Nathania Dirikan Penerbit Ramah Tuli
Daftar Isi
Di tengah tantangan akses literasi bagi penyandang disabilitas, sosok Nathania hadir membawa perubahan. Perempuan muda yang merupakan teman tuli ini mendirikan penerbit sekaligus toko buku anak yang mengusung konsep ramah inklusi. Langkahnya menjadi angin segar dalam dunia literasi anak di Indonesia.
Nathania tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga menciptakan ruang yang aman dan setara bagi anak-anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Keputusannya mendirikan penerbit lahir dari pengalaman pribadi sebagai individu tuli yang sering menghadapi keterbatasan akses informasi sejak kecil.
Berangkat dari Pengalaman Pribadi
Sejak usia dini, Nathania menyadari bahwa tidak banyak buku anak yang ramah bagi penyandang tuli. Minimnya visual yang komunikatif, kurangnya bahasa isyarat, serta terbatasnya representasi tokoh disabilitas membuat anak-anak tuli kesulitan menemukan bacaan yang relevan.
Pengalaman tersebut menumbuhkan tekad dalam dirinya untuk menghadirkan perubahan. Ia ingin anak-anak tuli memiliki akses yang sama terhadap cerita, imajinasi, dan pembelajaran seperti anak lainnya.
“Literasi adalah hak semua anak,” menjadi prinsip yang ia pegang dalam membangun penerbitnya.
Konsep Penerbit Ramah Inklusi
Penerbit yang didirikan Nathania mengusung konsep inklusif. Buku-buku yang diterbitkan dirancang dengan pendekatan visual kuat, bahasa sederhana, serta integrasi elemen bahasa isyarat.
Beberapa ciri khas buku terbitannya antara lain:
- Ilustrasi ekspresif yang membantu pemahaman cerita
- Penggunaan teks yang jelas dan mudah dibaca
- Representasi karakter dengan latar belakang beragam
- Edukasi mengenai inklusi dan empati
Pendekatan ini tidak hanya ditujukan bagi anak tuli, tetapi juga anak dengar agar memahami keberagaman sejak dini.
Toko Buku Anak yang Aksesibel
Selain penerbit, Nathania juga mendirikan toko buku anak yang dirancang ramah bagi semua kalangan. Ruangannya dibuat nyaman, terang, dan mudah diakses.
Beberapa fasilitas inklusif yang dihadirkan antara lain:
- Staf yang memahami bahasa isyarat
- Area baca interaktif
- Kegiatan mendongeng inklusif
- Workshop literasi dengan penerjemah bahasa isyarat
Toko buku tersebut menjadi ruang pertemuan komunitas, tempat anak-anak dan orang tua bisa belajar bersama dalam suasana setara.
Tantangan yang Dihadapi
Perjalanan Nathania tentu tidak mudah. Tantangan terbesar datang dari minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi inklusif.
Selain itu, membangun penerbit membutuhkan modal, jaringan distribusi, serta dukungan industri yang tidak sedikit. Sebagai teman tuli, ia juga harus menghadapi hambatan komunikasi dalam negosiasi bisnis.
Namun, dukungan komunitas dan semangat kolaborasi menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan usahanya.
Dampak Sosial yang Terasa
Inisiatif Nathania mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Orang tua anak tuli merasa terbantu karena kini memiliki pilihan bacaan yang sesuai kebutuhan.
Pengajar dan sekolah inklusi juga mulai memanfaatkan buku-buku terbitannya sebagai bahan ajar. Bahkan, sejumlah komunitas literasi mengundang Nathania untuk berbagi pengalaman mengenai pentingnya akses pendidikan setara.
Langkah kecil yang dimulai dari keresahan pribadi kini berkembang menjadi gerakan sosial yang berdampak luas.
Mendorong Kesadaran Inklusi
Kehadiran penerbit dan toko buku ramah tuli tidak hanya soal bisnis, tetapi juga advokasi. Nathania ingin mendorong kesadaran bahwa inklusi bukan sekadar slogan.
Ia percaya bahwa buku memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir anak. Dengan menghadirkan cerita yang mencerminkan keberagaman, anak-anak belajar menghargai perbedaan sejak dini.
Pendidikan inklusif, menurutnya, dimulai dari literasi yang setara.
Peran Komunitas dan Kolaborasi
Kesuksesan inisiatif ini tidak lepas dari kolaborasi dengan ilustrator, penulis, pendidik, serta komunitas disabilitas. Banyak pihak yang turut mendukung visi menghadirkan bacaan ramah bagi semua anak.
Kolaborasi ini memperkaya perspektif dalam setiap buku yang diterbitkan. Cerita-cerita yang dihasilkan pun lebih autentik dan representatif.
Nathania juga aktif mengajak relawan belajar dasar bahasa isyarat untuk memperluas dampak inklusi di lingkungan literasi.
Literasi sebagai Jembatan Kesetaraan
Di Indonesia, tantangan literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Bagi anak dengan kebutuhan khusus, tantangan tersebut berlipat ganda.
Kehadiran penerbit ramah tuli menjadi bukti bahwa akses literasi bisa diperluas melalui inovasi dan kepedulian. Dengan pendekatan yang tepat, buku dapat menjadi jembatan kesetaraan.
Anak-anak tuli tidak lagi sekadar menjadi pembaca, tetapi juga bisa melihat diri mereka terwakili dalam cerita.
Harapan ke Depan
Nathania berharap inisiatifnya dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk mengembangkan konten inklusif. Ia bercita-cita memperluas distribusi buku hingga ke berbagai daerah.
Selain itu, ia ingin menghadirkan lebih banyak penulis dan ilustrator dari komunitas disabilitas agar suara mereka semakin terdengar.
Baginya, inklusi bukan tujuan akhir, melainkan proses berkelanjutan yang harus terus diperjuangkan.
Kesimpulan
Sosok Nathania menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan membawa perubahan. Sebagai teman tuli, ia mendirikan penerbit dan toko buku anak ramah inklusi demi menghadirkan literasi yang setara bagi semua.
Langkahnya menjadi pengingat bahwa akses pendidikan adalah hak setiap anak. Melalui buku dan ruang baca yang inklusif, ia membuka pintu bagi generasi muda untuk tumbuh dalam lingkungan yang menghargai keberagaman.
Di tengah tantangan dunia literasi, kisah Nathania menjadi inspirasi bahwa perubahan bisa dimulai dari satu suara — bahkan dari mereka yang kerap dianggap tak terdengar.
Sumber Artikel : https://edukasi.kompas.com/
Sumber Gambar : https://edukasi.kompas.com/
