Rencana pemerintah untuk memasukkan Bahasa Portugis sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah memicu berbagai tanggapan dari pemangku kepentingan pendidikan. Persatuan Pengajar Republik Indonesia (PGRI) menyatakan bahwa wacana tersebut belum tentu dilaksanakan, mengingat masih perlunya kajian mendalam terkait urgensi, kesiapan sekolah, serta dampak kebijakan terhadap kurikulum yang sudah berjalan.

Di tengah upaya pemerintah memperkuat kompetensi global peserta didik, wacana penambahan bahasa asing memang dianggap penting. Namun PGRI menilai setiap kebijakan kurikulum harus mempertimbangkan realitas di lapangan, termasuk kesiapan pengajar, ketersediaan infrastruktur, dan relevansi bahasa tersebut terhadap kebutuhan siswa.

PGRI: Masih Tahap Awal, Belum Final

Ketua Umum PGRI menekankan bahwa pembelajaran bahasa asing di sekolah tidak boleh hanya mengikuti tren global atau alasan politis. Ia menjelaskan bahwa wacana Bahasa Portugis masih berada pada tahap diskusi dan pemetaan, bukan kebijakan final yang siap diterapkan.

Menurut PGRI, pemerintah harus memastikan bahwa setiap mata pelajaran yang masuk ke kurikulum memiliki manfaat jangka panjang, bukan sekadar simbol kerja sama internasional. Penambahan mata pelajaran baru juga dapat memperberat beban belajar siswa yang saat ini tengah disesuaikan melalui Kurikulum Merdeka.

“PGRI mendukung inovasi, tetapi setiap kebijakan harus berbasis kebutuhan siswa dan kesiapan sistem pendidikan kita,” jelas salah satu pengurus pusat.

Mengapa Bahasa Portugis Diusulkan?

Usulan memasukkan Bahasa Portugis muncul dari keinginan memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara berbahasa Portugis, seperti Brasil, Portugal, dan beberapa negara Afrika. Bahasa Portugis merupakan salah satu bahasa terbesar di dunia dengan jumlah penutur lebih dari 250 juta orang.

Dalam konteks diplomasi dan hubungan ekonomi, kemampuan berbahasa Portugis dianggap dapat membuka peluang kolaborasi baru. Namun dalam dunia pendidikan, hal ini harus dianalisis lebih lanjut: apakah siswa Indonesia membutuhkan kompetensi tersebut secara signifikan?

Bagi sebagian kalangan, penambahan bahasa asing dapat memperluas wawasan global. Namun, bagi sebagian lainnya, langkah ini dinilai terlalu jauh mengingat masih banyak persoalan mendasar pendidikan yang belum tuntas.

Kesiapan Pengajar Jadi Persoalan Utama

Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan tenaga pengajar. Jika Bahasa Portugis benar-benar masuk kurikulum, pertanyaan besar muncul: siapa yang akan mengajar?

Saat ini, Indonesia memiliki jumlah pengajar bahasa asing yang memadai untuk pelajaran populer seperti Bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, atau Arab. Namun pengajar Bahasa Portugis hampir tidak ada dalam sistem pendidikan formal.

Rekrutmen pengajar baru bukan hal mudah. Prosesnya mencakup:

  • Pengadaan tenaga ahli bersertifikat
  • Pelatihan intensif
  • Penyiapan kurikulum
  • Evaluasi standar kompetensi

PGRI menegaskan bahwa peluncuran mata pelajaran baru tanpa tenaga pengajar yang kompeten dapat berdampak buruk. “Pengajar adalah ujung tombak. Jika tidak siap, siswa yang akan dirugikan,” tegas PGRI.

Beban Kurikulum dan Kesehatan Mental Siswa

Selain persoalan sumber daya manusia, beban kurikulum juga menjadi perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah berupaya menyederhanakan kurikulum agar lebih fleksibel dan ramah kesehatan mental siswa. Penambahan mata pelajaran baru berpotensi meningkatkan tekanan akademik.

Kurikulum Merdeka bertujuan memberi ruang bagi siswa untuk memilih jalur belajar sesuai minat dan bakat. Jika Bahasa Portugis dipaksakan menjadi mata pelajaran wajib, konsep fleksibilitas tersebut bisa terganggu.

Pakar pendidikan menyarankan agar jika bahasa ini jadi diterapkan, lebih baik ditempatkan sebagai mata pelajaran pilihan (elective) atau program ekstrakurikuler, bukan mata pelajaran utama.

Tantangan Infrastruktur dan Buku Ajar

Masalah lain yang mengemuka adalah ketersediaan perangkat pembelajaran seperti buku, modul, dan media digital. Bahasa Portugis bukan bahasa yang umum dipelajari di Indonesia, sehingga penyediaan bahan ajar berkualitas membutuhkan waktu dan biaya.

Sekolah yang berada di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dikhawatirkan akan semakin tertinggal jika kebijakan baru diterapkan tanpa pemerataan fasilitas.

PGRI mengingatkan bahwa kebijakan pendidikan tidak boleh memperlebar kesenjangan antar daerah. “Jangan sampai teknologi maju di kota, tapi sekolah di daerah belum punya akses,” ucap seorang analis pendidikan.

Prioritas Pendidikan Saat Ini: Literasi, Numerasi, dan Teknologi

Banyak kalangan menilai bahwa sebelum menambah bahasa asing baru, pemerintah seharusnya fokus memperkuat fondasi utama pendidikan seperti:

  • Literasi dasar
  • Numerasi
  • Pembelajaran digital
  • Keterampilan berpikir kritis
  • Penguatan karakter

Indonesia sendiri masih berjuang memperbaiki capaian belajar yang menurun akibat pandemi. Hasil asesmen seperti PISA menunjukkan bahwa literasi dan numerasi pelajar masih berada di bawah rata-rata negara OECD.

Dalam situasi seperti ini, penambahan mata pelajaran baru dianggap tidak mendesak.

Apakah Bahasa Portugis Penting?

Walaupun wacana ini menimbulkan perdebatan, tidak sedikit yang melihat Bahasa Portugis sebagai peluang. Di era globalisasi, kemampuan bahasa asing memang menjadi nilai tambah besar. Bahasa Portugis bisa membuka peluang kerja di:

  • Diplomasi
  • Bisnis internasional
  • Pariwisata
  • Teknologi
  • Media dan budaya

Namun untuk konteks pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, urgensi ini harus dipertimbangkan secara lebih mendalam.

Kesimpulan: Masih Perlu Kajian Mendalam

Hingga kini, wacana Bahasa Portugis di sekolah belum masuk tahap implementasi. PGRI kembali menegaskan bahwa kebijakan kurikulum tidak boleh terburu-buru. Semua harus berdasar data, kebutuhan siswa, dan kesiapan sistem pendidikan.

Pemerintah diharapkan mengajak dialog lebih luas dengan pengajar, akademisi, dan sekolah sebelum mengambil keputusan final.

Pada akhirnya, pendidikan bukan soal mengikuti tren global, tetapi memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan pembelajaran yang relevan, berkualitas, dan berkeadilan.


Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/