Usia tidak menghentikan Abdul Ghofur untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral Ilmu Kelautan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada usia 61 tahun 5 bulan.

Ghofur menjadi wisudawan tertua dalam Wisuda ke-134 ITS yang berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Pencapaian ini menarik perhatian karena ia menjalani pendidikan doktoral sambil tetap menjalankan tanggung jawab profesional sebagai peneliti.

Perjalanan akademiknya bukan hanya tentang meraih gelar tertinggi di perguruan tinggi. Ia juga berupaya mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan teknologi kelautan dan energi terbarukan, khususnya struktur turbin angin lepas pantai terapung untuk perairan dangkal.

Kisah Ghofur memperlihatkan bagaimana pengalaman kerja dapat berjalan beriringan dengan pendidikan formal. Di tengah kesibukan penelitian, ia tetap menyediakan waktu untuk belajar, mengolah data, dan menyelesaikan disertasi. <Cite refs={[“turn611887search0″,”turn439851search3”]}/>

Kembali Kuliah pada Usia 57 Tahun

Ghofur memulai pendidikan doktoralnya di Fakultas Teknologi Kelautan ITS pada akhir 2022, ketika usianya menginjak 57 tahun. Keputusan tersebut diambil setelah salah seorang pimpinan di BRIN memberinya mandat untuk melanjutkan studi S3.

Sebelum bergabung dengan BRIN, Ghofur meniti karier sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Lembaga tersebut kemudian bergabung ke dalam BRIN pada 2021.

Pengalaman panjang di dunia penelitian menjadi modal penting ketika ia kembali menjadi mahasiswa. Bidang studi yang dipilih tetap sejalan dengan pekerjaan dan keahlian yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun.

Meski demikian, kembali ke bangku kuliah setelah puluhan tahun tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Perkembangan teknologi penelitian membuat Ghofur harus mempelajari perangkat lunak dan metode analisis yang mendukung kebutuhan risetnya.

Ia mengakui sempat mempertimbangkan faktor usia sebelum melanjutkan pendidikan. Namun, kesesuaian bidang keilmuan dengan pengalaman profesional membantunya menjalani perkuliahan.

Bagi Ghofur, pendidikan doktoral menjadi kesempatan untuk memperdalam pengetahuan sekaligus mengembangkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan Indonesia. <Cite refs={[“turn611887search0”]}/>

Membagi Waktu antara Riset dan Kuliah

Salah satu tantangan terbesar Ghofur adalah mengatur waktu. Ia tetap bekerja di kantor sebagai peneliti pada pagi hingga sore hari. Setelah menyelesaikan tugas pekerjaan, malam hari dimanfaatkan untuk belajar dan menulis disertasi.

Pola tersebut menuntut kedisiplinan dan konsistensi. Pendidikan doktoral tidak hanya membutuhkan kehadiran dalam kegiatan akademik, tetapi juga waktu panjang untuk membaca literatur, menyusun metodologi, menganalisis hasil, dan memperbaiki tulisan ilmiah.

Di sisi lain, tanggung jawab sebagai peneliti tetap harus dijalankan. Ghofur perlu menjaga keseimbangan antara kewajiban profesional dan target penyelesaian studinya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan lanjutan bagi profesional membutuhkan perencanaan yang matang. Dukungan lingkungan kerja dan kesesuaian topik penelitian dengan pekerjaan dapat membantu proses belajar menjadi lebih terarah.

Studi Ghofur juga mendapat dukungan melalui fasilitas In-House Beasiswa Riset (IBR) BRIN. Dukungan tersebut mencakup pendanaan pengujian dan publikasi dari promotornya, sehingga turut menunjang pelaksanaan penelitian doktoralnya. <Cite refs={[“turn439851search1″,”turn611887search0”]}/>

Meneliti Turbin Angin Terapung

Disertasi Ghofur berfokus pada pengembangan Short SPAR, yakni struktur untuk turbin angin lepas pantai terapung yang dirancang bagi kondisi perairan dangkal.

Topik tersebut berangkat dari karakteristik sejumlah wilayah perairan Indonesia yang memiliki kedalaman sekitar 20 hingga 25 meter. Kondisi geografis semacam ini menjadi salah satu pertimbangan dalam mengkaji desain struktur terapung untuk mendukung pengembangan teknologi energi di laut.

Turbin angin lepas pantai memanfaatkan angin di wilayah laut untuk menghasilkan listrik. Pada sistem terapung, struktur penopang perlu dirancang agar dapat menghadapi gerakan akibat gelombang, arus, dan kondisi lingkungan laut lainnya.

Karena itu, penelitian terhadap kestabilan struktur menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi tersebut. Riset Ghofur menghubungkan pengalamannya di bidang hidrodinamika dengan kajian energi terbarukan.

Ia mengombinasikan perhitungan numerik dengan pengujian hidrodinamika. Dalam prosesnya, ia menggunakan model SPAR klasik yang dilengkapi heave plate dan viscous plate untuk membantu meredam gerakan struktur terapung.

Penelitian ini menjadi contoh bagaimana keahlian yang dikembangkan melalui pengalaman profesional dapat diteruskan menjadi kajian akademik yang lebih mendalam. Meski demikian, penerapan teknologi tersebut tetap membutuhkan pengujian dan evaluasi lanjutan sebelum dapat digunakan dalam kondisi operasional nyata. <Cite refs={[“turn611887search0″,”turn439851search6”]}/>

Belajar Teknologi Baru untuk Riset

Setelah cukup lama tidak menjalani pendidikan formal, Ghofur perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan perangkat dan metode penelitian. Salah satu yang dipelajarinya adalah Ansys Fluent, perangkat lunak yang digunakan untuk membantu analisis numerik dan simulasi dinamika fluida.

Penguasaan perangkat tersebut mendukung kajiannya terhadap perilaku struktur terapung. Hasil perhitungan numerik kemudian dipadukan dengan pengujian di laboratorium untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh.

Pendekatan tersebut penting karena simulasi komputer dan eksperimen memiliki fungsi yang saling melengkapi. Simulasi membantu peneliti mempelajari berbagai kondisi secara terukur, sedangkan pengujian memberikan data untuk mengevaluasi perilaku model fisik.

Dalam penelitian teknik, hasil analisis tetap perlu ditafsirkan berdasarkan asumsi, parameter, dan batasan metode yang digunakan. Karena itu, penguasaan perangkat lunak bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga harus disertai pemahaman ilmiah.

Pengalaman Ghofur menunjukkan bahwa peneliti perlu terus memperbarui kompetensinya. Pengalaman kerja memberikan fondasi, tetapi perkembangan ilmu menuntut pembelajaran berkelanjutan.

Perjalanan Panjang dari ITS ke BRIN

Hubungan Ghofur dengan ITS telah dimulai jauh sebelum ia menempuh pendidikan doktoral. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Kelautan di kampus tersebut pada 1990.

Setelah itu, ia mengembangkan karier di bidang rekayasa dan teknologi kelautan melalui pekerjaannya di BPPT. Dalam perjalanan akademiknya, ia juga memperoleh kesempatan menempuh pendidikan magister di Newcastle University, Inggris.

Pengalaman belajar di luar negeri menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya. Ia harus beradaptasi dengan kehidupan jauh dari keluarga sekaligus memahami budaya belajar yang berbeda.

Setelah menyelesaikan studi magister, Ghofur kembali ke Indonesia dan melanjutkan pengabdian di bidang penelitian. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal saat ia kembali ke ITS untuk menuntaskan pendidikan doktoral.

Latar belakang pendidikan dan karier yang saling berkaitan membantu Ghofur mengembangkan topik penelitian yang sesuai dengan kompetensinya. Perjalanan ini juga menunjukkan bahwa pendidikan formal dan pengalaman lapangan dapat saling memperkuat dalam menghasilkan penelitian yang relevan. <Cite refs={[“turn611887search0”]}/>

Menjaga Etika dalam Pendidikan

Selain menekankan pentingnya disiplin, Ghofur memberikan perhatian pada etika akademik. Selama menjalani pendidikan doktoral, ia tetap menghormati dosen dan promotor meskipun sebagian dari mereka berusia lebih muda darinya.

Menurut pandangannya, pendidikan bukan hanya sarana untuk memperoleh gelar atau meningkatkan kemampuan intelektual. Proses belajar juga berperan dalam membentuk adab, moral, dan karakter.

Ia mengingatkan mahasiswa agar menjaga kedisiplinan, tekun belajar, bekerja keras, serta menghindari kebiasaan yang memicu kemalasan.

Pesan tersebut relevan bagi mahasiswa dari berbagai kelompok usia. Kemampuan akademik perlu diimbangi dengan sikap terbuka terhadap masukan, penghormatan kepada pengajar, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan ilmiah.

Pengalaman Ghofur juga memperlihatkan bahwa status profesional tidak menghilangkan posisi seseorang sebagai pembelajar. Ketika kembali ke lingkungan akademik, setiap mahasiswa tetap perlu mengikuti proses pendidikan dan menghargai peran pembimbing.

Terus Mengembangkan Penelitian

Setelah meraih gelar doktor, Ghofur berencana melanjutkan pengabdiannya sebagai peneliti di BRIN. Ia ingin terus mengembangkan riset Short SPAR sekaligus berkontribusi pada penelitian perlindungan pesisir Indonesia.

Rencana tersebut memperlihatkan bahwa kelulusan bukan akhir dari proses belajar. Gelar doktor dapat menjadi landasan untuk memperluas penelitian, menguji gagasan baru, dan membagikan pengetahuan kepada komunitas ilmiah maupun masyarakat.

Di tengah tantangan pengembangan teknologi kelautan dan energi terbarukan, Indonesia membutuhkan penelitian yang mempertimbangkan karakteristik perairan nasional. Kajian struktur terapung untuk perairan dangkal menjadi salah satu bidang yang dapat terus dievaluasi sesuai kebutuhan teknologi dan kondisi lingkungan.

Keberhasilan Ghofur menyelesaikan S3 pada usia 61 tahun juga membawa pesan bahwa kesempatan belajar tidak harus berhenti ketika seseorang telah lama bekerja. Dengan disiplin, dukungan yang tepat, dan kemauan mempelajari hal baru, pengalaman profesional dapat menjadi bekal untuk terus berkembang.

Perjalanannya menjadi pengingat bahwa pendidikan sepanjang hayat bukan sekadar slogan. Bagi Ghofur, proses tersebut diwujudkan melalui kerja penelitian, pengembangan keahlian, dan komitmen untuk terus berkontribusi bagi Indonesia.



Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/