Perjalanan Yunasila Silviane Yobee membuktikan bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas. Perempuan asal Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, ini berhasil menyelesaikan pendidikan magister di Boston University, Amerika Serikat, melalui beasiswa afirmasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bagi Orang Asli Papua (OAP).

Perjalanan Yuna, sapaan akrabnya, bukan sekadar cerita tentang keberhasilan menempuh pendidikan di luar negeri. Kisahnya juga menggambarkan pentingnya keberanian meninggalkan kampung halaman, kemauan beradaptasi, serta dukungan pembiayaan pendidikan untuk memperluas kesempatan generasi muda.

Setelah menyelesaikan studi, Yuna kembali menjalankan pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pengalaman bekerja di bidang pemerintahan turut membentuk ketertarikannya terhadap persoalan pembangunan dan kebijakan yang berkaitan dengan Papua.

Dalam diskusi di Jakarta pada 14 Oktober 2026, Yuna mengapresiasi semakin terbukanya kesempatan bagi anak-anak Papua untuk melanjutkan pendidikan melalui beasiswa pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Namun, ia menilai perlu ada perhatian lebih besar terhadap keberlanjutan para penerima beasiswa setelah menyelesaikan studi.

Merantau Sejak Bangku SMA

Perjalanan pendidikan Yuna dimulai di Jayapura. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga sekolah menengah pertama di Papua sebelum melanjutkan sekolah menengah atas di Malang, Jawa Timur.

Keputusan merantau pada usia muda bukan perkara mudah. Perbedaan lingkungan, budaya, dan kebiasaan sehari-hari menjadi tantangan yang harus dihadapi. Jarak yang jauh dari keluarga juga menuntutnya belajar mandiri dan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.

Menurut kisah perjalanan yang dipublikasikan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Dogiyai pada Mei 2025, dukungan orang tua menjadi salah satu faktor yang mendorong Yuna melanjutkan pendidikan di luar Papua.

Pengalaman merantau tersebut membantunya membangun ketahanan diri. Ia perlu beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus menjaga fokus terhadap pendidikan. Pengalaman itu menjadi bekal penting ketika ia melanjutkan perjalanan akademik ke jenjang perguruan tinggi.

Bagi banyak pelajar dari wilayah yang jauh dari pusat pendidikan, melanjutkan sekolah di luar daerah membutuhkan kesiapan yang tidak hanya berkaitan dengan akademik. Dukungan keluarga, biaya hidup, kemampuan beradaptasi, dan akses terhadap informasi pendidikan turut menentukan kelancaran proses belajar.

Perjalanan Yuna menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk memperluas wawasan dan mengenal peluang yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan.

Menempuh Pendidikan di IPDN

Setelah lulus SMA, Yuna melanjutkan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Sumedang, Jawa Barat. Pilihan tersebut berkaitan dengan pertimbangan keluarga dan prospek pengabdian di bidang pemerintahan.

Pengalaman di IPDN memberinya kesempatan untuk mempelajari tata kelola pemerintahan sekaligus mengembangkan kemampuan berorganisasi. Ia terlibat dalam sejumlah kegiatan mahasiswa dan memperoleh pengalaman dalam koordinasi, komunikasi, serta pengelolaan kegiatan.

Bekal tersebut kemudian relevan dengan pekerjaannya sebagai ASN di Kemendagri. Dalam menjalankan tugas, Yuna bersinggungan dengan berbagai persoalan otonomi daerah dan kebijakan yang berkaitan dengan Papua.

Pengalaman profesional itu membuatnya melihat pembangunan bukan hanya sebagai persoalan infrastruktur fisik. Pembangunan juga membutuhkan perencanaan yang baik, kebijakan yang sesuai kebutuhan masyarakat, serta sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi program nyata.

Dari pengalaman kerja itulah keinginan untuk memperdalam ilmu pembangunan semakin kuat. Yuna ingin memahami lebih jauh bagaimana perencanaan dapat membantu menciptakan lingkungan dan wilayah yang lebih baik bagi masyarakat.

Beasiswa LPDP Membuka Jalan ke Boston

Yuna kemudian memperoleh beasiswa afirmasi LPDP Putra-Putri Papua untuk melanjutkan studi magister di Boston University, Amerika Serikat. Ia mengambil bidang perencanaan kota atau Master of City Planning, yang berkaitan dengan perencanaan dan pengembangan wilayah perkotaan.

Bidang tersebut relevan dengan tantangan pembangunan yang dihadapi berbagai daerah, termasuk Papua. Perencanaan kota dan wilayah membutuhkan pemahaman mengenai tata ruang, kebutuhan masyarakat, akses terhadap layanan dasar, serta keberlanjutan pembangunan.

Melalui pendidikan lanjutan, Yuna berkesempatan memperluas perspektif akademik dan mengenal pendekatan perencanaan yang digunakan dalam konteks internasional. Pengalaman belajar di luar negeri juga membuka ruang untuk memahami bagaimana berbagai wilayah menangani persoalan pembangunan yang berbeda.

Beasiswa afirmasi LPDP bagi putra-putri Papua merupakan salah satu jalur yang dapat membantu memperluas akses pendidikan pascasarjana. Dukungan seperti ini penting karena biaya kuliah dan biaya hidup di luar negeri dapat menjadi hambatan besar bagi calon mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik tetapi menghadapi keterbatasan pembiayaan.

Meski demikian, beasiswa bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Penerima tetap harus menjalani proses akademik, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan memenuhi tuntutan pendidikan yang berlaku.

Keberhasilan Yuna menyelesaikan studi menunjukkan bagaimana dukungan pembiayaan dapat bertemu dengan ketekunan pribadi dan tujuan yang jelas.

Bahasa Inggris Jadi Bekal Penting

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Yuna adalah pentingnya mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris. Untuk melanjutkan pendidikan di universitas Amerika Serikat, calon mahasiswa internasional umumnya harus memenuhi persyaratan bahasa yang ditetapkan oleh kampus dan program studi.

Kemampuan tersebut bukan hanya dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan administrasi. Mahasiswa juga perlu memahami materi perkuliahan, membaca literatur akademik, menulis tugas, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan di lingkungan internasional.

Bagi pelajar yang belum terbiasa menggunakan bahasa Inggris, persiapan perlu dilakukan secara bertahap. Membaca artikel, melatih kemampuan mendengar, mengikuti percakapan, dan membiasakan diri menulis dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Calon penerima beasiswa juga perlu memeriksa persyaratan bahasa dari universitas tujuan sejak awal. Setiap kampus dan program dapat menetapkan standar yang berbeda, sehingga persiapan sebaiknya disesuaikan dengan ketentuan resmi.

Penguasaan bahasa Inggris dapat memperluas akses terhadap informasi beasiswa, materi pendidikan, dan jejaring akademik. Namun, kemampuan tersebut perlu berjalan bersama persiapan akademik, perencanaan studi, dan ketahanan menghadapi tantangan.

Yuna Soroti Keberlanjutan Beasiswa

Setelah menyelesaikan pendidikan, Yuna menilai perhatian pemerintah tidak seharusnya berhenti ketika penerima beasiswa memperoleh gelar. Ia mendorong adanya program keberlanjutan agar lulusan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh untuk kepentingan masyarakat.

Dalam pemberitaan MetroTV News pada 14 Oktober 2026, Yuna menyoroti persoalan yang dihadapi sebagian penerima beasiswa, terutama mereka yang kembali ke daerah asal. Tidak semua lulusan dapat langsung terserap sebagai ASN, sementara sebagian lainnya membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kegiatan produktif.

Ia mengusulkan agar pemerintah daerah mempertimbangkan dukungan lanjutan, termasuk fasilitasi modal usaha bagi lulusan yang ingin menerapkan pengetahuan melalui kegiatan ekonomi.

Gagasan tersebut menyoroti tantangan penting dalam kebijakan beasiswa. Investasi pendidikan akan memberikan manfaat lebih besar apabila lulusan mempunyai kesempatan untuk menggunakan kompetensinya, baik melalui pekerjaan profesional, penelitian, pengembangan usaha, maupun keterlibatan dalam pembangunan daerah.

Program keberlanjutan juga dapat dirancang melalui pendampingan karier, jaringan alumni, kemitraan dengan pemerintah daerah, dan akses terhadap peluang kerja yang sesuai dengan bidang keahlian lulusan.

Dengan pendekatan tersebut, beasiswa tidak hanya menjadi bantuan untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga bagian dari strategi pengembangan sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Pendidikan untuk Masa Depan Papua

Yuna mengapresiasi semakin terbukanya akses informasi beasiswa bagi anak-anak Papua. Menurutnya, informasi mengenai kesempatan pendidikan perlu disosialisasikan secara luas agar semakin banyak calon mahasiswa mengetahui jalur yang dapat mereka tempuh.

Upaya tersebut perlu melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas masyarakat. Informasi yang jelas mengenai persyaratan, jadwal pendaftaran, dokumen, dan tahapan seleksi dapat membantu calon pendaftar mempersiapkan diri lebih baik.

Calon penerima beasiswa juga perlu membangun kebiasaan mencari informasi dari sumber resmi, menyusun rencana studi, mempersiapkan kemampuan bahasa, serta menyesuaikan pilihan program dengan tujuan karier.

Kisah Yunasila Silviane Yobee memberikan gambaran tentang perjalanan panjang yang dapat ditempuh untuk memperoleh pendidikan tinggi. Dari Jayapura dan Malang hingga Boston, ia menjalani proses belajar, beradaptasi, dan membangun pengalaman profesional sebelum menyelesaikan studi magister.

Keberhasilannya bukan berarti semua perjalanan pendidikan akan berlangsung sama. Namun, kisah tersebut menunjukkan pentingnya mempertemukan kesempatan, persiapan, dan ketekunan.

Bagi Papua, semakin luasnya akses pendidikan perlu diikuti dengan kebijakan yang memungkinkan lulusan mengembangkan kemampuan dan berkontribusi secara nyata. Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun masa depan daerah yang lebih baik.




Sumber Artikel : https://nasional.sindonews.com/
Sumber Gambar : https://nasional.sindonews.com/