Marsya Raih Prestasi Meski Terbatas
Keterbatasan ekonomi tidak menghentikan langkah Lia Marsya Fazliana untuk meraih prestasi akademik. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut berhasil menyandang predikat wisudawati terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,89.
Pencapaian itu terasa istimewa karena Marsya harus menjalani perjalanan kuliah dengan berbagai keterbatasan. Pada awal perkuliahan, ia belum memiliki laptop pribadi sehingga harus meminjam perangkat milik teman atau kerabat untuk mengerjakan tugas akademik.
Marsya juga merupakan mahasiswa perantau dari Kuningan, Jawa Barat. Selama menempuh pendidikan di Jakarta, ia tinggal di kos dan harus mengatur pengeluaran secara cermat agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Empat tahun setelah memulai kuliah, perjuangan tersebut berbuah hasil. Marsya menyelesaikan pendidikan sarjananya dan menerima predikat wisudawati terbaik FMIPA UNJ dalam Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi IV pada Kamis, 22 Oktober 2026. <Cite refs={[“turn355803search0″,”turn355803search3”]}/>
Kuliah dengan Laptop Pinjaman
Bagi sebagian mahasiswa, laptop merupakan perangkat utama untuk mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, melakukan penelitian, dan menyusun skripsi. Namun, bagi Marsya, memiliki perangkat tersebut bukan sesuatu yang bisa langsung diwujudkan ketika memulai pendidikan tinggi.
Keterbatasan uang saku membuatnya harus mencari cara agar kegiatan akademik tetap berjalan. Ia memanfaatkan laptop pinjaman dari teman maupun saudara untuk mengerjakan berbagai tugas kuliah.
Situasi itu menuntut Marsya mengatur waktu dan kebutuhan dengan lebih disiplin. Ia harus memastikan kesempatan menggunakan perangkat tidak terbuang sia-sia, terutama ketika menghadapi tugas yang membutuhkan pengerjaan dalam waktu panjang.
Di tengah kondisi tersebut, Marsya tidak ingin keterbatasan fasilitas menjadi alasan untuk berhenti mengejar pendidikan. Ia berupaya menyelesaikan tanggung jawab akademik satu per satu sembari mencari informasi tentang kesempatan yang dapat mendukung studinya.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa tantangan mahasiswa tidak selalu berkaitan dengan materi perkuliahan. Ketersediaan perangkat belajar, biaya hidup, akses informasi, dan dukungan lingkungan juga memengaruhi perjalanan seseorang dalam menyelesaikan pendidikan.
Penerima KIP Kuliah dari Kuningan
Salah satu faktor yang membantu Marsya melanjutkan pendidikan adalah program Kartu Indonesia Pintar Kuliah atau KIP Kuliah.
Program bantuan pendidikan tersebut ditujukan untuk memperluas kesempatan mengakses perguruan tinggi bagi calon mahasiswa yang memenuhi persyaratan. Dukungan ini menjadi penting bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi agar dapat melanjutkan pendidikan tanpa sepenuhnya terbebani biaya kuliah.
Bagi Marsya, kesempatan kuliah melalui bantuan tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia menyadari bahwa pendidikan tinggi merupakan peluang besar untuk mengembangkan diri dan membuka kesempatan karier pada masa mendatang.
Marsya merupakan anak pertama dalam keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi. Kondisi itu membuatnya harus mempelajari banyak hal secara mandiri, mulai dari memahami sistem perkuliahan hingga mencari informasi tentang kegiatan akademik dan pengembangan diri.
Sebagai mahasiswa perantau, ia juga perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan mengelola pengeluaran sehari-hari. Uang saku yang terbatas membuatnya belajar menentukan prioritas, terutama antara kebutuhan hidup dan keperluan akademik.
Di balik perjuangan tersebut, dukungan sang ibu menjadi sumber motivasi utama. Marsya menyebut ibunya, yang merupakan orang tua tunggal, selalu berusaha memberikan yang terbaik agar dirinya dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Ia memandang keberhasilannya bukan hanya hasil kerja keras pribadi, melainkan juga buah dari doa, dukungan, dan pengorbanan keluarga.
Memilih Pendidikan Kimia
Marsya memilih Program Studi Pendidikan Kimia karena tertarik pada ilmu kimia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus bidang pendidikan yang berperan dalam membentuk cara berpikir seseorang.
Selama kuliah, pemahamannya mengenai profesi pendidik juga berkembang. Menurutnya, seorang pendidik tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik membangun pemahaman dan mengembangkan potensi.
Pandangan tersebut kemudian tercermin dalam penelitian skripsinya yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Conceptual Change terhadap Pemahaman Konseptual Peserta Didik pada Materi Hidrolisis Garam.
Dalam penelitian itu, Marsya membandingkan model pembelajaran Conceptual Change dengan metode Direct Instruction. Ia ingin mengetahui pengaruh pendekatan pembelajaran terhadap pemahaman konseptual peserta didik dalam materi hidrolisis garam.
Penelitian tersebut menggunakan instrumen tes pilihan ganda tiga tingkat atau three-tier multiple choice. Instrumen ini tidak hanya menilai apakah jawaban peserta didik benar atau salah, tetapi juga mempertimbangkan alasan di balik jawaban dan tingkat keyakinan mereka.
Pendekatan tersebut membantu mengidentifikasi kemungkinan miskonsepsi, yaitu pemahaman yang belum sesuai dengan konsep ilmiah.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model Conceptual Change memberikan pengaruh signifikan terhadap pemahaman konseptual peserta didik pada materi yang diteliti. Temuan itu menegaskan pentingnya proses pembelajaran yang membantu siswa memperbaiki pemahaman awal, bukan sekadar menghafal informasi.
Dukungan Dosen dan Sahabat
Keberhasilan Marsya menyelesaikan skripsi juga tidak terlepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya.
Ia menyebut dosen pembimbingnya, Tritiyatma Hadinugrahaningsih, sebagai sosok yang berperan penting selama proses akademik. Pendampingan berlangsung sejak mata kuliah Seminar Pendidikan Kimia hingga penyelesaian skripsi.
Selain memberikan arahan akademik, dosen tersebut juga membuka kesempatan bagi Marsya untuk terlibat dalam kegiatan penelitian. Pengalaman itu membantunya memahami proses ilmiah secara lebih mendalam.
Marsya juga mengapresiasi dukungan sahabatnya, Adinda Rizka Triana. Keduanya telah bersama sejak awal masa perkuliahan dan menjalani sejumlah proses akademik yang beririsan, termasuk penelitian dan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Hubungan pertemanan tersebut menjadi sumber dukungan emosional selama menghadapi berbagai tantangan kuliah. Kehadiran teman yang memahami kesulitan dan dapat diajak berdiskusi membuat perjalanan akademik terasa lebih ringan.
Kisah Marsya menunjukkan bahwa keberhasilan mahasiswa bukan semata-mata hasil usaha individu. Lingkungan yang mendukung, bimbingan dosen, persahabatan, serta dukungan keluarga turut berperan dalam membantu seseorang menyelesaikan pendidikan.
Predikat Terbaik Bukan Akhir Perjalanan
Ketika mengetahui dirinya meraih predikat wisudawati terbaik FMIPA UNJ, Marsya mengaku terharu. Baginya, pencapaian tersebut bukan sekadar pengakuan atas hasil akademik, melainkan juga pengingat terhadap perjuangan panjang yang telah dilalui bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
Meski demikian, ia tidak menganggap gelar tersebut sebagai tanda bahwa proses belajar telah selesai. Marsya justru melihatnya sebagai dorongan untuk terus mengembangkan kemampuan dan menjaga sikap rendah hati.
Setelah lulus, ia berencana mulai membangun karier dan membuka diri terhadap berbagai kesempatan, baik di bidang pendidikan maupun bidang lainnya.
Pengalaman selama kuliah diharapkan menjadi bekal untuk menghadapi tahap kehidupan berikutnya. Pengetahuan akademik, kemampuan melakukan penelitian, serta pengalaman mengatasi keterbatasan dapat menjadi modal penting ketika memasuki dunia kerja.
Marsya juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa tingkat akhir agar tidak membandingkan perjalanan mereka dengan pencapaian orang lain. Setiap mahasiswa memiliki kondisi, waktu, dan tantangan yang berbeda.
Menurutnya, rasa lelah selama menjalani pendidikan merupakan hal yang wajar. Mahasiswa boleh beristirahat ketika membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga, tetapi sebaiknya tetap melanjutkan proses secara bertahap.
Inspirasi bagi Mahasiswa Lain
Perjalanan Lia Marsya Fazliana menjadi pengingat bahwa akses pendidikan dan prestasi akademik dipengaruhi banyak faktor. Keterbatasan perangkat, biaya hidup, dan tuntutan perkuliahan dapat menjadi tantangan nyata, terutama bagi mahasiswa perantau dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Dukungan seperti KIP Kuliah dapat membantu membuka kesempatan, tetapi mahasiswa tetap membutuhkan akses informasi, lingkungan belajar yang mendukung, dan fasilitas yang memadai.
Kisah Marsya juga memperlihatkan pentingnya memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Ketika belum memiliki laptop pribadi, ia mencari jalan keluar dengan meminjam perangkat. Ketika menghadapi penelitian, ia belajar melalui bimbingan dosen dan dukungan sahabat.
Prestasi yang diraihnya tidak berarti setiap mahasiswa harus menempuh jalan yang sama. Sebaliknya, kisah ini menunjukkan bahwa setiap orang dapat membangun strategi sesuai kondisi dan kemampuannya masing-masing.
Bagi Marsya, kelulusan bukan garis akhir. Predikat wisudawati terbaik dengan IPK 3,89 menjadi salah satu pencapaian dalam perjalanan panjang untuk terus belajar, mengembangkan diri, dan membuka peluang baru.
Dari laptop pinjaman hingga berdiri sebagai lulusan terbaik FMIPA UNJ, perjalanan Marsya membawa pesan sederhana: keterbatasan memang dapat membuat langkah lebih sulit, tetapi bukan berarti kesempatan untuk maju harus berakhir.
Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/
