Dunia pendidikan tinggi Indonesia bersiap memasuki babak baru. Mulai tahun akademik 2026, Institut Teknologi Bandung (ITB) mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk mengikuti mata kuliah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kebijakan ini menandai langkah serius kampus teknologi tersebut dalam merespons pesatnya perkembangan teknologi digital.

Keputusan ini tidak hanya berlaku bagi mahasiswa jurusan teknologi informasi, tetapi juga mencakup seluruh program studi lintas disiplin. ITB menilai pemahaman dasar AI kini menjadi kompetensi penting bagi semua lulusan perguruan tinggi.

Menjawab Tantangan Era Digital

Perkembangan AI telah merambah hampir seluruh sektor, mulai dari industri, kesehatan, pendidikan, hingga pemerintahan. Teknologi ini tidak lagi terbatas pada laboratorium riset, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

ITB melihat kebutuhan mendesak untuk membekali mahasiswa dengan literasi AI sejak awal masa studi. Dengan begitu, lulusan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, mengkritisi, dan mengembangkan solusi berbasis AI secara etis dan bertanggung jawab.

Mata Kuliah Lintas Disiplin

Berbeda dengan mata kuliah pemrograman konvensional, mata kuliah AI yang diwajibkan ITB dirancang bersifat lintas disiplin. Materi tidak hanya mencakup aspek teknis seperti machine learning dan data, tetapi juga dampak sosial, etika, dan kebijakan teknologi.

Mahasiswa dari fakultas teknik, sains, desain, hingga sosial humaniora akan mendapatkan materi yang disesuaikan dengan bidang keilmuan masing-masing. Pendekatan ini diharapkan membuat AI relevan dan aplikatif bagi seluruh mahasiswa.

Fokus pada Literasi, Bukan Sekadar Teknis

Pihak ITB menegaskan bahwa mata kuliah AI wajib ini tidak bertujuan menjadikan semua mahasiswa sebagai insinyur AI. Fokus utamanya adalah literasi kecerdasan buatan, yakni kemampuan memahami cara kerja AI, potensi manfaat, serta risiko yang menyertainya.

Dengan pemahaman tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan AI secara bijak, sekaligus kritis terhadap isu seperti privasi data, bias algoritma, dan dampak otomatisasi terhadap dunia kerja.

Persiapan Kurikulum dan Dosen

Penerapan mata kuliah AI wajib membutuhkan persiapan matang. ITB telah menyiapkan pengembangan kurikulum, modul pembelajaran, serta pelatihan dosen lintas fakultas. Kolaborasi antarprogram studi menjadi kunci agar materi AI dapat disampaikan secara kontekstual.

Selain itu, ITB juga membuka peluang kerja sama dengan industri teknologi dan lembaga riset untuk memastikan materi yang diajarkan relevan dengan kebutuhan dunia nyata.

Dampak bagi Mahasiswa Baru

Bagi mahasiswa baru, kebijakan ini akan menambah wawasan sejak awal masa kuliah. Mereka tidak hanya belajar teori di bidang masing-masing, tetapi juga memahami bagaimana AI dapat diterapkan untuk memecahkan persoalan nyata.

Mahasiswa desain, misalnya, dapat mempelajari peran AI dalam desain interaktif. Sementara mahasiswa ekonomi dapat memahami pemanfaatan AI dalam analisis data dan pengambilan keputusan bisnis.

Menyiapkan Lulusan Masa Depan

ITB menilai bahwa lulusan masa depan harus adaptif terhadap perubahan teknologi. Dengan bekal AI, lulusan diharapkan memiliki daya saing lebih tinggi di pasar kerja global.

Banyak profesi baru bermunculan seiring perkembangan AI, sementara sejumlah pekerjaan lama mengalami transformasi. Pendidikan tinggi perlu berperan aktif agar lulusan tidak tertinggal oleh perubahan tersebut.

Respon Positif dari Akademisi

Kebijakan ini mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi. Banyak pihak menilai langkah ITB sebagai terobosan yang relevan dengan kebutuhan zaman. AI dianggap sebagai “bahasa baru” yang perlu dipahami oleh generasi muda, terlepas dari latar belakang keilmuan mereka.

Namun demikian, sejumlah pengamat mengingatkan pentingnya keseimbangan antara aspek teknis dan etika dalam pembelajaran AI.

Tantangan Implementasi

Meski dinilai progresif, kebijakan ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah memastikan kesetaraan pemahaman bagi mahasiswa dengan latar belakang non-teknologi. Materi harus dirancang agar tidak terlalu teknis, namun tetap substansial.

Selain itu, ketersediaan sumber daya pengajar dan infrastruktur digital juga menjadi faktor penting agar implementasi berjalan optimal.

Potensi Diikuti Kampus Lain

Langkah ITB berpotensi menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain di Indonesia. Di tengah percepatan transformasi digital, pendidikan tinggi dituntut lebih responsif terhadap perkembangan teknologi.

Jika berhasil diterapkan, mata kuliah AI wajib bisa menjadi standar baru dalam kurikulum pendidikan tinggi nasional.

Menuju Pendidikan Adaptif

Kewajiban mata kuliah AI bagi mahasiswa baru ITB mulai 2026 menandai perubahan paradigma pendidikan tinggi. Kampus tidak lagi hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga ruang adaptasi terhadap perubahan teknologi global.

Dengan kebijakan ini, ITB berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dan peluang di era kecerdasan buatan.


Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/