Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fathimah Azzahra, menjadi sorotan setelah berhasil menyelesaikan sidang skripsi Sarjana Kedokteran dalam waktu tiga tahun. Pencapaian tersebut menarik perhatian karena diraih ketika ia juga aktif menjalankan tanggung jawab organisasi mahasiswa dan terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi.

Fathimah menjalani sidang skripsi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada Jumat, 16 Oktober 2026. Kabar tersebut kemudian diketahui publik melalui unggahan di media sosial yang memperlihatkan dirinya bersama naskah skripsi dan buket bunga sebagai penanda selesainya salah satu tahap penting dalam perjalanan akademiknya.

Keberhasilan itu memperlihatkan bahwa aktivitas organisasi dan pendidikan dapat berjalan beriringan dengan perencanaan yang baik. Namun, penyelesaian tahap sarjana tidak berarti Fathimah sudah resmi menyandang gelar profesi dokter. Ia masih harus menempuh pendidikan profesi dokter dan memenuhi persyaratan kompetensi yang berlaku.

Menyelesaikan Studi dalam Tiga Tahun

Fathimah merupakan mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Dokter FKUI angkatan 2023. Ia diterima di Universitas Indonesia melalui jalur Talent Scouting pada Program Kelas Khusus Internasional (KKI).

Ia mulai tercatat sebagai mahasiswa UI pada 28 Agustus 2023. Dalam waktu sekitar tiga tahun, Fathimah berhasil menyelesaikan tahap akademik sarjana hingga sidang skripsi.

Pencapaian tersebut menjadi perhatian karena pendidikan kedokteran dikenal memiliki tuntutan akademik yang tinggi. Mahasiswa harus mempelajari beragam disiplin ilmu, memahami dasar-dasar medis, mengikuti kegiatan akademik, serta mengembangkan kemampuan analisis dan penelitian.

Penyelesaian skripsi juga memerlukan proses panjang, mulai dari menentukan topik, menyusun rancangan penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data, hingga mempertanggungjawabkan hasil penelitian di hadapan penguji.

Di tengah rangkaian tuntutan tersebut, Fathimah tetap menjalankan kegiatan organisasi. Perannya sebagai Wakil Ketua BEM UI membuat ia terlibat dalam koordinasi organisasi, diskusi kebijakan, serta penyampaian aspirasi mahasiswa.

Meski demikian, keberhasilan menyelesaikan studi dalam waktu relatif singkat tidak serta-merta dapat dijadikan ukuran bahwa setiap mahasiswa harus menempuh jalur yang sama. Lama studi dapat dipengaruhi oleh kurikulum, sistem pembelajaran, beban penelitian, dan kondisi masing-masing mahasiswa.

Perjalanan Pendidikan di FKUI

Sebelum masuk Universitas Indonesia, Fathimah menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 3 Depok. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di FKUI melalui jalur Talent Scouting untuk Program Kelas Khusus Internasional.

Pilihan terhadap pendidikan kedokteran menjadi awal perjalanan akademiknya di bidang kesehatan. Selama kuliah, ia tidak hanya mengikuti kegiatan pembelajaran, tetapi juga terlibat dalam komunitas ilmiah dan kegiatan sosial di lingkungan kampus.

Pada 2024, Fathimah pernah menjabat sebagai Head of Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FKUI. Komunitas tersebut berkaitan dengan bidang ilmu saraf dan psikiatri, termasuk pengembangan pengetahuan serta edukasi mengenai kesehatan jiwa.

Ia juga pernah menjadi Project Officer kegiatan Semarak Ramadan yang diselenggarakan Forum Studi Islam FKUI. Pengalaman ini menunjukkan keterlibatannya dalam kegiatan kemahasiswaan di tingkat fakultas.

Pada 2025, kiprahnya berlanjut ke tingkat universitas. Fathimah dipercaya menjadi Head of 2nd Commission Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia (DPM UI).

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk terlibat dalam dinamika organisasi mahasiswa, termasuk pembahasan tata kelola dan proses demokrasi di lingkungan kampus.

Rangkaian pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Fathimah sebelum terpilih sebagai Wakil Ketua BEM UI periode 2026.

Menjalankan Tanggung Jawab sebagai Wakil Ketua BEM UI

Pada Januari 2026, Fathimah terpilih sebagai Wakil Ketua BEM UI, mendampingi Yatalathof Ma’shum Imawan yang menjabat sebagai ketua.

Posisi tersebut menempatkannya dalam jajaran pimpinan organisasi mahasiswa tingkat universitas. BEM UI menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, mengembangkan kegiatan kemahasiswaan, serta merespons berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan kampus dan kebijakan publik.

Sepanjang 2026, nama Fathimah semakin dikenal melalui keterlibatannya dalam forum diskusi dan gerakan mahasiswa. Ia menyampaikan pandangan kritis mengenai sejumlah persoalan publik, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan prioritas pembangunan.

Dalam diskusi mengenai kebijakan publik, Fathimah menyoroti pentingnya melihat kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Isu pendidikan, akses layanan dasar, dan kondisi infrastruktur menjadi bagian dari pembahasan yang menurutnya perlu mendapat perhatian.

Aktivitas advokasi tersebut membuat jadwalnya tidak hanya berkutat pada kegiatan akademik. Ia harus membagi waktu antara perkuliahan, penyelesaian tugas akhir, koordinasi organisasi, serta kegiatan di luar kampus.

Keberhasilannya menyelesaikan sidang skripsi di tengah kesibukan tersebut kemudian menjadi sisi lain dari sosok yang dikenal melalui aktivitas kemahasiswaan.

Catatan Prestasi di Bidang Penelitian

Selain aktif dalam organisasi, Fathimah juga memiliki pengalaman di bidang penelitian medis.

Pada Mei 2025, ia bersama tim penelitinya dilaporkan meraih juara pertama dalam kompetisi riset nasional The 17th Liver Update melalui penelitian di bidang hepatologi. Bidang ini mempelajari hati, fungsi organ tersebut, serta berbagai penyakit yang berkaitan dengannya.

Prestasi tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam kegiatan ilmiah ketika masih menempuh pendidikan sarjana. Penelitian merupakan bagian penting dari pendidikan kedokteran karena membantu mahasiswa memahami bagaimana pengetahuan medis dikembangkan melalui pengamatan, pengumpulan data, dan pengujian ilmiah.

Kemampuan meneliti juga dapat mendukung pemahaman terhadap persoalan kesehatan masyarakat. Temuan ilmiah yang disusun dengan metode tepat dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi pendekatan pencegahan penyakit maupun pelayanan kesehatan.

Pengalaman organisasi dan penelitian memberikan dua ruang pembelajaran yang berbeda bagi mahasiswa kedokteran. Kegiatan akademik mengasah pemahaman ilmiah, sementara organisasi melatih komunikasi, koordinasi, dan kemampuan menyampaikan gagasan.

Namun, keduanya tetap membutuhkan pengelolaan waktu dan penentuan prioritas agar kewajiban akademik dapat diselesaikan sesuai ketentuan.

Belum Resmi Menjadi Dokter

Meski telah menyelesaikan sidang skripsi dalam tiga tahun, Fathimah belum dapat disebut sebagai dokter yang sudah memenuhi seluruh tahapan pendidikan profesi.

Dalam sistem pendidikan kedokteran di Indonesia, kelulusan pada tahap sarjana merupakan bagian dari proses panjang untuk menjadi dokter. Lulusan Sarjana Kedokteran masih perlu menjalani pendidikan profesi dokter atau kepaniteraan klinik yang umum dikenal sebagai koas.

Pada tahap tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman klinis di fasilitas pelayanan kesehatan dengan bimbingan tenaga medis dan mengikuti ketentuan pendidikan yang berlaku. Setelah memenuhi persyaratan pendidikan profesi, lulusan juga harus menuntaskan tahapan uji kompetensi serta persyaratan administratif yang ditetapkan sebelum dapat menjalankan praktik sesuai aturan.

Karena itu, capaian Fathimah saat ini lebih tepat dipahami sebagai keberhasilan menyelesaikan tahap sarjana dalam waktu relatif singkat, bukan sebagai tanda bahwa seluruh proses menjadi dokter telah selesai.

Tahap profesi memiliki tantangan tersendiri karena mahasiswa perlu menerapkan pengetahuan yang dipelajari selama kuliah pada situasi klinis. Mereka juga dituntut mengembangkan keterampilan komunikasi dengan pasien, penalaran klinis, dan pemahaman terhadap etika profesi.

Inspirasi bagi Mahasiswa

Pencapaian Fathimah Azzahra memberikan gambaran mengenai perjalanan mahasiswa yang berusaha menyeimbangkan pendidikan dan aktivitas organisasi. Ia menjalani studi kedokteran, terlibat dalam kegiatan penelitian, serta memegang tanggung jawab sebagai pimpinan organisasi mahasiswa.

Kisah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk menyusun target akademik, mengelola waktu, dan memanfaatkan kesempatan belajar di luar ruang kuliah. Pengalaman organisasi juga dapat memperluas wawasan mengenai persoalan sosial yang berkaitan dengan bidang studi mereka.

Meski demikian, setiap mahasiswa memiliki situasi dan jalur pendidikan yang berbeda. Kecepatan menyelesaikan studi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Penguasaan ilmu, kualitas penelitian, integritas akademik, serta kesiapan menjalankan tanggung jawab profesional tetap menjadi hal penting.

Bagi Fathimah, penyelesaian sidang skripsi merupakan salah satu tonggak dalam perjalanan panjangnya di bidang kedokteran. Setelah tahap sarjana, pendidikan profesi akan menjadi langkah berikutnya untuk memperdalam keterampilan klinis dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab sebagai tenaga medis.

Keberhasilan menyelesaikan studi dalam tiga tahun pun menandai babak baru dalam perjalanan akademiknya, sementara kiprahnya di organisasi mahasiswa memperlihatkan bahwa perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan persoalan masyarakat dapat berjalan beriringan.



Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/