psikologis.
Memahami tahapan ini penting agar orang tua dapat mendeteksi tanda sejak dini.
Peran Keluarga dalam Pencegahan
Pengajar besar UI menekankan bahwa keluarga adalah benteng pertama perlindungan anak. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci utama.
Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau disalahkan. Ketika anak terbiasa berdiskusi tentang aktivitas digitalnya, orang tua lebih mudah mendeteksi perubahan perilaku yang mencurigakan.
Pentingnya Literasi Digital Sejak Dini
Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risiko dan etika di dunia maya. Anak perlu diajarkan untuk:
- Tidak membagikan data pribadi
- Mengenali perilaku mencurigakan
- Berani menolak dan melapor
Edukasi ini sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai usia, dengan bahasa yang mudah dipahami.
Peran Sekolah dan Lingkungan
Selain keluarga, sekolah memiliki peran strategis dalam pencegahan child grooming. Kurikulum yang memasukkan edukasi keamanan digital dapat membantu meningkatkan kesadaran anak.
Lingkungan sekitar juga perlu dilibatkan. pengajar, dan tenaga kependidikan harus memiliki pemahaman yang sama agar mampu mendeteksi serta menangani kasus dengan tepat.
Tanda Anak Mengalami Grooming
Perubahan perilaku sering menjadi sinyal awal. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Anak menjadi lebih tertutup
- Perubahan emosi yang drastis
- Menghapus riwayat percakapan
- Menolak diajak berbicara soal aktivitas daring
Jika tanda-tanda ini muncul, pendekatan persuasif jauh lebih efektif dibanding konfrontasi.
Langkah yang Harus Dilakukan Orang Tua
Apabila orang tua mencurigai adanya child grooming, langkah pertama adalah tetap tenang. Dengarkan cerita anak tanpa menghakimi.
Selanjutnya, simpan bukti digital yang ada dan segera laporkan ke pihak berwenang atau lembaga perlindungan anak. Penanganan yang cepat dapat mencegah dampak yang lebih serius.
Kesimpulan
Child grooming merupakan ancaman nyata bagi anak di era digital. Kejahatan ini bekerja secara halus, memanfaatkan emosi dan kepercayaan korban.
Pengajar besar UI menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan secara kolaboratif, melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan komunikasi terbuka, literasi digital yang kuat, serta pengawasan yang bijak, anak dapat lebih terlindungi dari ancaman child grooming.
Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/
