Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan kembali bahwa hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 tidak dimaksudkan sebagai tolok ukur pemeringkatan sekolah atau perbandingan antarwilayah. Pernyataan ini disampaikan guna merespons kekhawatiran publik yang berkembang setelah hasil TKA dirilis akhir Desember 2025.

Dalam eksposisi publik di Jakarta, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BKSAP), Toni Toharudin, menekankan bahwa TKA seharusnya dipahami sebagai instrumen evaluasi pendidikan yang lebih luas, bukan sebagai sistem ranking sekolah yang bersifat kompetitif.

Rilis Hasil TKA dan Tujuannya

Tes Kemampuan Akademik merupakan asesmen yang diperkenalkan untuk memberikan gambaran capaian akademik siswa secara standar nasional. Tes ini dirancang bukan hanya sebagai alat pengukuran prestasi individu, tetapi juga sebagai dasar data pemerintah dalam melihat tren pembelajaran dan kebutuhan perbaikan di berbagai jenjang pendidikan. Namun, hasil tersebut tidak boleh disederhanakan hanya sebagai peringkat atau label prestasi sekolah.

Fungsi Hasil TKA bagi Sekolah

Nilai TKA bisa menjadi bahan refleksi bagi sekolah dalam mengevaluasi proses pembelajaran para siswanya. Data ini akan membantu sekolah memahami kebutuhan siswa secara lebih mendalam dan merancang strategi pengajaran yang lebih tepat sasaran.

Dasar Kebijakan Pemerintah

Menurut Toni, data hasil TKA akan digunakan sebagai bahan dasar kebijakan pendidikan untuk pemerintah pusat maupun daerah. Hasil ini akan menjadi acuan dalam mengarahkan keputusan strategis terkait peningkatan mutu pendidikan.

Namun, Kemendikdasmen menegaskan bahwa publikasi nilai TKA tidak akan dilakukan secara terbuka berdasarkan individu atau sekolah, melainkan disampaikan lebih dulu kepada siswa melalui satuan pendidikan masing-masing.

Keterkaitan dengan Perguruan Tinggi

Selain fungsi evaluasi dan kebijakan, hasil TKA juga akan dimanfaatkan dalam konteks masuk perguruan tinggi. Pemerintah menyatakan bahwa nilai tersebut akan menjadi salah satu validator nilai bagi calon mahasiswa yang mendaftar melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

TKA sebagai Evaluasi, Bukan Kompetisi

Kemendikdasmen menegaskan bahwa TKA bukan alat kompetisi antar sekolah. Selama ini, kekhawatiran sebagian pihak adalah bahwa hasil TKA bisa disalahartikan sebagai indikator institusional atau tingkat sekolah. Pemerintah menolak interpretasi semacam itu, karena TKA lebih memfokuskan pada capaian akademik siswa secara individu.

Hal ini menunjukkan bahwa hasil TKA tidak dimaksudkan untuk simple ranking antar lembaga.

Kaitan dengan Tujuan Pembelajaran

Pihak Kemendikdasmen menjelaskan bahwa hasil TKA dapat memperkuat arah pembelajaran mendalam yang dibutuhkan siswa. Dengan hasil yang terstandar, pengajar dan sekolah bisa menilai di mana area pembelajaran masih lemah dan kapan perlu intervensi kurikulum atau strategi baru.

Hal ini diharapkan menjadi langkah untuk lebih memetakan pembelajaran secara komprehensif, bukan sekadar mengukur hasil akhir atau skor semata.

Reaksi Publik dan Pengamat Pendidikan

Tanggapan terhadap pernyataan pemerintah ini beragam. Sebagian kalangan menyambut baik penegasan Kemendikdasmen yang ingin mencegah TKA menjadi sekadar kompetisi atau rivalitas antar sekolah. Mereka menilai fokus evaluasi pembelajaran merupakan arah positif dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Beberapa pengamat pendidikan menilai, jika interpretasi data tidak disampaikan dengan jelas, akan semakin mudah terjadi penyalahgunaan hasil TKA untuk kepentingan yang sempit, seperti pembuatan peringkat atau reputasi sekolah semata.

Tantangan dan Pengembangan ke Depan

Kemendikdasmen mengakui bahwa masih banyak tantangan dalam implementasi TKA, termasuk cara terbaik mengintegrasikan data hasilnya ke dalam kebijakan secara bijak. Pemerintah berharap dengan evaluasi berkala dan pendekatan data yang tepat, TKA bisa menjadi alat yang kredibel dalam pengembangan pendidikan nasional.

Kesimpulan

Kemendikdasmen telah menegaskan bahwa hasil TKA 2025 bukan tolok ukur pemeringkatan sekolah, melainkan sebagai alat evaluasi pembelajaran dan dasar kebijakan pendidikan nasional. Penegasan ini bertujuan mencegah interpretasi TKA sebagai sistem ranking yang sederhana dan memicu kompetisi sempit antara sekolah.

Dengan pendekatan yang tepat, data TKA diharapkan dapat memperkuat pemahaman terhadap kebutuhan pendidikan dalam konteks pembelajaran mendalam dan peningkatan mutu secara berkelanjutan


Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/