Jam Sekolah Ramadan Diatur
Daftar Isi
Dinas Pendidikan Sumatera Selatan (Disdik Sumsel) resmi mengatur penyesuaian jam sekolah selama bulan Ramadan. Kebijakan tersebut juga mencakup peniadaan kegiatan ekstrakurikuler berat guna menjaga kondisi fisik dan konsentrasi siswa selama menjalankan ibadah puasa.
Langkah ini diambil sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan peserta didik yang menjalankan ibadah Ramadan, sekaligus memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan efektif tanpa mengabaikan kesehatan siswa.
Kebijakan tersebut berlaku untuk jenjang pendidikan dasar hingga menengah di wilayah Sumatera Selatan.
Penyesuaian Jam Belajar
Dalam surat edaran yang diterbitkan Disdik Sumsel, jam masuk sekolah dimajukan dan durasi pembelajaran dipersingkat dibanding hari biasa. Setiap jam pelajaran juga mengalami pengurangan waktu beberapa menit untuk menyesuaikan stamina siswa.
Biasanya, kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir siang hari. Selama Ramadan, jam pulang sekolah dimajukan agar siswa dapat beristirahat lebih awal di rumah.
Kebijakan ini tidak hanya berlaku untuk sekolah negeri, tetapi juga dianjurkan bagi sekolah swasta agar mengikuti pola serupa demi menjaga keseragaman.
Menurut pihak Disdik, penyesuaian ini telah mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan akademik dan kondisi fisik siswa.
Ekstrakurikuler Berat Ditiadakan
Selain pengaturan jam sekolah, Disdik Sumsel juga meniadakan sementara kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat fisik berat. Kegiatan seperti olahraga intensif, latihan fisik lapangan, dan aktivitas yang menguras stamina tidak dilaksanakan selama Ramadan.
Sebagai gantinya, sekolah didorong untuk mengadakan kegiatan yang bersifat ringan dan edukatif. Misalnya, kajian keagamaan, kegiatan literasi, diskusi karakter, hingga aktivitas sosial yang tidak membebani fisik siswa.
Kebijakan ini dinilai penting untuk mencegah kelelahan berlebihan, terutama pada siswa sekolah dasar dan menengah pertama yang kondisi fisiknya masih berkembang.
“Fokus utama kami adalah kesehatan dan konsentrasi belajar siswa selama menjalankan ibadah puasa,” ujar perwakilan Disdik Sumsel dalam keterangannya.
Tetap Jaga Kualitas Pembelajaran
Meski durasi belajar dipersingkat, Disdik Sumsel menegaskan bahwa kualitas pembelajaran tetap menjadi prioritas. Pengajar diminta untuk menyesuaikan metode pengajaran agar materi tetap tersampaikan secara efektif.
Pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan efisien dianjurkan selama Ramadan. Pengajar juga didorong untuk memaksimalkan perencanaan materi agar tidak terjadi penumpukan tugas.
Evaluasi belajar tetap dilaksanakan, namun dengan penyesuaian beban tugas agar tidak memberatkan siswa.
Langkah ini menunjukkan bahwa penyesuaian jam sekolah bukan berarti menurunkan standar akademik, melainkan mengatur strategi pembelajaran yang lebih adaptif.
Respons Positif Orang Tua dan Sekolah
Kebijakan pengaturan jam sekolah Ramadan ini mendapat respons positif dari banyak orang tua siswa. Mereka menilai kebijakan tersebut membantu anak-anak tetap fokus belajar tanpa merasa terlalu lelah.
Sebagian orang tua mengungkapkan bahwa jam pulang yang lebih awal memberi kesempatan anak untuk beristirahat sebelum berbuka puasa.
Pihak sekolah pun menyambut baik kebijakan ini karena memberikan pedoman jelas dalam mengatur jadwal akademik selama Ramadan.
Beberapa sekolah bahkan berinisiatif menambahkan kegiatan keagamaan seperti pesantren kilat, tadarus Al-Qur’an, dan ceramah singkat sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.
Pendidikan Karakter Selama Ramadan
Ramadan tidak hanya dipandang sebagai bulan ibadah, tetapi juga momentum pendidikan karakter. Disdik Sumsel mendorong sekolah untuk memanfaatkan momen ini guna menanamkan nilai-nilai disiplin, empati, dan kepedulian sosial.
Kegiatan seperti berbagi takjil, penggalangan donasi, hingga diskusi nilai moral menjadi alternatif aktivitas yang dinilai lebih relevan selama Ramadan.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga pembelajaran nilai kehidupan yang lebih mendalam.
Antisipasi Penurunan Konsentrasi
Secara fisiologis, puasa dapat memengaruhi stamina dan tingkat konsentrasi, terutama pada siang hari. Oleh karena itu, pengurangan durasi belajar dianggap sebagai langkah preventif.
Beberapa pakar pendidikan menyebut bahwa kebijakan semacam ini penting untuk menjaga produktivitas belajar tanpa memaksakan kondisi fisik siswa.
Pengaturan jadwal yang lebih singkat dinilai mampu mengurangi risiko kelelahan dan dehidrasi, terutama pada cuaca panas.
Dengan demikian, siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran secara optimal tanpa tekanan berlebihan.
Konsistensi Setiap Tahun
Penyesuaian jam sekolah selama Ramadan bukan hal baru. Kebijakan serupa hampir selalu diterapkan setiap tahun, dengan penyesuaian teknis sesuai kebutuhan.
Namun, Disdik Sumsel menegaskan bahwa setiap kebijakan tetap melalui evaluasi tahunan untuk memastikan efektivitasnya.
Masukan dari sekolah, pengajar, dan orang tua menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan pola pengaturan jam belajar.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan bersifat dinamis dan adaptif terhadap situasi.
Harapan Disdik Sumsel
Melalui kebijakan ini, Disdik Sumsel berharap siswa dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan nyaman tanpa mengorbankan kewajiban akademik.
Keseimbangan antara ibadah dan pendidikan menjadi fokus utama dalam pengambilan keputusan.
Pemerintah daerah juga mengingatkan sekolah untuk tetap menjaga kedisiplinan dan keamanan selama bulan Ramadan, meskipun jam belajar lebih singkat.
Dengan kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, dan siswa, diharapkan proses pendidikan tetap berjalan lancar hingga akhir Ramadan.
Penutup
Pengaturan jam sekolah selama Ramadan serta peniadaan ekstrakurikuler berat oleh Disdik Sumsel menjadi langkah strategis dalam menjaga keseimbangan antara pendidikan dan ibadah.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan mampu beradaptasi dengan kebutuhan sosial dan keagamaan masyarakat.
Di tengah tantangan menjaga kualitas pembelajaran, pendekatan yang fleksibel dan manusiawi menjadi kunci utama.
Dengan dukungan semua pihak, Ramadan dapat menjadi momentum positif bagi siswa untuk tumbuh tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara karakter dan spiritual.”
Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/
