Nurul Rosidiyah membuktikan bahwa perjalanan menuju keberhasilan akademik tidak selalu berlangsung dalam situasi yang ideal. Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,95, meski harus menghadapi tantangan keluarga ketika menyelesaikan tugas akhir.

Pada masa-masa penting penyusunan penelitian, Nurul tidak hanya memikirkan revisi dan tuntutan akademik. Ia juga harus mendampingi ibunya yang menjalani perawatan di rumah sakit. Di tengah kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan sang ibu dan ketidakpastian ekonomi keluarga, ia tetap berusaha menyelesaikan kuliah.

Perjuangan tersebut mengantarkan Nurul menjadi salah satu lulusan terbaik pada Wisuda Periode 122 Unesa yang berlangsung pada 26 September 2026. Prestasinya tidak berhenti pada nilai akademik. Penelitian yang dikerjakannya juga berhasil menembus jurnal ilmiah terakreditasi Sinta, sementara ia telah diterima bekerja sebagai Junior Accountant sebelum mengenakan toga wisuda.

Mengerjakan Tugas Akhir di Rumah Sakit

Masa penyusunan tugas akhir menjadi salah satu periode paling berat dalam perjalanan pendidikan Nurul. Ketika mahasiswa lain dapat memusatkan perhatian pada penelitian, ia harus membagi waktu antara kewajiban akademik dan tanggung jawab mendampingi ibunya.

Kondisi tersebut menghadirkan tekanan tersendiri. Selain memikirkan penyelesaian tugas akhir, Nurul juga menghadapi kekhawatiran mengenai kesehatan orang tua dan kondisi keuangan keluarga.

Namun, ia memilih untuk tidak menghentikan proses akademiknya. Laptop menjadi teman yang selalu dibawa ketika mendampingi sang ibu di rumah sakit. Di sela-sela waktu menjaga keluarga, Nurul tetap berusaha mengerjakan penelitian dan menyelesaikan bagian-bagian tugas akhirnya.

Keputusan itu bukan berarti perjuangannya berlangsung tanpa rasa lelah. Ia harus menyesuaikan waktu belajar dengan situasi yang dihadapi, sekaligus menjaga agar tanggung jawab keluarga tidak membuat studinya terhenti.

Bagi Nurul, menyelesaikan pendidikan menjadi salah satu cara untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan keluarga. Tekad tersebut membantunya bertahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Kisahnya menunjukkan bahwa perjuangan mahasiswa tidak selalu terlihat dari ruang kuliah, laboratorium, atau perpustakaan. Dalam situasi tertentu, proses menyelesaikan pendidikan juga berlangsung di tengah tanggung jawab keluarga yang membutuhkan perhatian penuh.

Penelitian Perpajakan Tembus Jurnal Sinta

Di tengah situasi tersebut, Nurul tetap menjaga kualitas penelitian yang dikerjakannya. Mahasiswi program S-1 Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Unesa, itu mengangkat penelitian berjudul Pengaruh Pengetahuan Pajak terhadap Kepatuhan Pajak dengan Kesadaran Pajak sebagai Variabel Mediasi.

Penelitian tersebut membahas hubungan antara pengetahuan perpajakan, kesadaran pajak, dan kepatuhan wajib pajak. Topik ini relevan dengan upaya memahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi perilaku masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.

Penyelesaian penelitian menjadi tantangan tersendiri karena Nurul harus membagi konsentrasi antara urusan akademik dan kondisi keluarganya. Meski demikian, ia tetap berupaya menghasilkan karya yang tidak hanya memenuhi persyaratan kelulusan, tetapi juga memiliki nilai ilmiah.

Hasilnya, riset perpajakan tersebut berhasil dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terakreditasi Sinta. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa keterbatasan waktu dan tekanan personal tidak menghentikan upayanya untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas.

Publikasi ilmiah juga menjadi bekal penting bagi perjalanan akademik maupun profesional. Pengalaman menyusun penelitian melatih kemampuan mengolah informasi, menganalisis persoalan, dan menyampaikan temuan secara sistematis.

Empat Semester Membiayai Kuliah Sendiri

Perjuangan Nurul menghadapi kesulitan bukan baru terjadi saat mengerjakan tugas akhir. Sejak awal perkuliahan, ia telah berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan secara mandiri.

Empat semester pertama kuliahnya dibiayai dari tabungan hasil mengikuti perlombaan ketika masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia juga mengajar les privat untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa Nurul tidak hanya mengandalkan prestasi akademik, tetapi juga berusaha mencari jalan agar tetap dapat melanjutkan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Ayahnya bekerja sebagai tukang las panggilan secara mandiri. Kondisi tersebut membuat perencanaan keuangan menjadi bagian penting dalam perjalanan kuliahnya.

Setelah menjalani empat semester dengan pembiayaan mandiri, Nurul akhirnya memperoleh Beasiswa Bank Indonesia. Beasiswa tersebut membantunya melanjutkan studi hingga menyelesaikan pendidikan.

Dukungan beasiswa menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat keberlanjutan pendidikannya. Namun, kesempatan itu juga hadir setelah Nurul berusaha mempertahankan prestasi dan menjalani berbagai tanggung jawab selama kuliah.

Pengalamannya memperlihatkan bagaimana bantuan pendidikan dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi. Bagi mahasiswa yang menghadapi keterbatasan serupa, informasi mengenai beasiswa dan pengelolaan keuangan dapat menjadi bagian penting dalam merencanakan pendidikan tinggi.

Aktif Mengembangkan Pengalaman

Selama kuliah, Nurul tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik di kampus. Ia juga mengikuti program Wirausaha Merdeka (WMK) di Universitas Airlangga dan menjalani praktik Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di sekolah internasional National Academy.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk memperluas wawasan di luar kegiatan perkuliahan. Program Wirausaha Merdeka membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengenal pengembangan usaha dan pengalaman kewirausahaan, sedangkan PLP memberikan pengalaman terkait lingkungan pendidikan dan praktik pembelajaran.

Keterlibatan dalam kegiatan lintas lembaga juga memperkaya pengalaman Nurul dalam menghadapi beragam lingkungan kerja dan belajar.

Pengalaman akademik, penelitian, serta kegiatan pengembangan diri tersebut menjadi bekal ketika ia mulai mempersiapkan langkah setelah lulus. Pendidikan tinggi tidak hanya memberinya pengetahuan di bidang akuntansi dan perpajakan, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia profesional.

Diterima Bekerja Sebelum Wisuda

Perjuangan Nurul berbuah hasil ketika ia diterima bekerja sebagai Junior Accountant di sebuah perusahaan jasa akuntansi di kawasan Panjang Jiwo, Surabaya, sebelum prosesi wisuda berlangsung.

Pekerjaan tersebut menjadi langkah awal untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan. Pengalaman penelitian perpajakan dan pembelajaran di bidang akuntansi juga relevan dengan bidang profesional yang kini dijalaninya.

Pencapaian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan akademik dapat menjadi jembatan menuju dunia kerja ketika dibarengi pengembangan keterampilan dan pengalaman yang sesuai.

Bagi Nurul, keberhasilan bukan semata-mata soal memperoleh nilai tertinggi atau mengungguli mahasiswa lain. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam belajar, menjalani proses sesuai kemampuan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Pandangan tersebut menjadi bagian penting dari kisahnya. Di tengah tekanan keluarga dan ekonomi, ia tetap berusaha menjaga standar kualitas diri tanpa harus menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran utama keberhasilannya.

Prestasi yang Berangkat dari Konsistensi

Predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,95 menjadi penanda keberhasilan Nurul menyelesaikan perjalanan pendidikan yang penuh tantangan. Namun, angka tersebut hanya menggambarkan sebagian dari proses panjang yang telah dijalaninya.

Di balik prestasi akademik itu terdapat pengalaman membiayai kuliah secara mandiri, mengajar les privat, memperoleh beasiswa, mengikuti kegiatan pengembangan diri, menyelesaikan penelitian, dan mendampingi ibu yang sakit.

Nurul menegaskan bahwa pencapaiannya bukan tentang membuktikan siapa yang paling hebat atau mengalahkan orang lain. Ia memilih berjalan dengan ritmenya sendiri, menjaga konsistensi belajar, dan memastikan karya yang dihasilkan memiliki nilai manfaat.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan setiap mahasiswa berbeda. Ada yang dapat belajar dalam kondisi relatif tenang, sementara yang lain harus membagi waktu dengan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, atau keterbatasan finansial.

Karena itu, keberhasilan tidak selalu lahir dari situasi yang sempurna. Dukungan keluarga, kesempatan memperoleh beasiswa, ketekunan, dan kemampuan bertahan menghadapi kesulitan dapat menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kelulusan.

Bagi mahasiswa yang sedang menghadapi masa sulit, pengalaman Nurul memberikan pesan bahwa proses setiap orang tidak harus sama. Yang terpenting adalah terus berusaha, mencari dukungan ketika dibutuhkan, dan menjaga tujuan pendidikan agar tetap dapat dicapai.

Perjuangan Nurul Rosidiyah pada akhirnya bukan hanya tentang menjadi wisudawan terbaik Unesa. Kisahnya memperlihatkan bagaimana pendidikan, ketekunan, dan tanggung jawab terhadap keluarga dapat berjalan beriringan, bahkan ketika keadaan menuntut pengorbanan yang tidak sedikit.


Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/