Ida Taklukkan Keterbatasan
Daftar Isi
Ida tidak pernah membayangkan kursi roda akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan akademiknya. Namun, kondisi fisik yang dialaminya justru menjadi titik balik yang membentuk karakter dan keteguhan tekadnya. Di tengah keterbatasan mobilitas, Ida memilih untuk terus melangkah, mengejar pendidikan tinggi, dan membuktikan bahwa disabilitas bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Di kampus, Ida menjalani aktivitas perkuliahan dengan kursi roda. Dari berpindah kelas, mengikuti diskusi, hingga menyelesaikan tugas akademik, semua dijalani dengan usaha ekstra. Tantangan fisik yang dihadapi setiap hari tidak menyurutkan semangatnya untuk berprestasi.
Menempuh Pendidikan dengan Keterbatasan
Bagi Ida, kuliah bukan sekadar menuntut ilmu, tetapi juga tentang membangun kemandirian. Aksesibilitas kampus yang belum sepenuhnya ramah disabilitas kerap menjadi hambatan. Tangga tanpa ramp, jarak antar gedung, hingga fasilitas umum yang terbatas menjadi tantangan nyata.
Namun, Ida memilih beradaptasi. Ia mengatur waktu lebih awal, meminta bantuan saat dibutuhkan, dan tetap menjaga fokus pada tujuan utamanya: menyelesaikan studi dengan hasil terbaik. Di ruang kelas, ia dikenal aktif berdiskusi dan konsisten menyelesaikan tugas tepat waktu.
Tekad Mendaftar Beasiswa LPDP
Keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi membuat Ida menargetkan Beasiswa LPDP. Program beasiswa prestisius tersebut dikenal memiliki seleksi ketat dan kompetitif. Banyak pelamar harus mencoba berkali-kali sebelum akhirnya lolos.
Ida sadar tantangan yang dihadapi tidak hanya soal akademik, tetapi juga soal kepercayaan diri. Sebagai mahasiswa disabilitas, ia sempat ragu apakah keterbatasan fisik akan menjadi hambatan dalam proses seleksi. Namun, keraguan itu akhirnya ia tepis.
Persiapan yang Matang
Ida mempersiapkan diri dengan serius. Ia mempelajari panduan LPDP, menyusun rencana studi yang jelas, serta menulis esai yang jujur dan reflektif. Dalam esainya, Ida tidak menjadikan disabilitas sebagai kelemahan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang membentuk daya juang dan empati.
Ia juga mempersiapkan diri menghadapi tahapan seleksi lainnya, termasuk tes substansi dan wawancara. Menurut Ida, kunci utama adalah memahami tujuan studi dan dampak yang ingin diberikan setelah lulus nanti.
Lolos Sekali Coba, Raih Dua Beasiswa
Hasilnya di luar dugaan. Dalam satu kali percobaan, Ida dinyatakan lolos seleksi dan bahkan berhasil meraih dua skema Beasiswa LPDP sekaligus. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa kualitas dan kesiapan tetap menjadi faktor utama penilaian.
Keberhasilan ini tidak hanya membanggakan bagi Ida, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa lain, khususnya penyandang disabilitas yang kerap merasa minder untuk bersaing di jalur beasiswa nasional.
Disabilitas Bukan Penghalang Prestasi
Kisah Ida menegaskan bahwa disabilitas tidak identik dengan keterbatasan prestasi. Dengan dukungan lingkungan, akses pendidikan yang inklusif, dan kemauan kuat dari individu, penyandang disabilitas memiliki peluang yang sama untuk sukses.
Ida berharap pengalamannya dapat membuka mata banyak pihak bahwa mahasiswa disabilitas tidak membutuhkan perlakuan istimewa, melainkan kesempatan yang setara dan lingkungan yang mendukung.
Dukungan Lingkungan dan Keluarga
Di balik keberhasilannya, Ida tidak berjalan sendiri. Dukungan keluarga, teman, dan beberapa dosen menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Mereka memberikan dorongan moral, membantu saat dibutuhkan, dan memperlakukan Ida sebagai mahasiswa yang setara.
Lingkungan yang suportif membuat Ida merasa diterima dan dihargai, sehingga ia dapat berkembang secara optimal di dunia akademik.
Harapan untuk Pendidikan Inklusif
Ida berharap kisahnya dapat mendorong kampus dan pemangku kebijakan untuk semakin memperhatikan aksesibilitas dan inklusivitas pendidikan. Fasilitas ramah disabilitas, kebijakan yang berpihak, serta peningkatan kesadaran sivitas akademika dinilai penting untuk menciptakan ruang belajar yang adil.
Menurut Ida, pendidikan inklusif bukan hanya tentang fasilitas fisik, tetapi juga tentang sikap dan cara pandang terhadap perbedaan.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Keberhasilan Ida meraih dua Beasiswa LPDP sekali coba menjadi pesan kuat bagi generasi muda bahwa keterbatasan tidak menentukan masa depan. Dengan persiapan, keberanian, dan kepercayaan pada diri sendiri, peluang besar dapat diraih.
Ida ingin lebih banyak mahasiswa, terutama penyandang disabilitas, berani bermimpi dan mencoba, tanpa takut gagal atau merasa tidak pantas.
Kesimpulan
Kisah Ida adalah potret nyata ketangguhan dan optimisme. Menggunakan kursi roda selama kuliah tidak menghalanginya untuk berprestasi dan meraih beasiswa bergengsi. Keberhasilannya membuktikan bahwa sistem pendidikan yang inklusif dan individu yang gigih dapat menciptakan perubahan besar.
Ida bukan hanya meraih beasiswa, tetapi juga membuka jalan inspirasi bagi banyak orang untuk terus berjuang, apa pun keterbatasan yang dimiliki.
Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/
