Najmi Salma Vannisa Abi baru saja menyelesaikan salah satu tahap penting dalam perjalanan pendidikannya. Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu berhasil lulus dengan IPK 3,99.

Capaian tersebut semakin menarik perhatian karena Najmi berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara sang ibu menjalankan usaha sebagai pedagang kecil. Di tengah kondisi tersebut, Najmi mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi melalui KIP Kuliah.

Najmi kemudian tidak hanya menyelesaikan kuliah, tetapi juga menjadi wisudawan terbaik UNNES ke-142. Ia menempuh pendidikan selama empat tahun sebelum resmi mengikuti rangkaian wisuda pada 19 September 2026.

Berawal dari Keluarga Sederhana

Perjalanan Najmi menuju perguruan tinggi tidak terlepas dari dukungan keluarganya. Kondisi ekonomi keluarga membuat beasiswa menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pendidikannya.

Melalui KIP Kuliah, Najmi memperoleh kesempatan untuk berkuliah di UNNES. Program tersebut menjadi salah satu jalan yang membantunya mengakses pendidikan tinggi tanpa harus menjadikan kondisi ekonomi keluarga sebagai batas dalam mengejar pendidikan.

Bagi Najmi, dukungan orang tua memiliki arti besar. Ia mengaku mendapatkan pesan bahwa latar belakang keluarga yang sederhana tidak seharusnya membatasi langkah seseorang.

“Latar belakang boleh sederhana, tetapi langkah tidak harus ikut terbatas,” ujar Najmi seperti dikutip dari laman resmi UNNES.

Pesan tersebut kemudian menjadi salah satu pegangan Najmi selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Bukan Hanya Mengejar IPK

Meski berhasil memperoleh IPK 3,99, aktivitas Najmi selama kuliah tidak hanya berpusat pada ruang kelas.

Ia memilih peminatan kesehatan lingkungan karena ingin memahami bagaimana ilmu kesehatan masyarakat dapat diterapkan untuk menjawab persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Salah satu pengalaman penting diperolehnya ketika menjalani magang di Dinas Kesehatan Kota Salatiga.

Dalam kegiatan tersebut, Najmi terlibat dalam survei kualitas air minum rumah tangga. Ia membantu mendata dan memvalidasi hasil pemeriksaan kualitas air dari 180 rumah yang tersebar di enam wilayah puskesmas.

Tidak berhenti pada proses pendataan, Najmi juga terlibat dalam penyusunan standar operasional prosedur atau SOP untuk pelaksanaan survei tersebut.

Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang diperoleh di kampus dapat digunakan untuk memahami persoalan kesehatan di lapangan.

“Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, saya belajar bahwa ilmu tidak berhenti di ruang kelas,” kata Najmi.

Aktif Organisasi dan Kompetisi

Di tengah kesibukan akademik, Najmi juga aktif mengikuti organisasi. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran di kelas.

Melalui organisasi, ia belajar bekerja dalam tim, mengoordinasikan berbagai kegiatan, serta berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda.

Najmi juga mencoba mengembangkan ketertarikannya terhadap isu lingkungan melalui berbagai kompetisi.

Salah satu pencapaiannya adalah meraih juara pertama tingkat nasional melalui karya film pendek yang mengangkat isu lingkungan. Karya tersebut menjadi salah satu bentuk kepeduliannya terhadap persoalan keberlanjutan dan lingkungan.

Selain itu, Najmi berhasil meraih juara kedua lomba artikel ilmiah melalui karya yang disusun berdasarkan kajian dan analisis di bidang kesehatan.

Berbagai kompetisi tersebut tidak hanya memberikan penghargaan. Bagi Najmi, kegiatan itu menjadi ruang untuk belajar menyampaikan gagasan, menguji kemampuan, serta membagikan pengetahuan kepada orang lain.

Pengalaman di Lapangan Membentuk Najmi

Pendidikan kesehatan masyarakat yang dijalani Najmi membuatnya melihat bahwa persoalan kesehatan memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam pidato wisudanya, ia menyinggung gagasan dari Ottawa Charter yang menempatkan kesehatan sebagai sesuatu yang diciptakan dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Perspektif tersebut membuat Najmi melihat kesehatan tidak semata-mata sebagai persoalan rumah sakit atau pengobatan.

Air yang dikonsumsi masyarakat, lingkungan tempat tinggal, pengelolaan sampah, hingga kondisi sosial turut memiliki kaitan dengan kesehatan masyarakat.

Karena itu, pengalaman magang, penelitian, kegiatan sosial, organisasi, hingga kompetisi menjadi bagian dari proses pembelajaran Najmi selama berada di UNNES.

IPK 3,99 Bukan Segalanya

Angka 3,99 tentu menjadi catatan penting dalam perjalanan akademik Najmi. Namun, bagi dirinya, angka tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Setelah empat tahun menjalani perkuliahan, Najmi melihat UNNES bukan hanya sebagai tempat memperoleh gelar sarjana.

Kampus memberinya kesempatan untuk mencoba berbagai hal, bertemu dengan banyak orang, mengikuti kegiatan di luar kelas, serta mengenali kemampuan dirinya sendiri.

Najmi bahkan menilai perjalanan tersebut terlalu panjang jika hanya dirangkum melalui sebuah angka.

“Najmi yang masuk UNNES dulu mungkin bukan siapa-siapa. Sekarang setelah sampai di titik wisuda, saya melihat UNNES bukan hanya sebagai tempat saya mendapatkan gelar,” tuturnya.

Menurut Najmi, pengalaman selama kuliah justru menjadi bagian yang membentuk dirinya dan mempersiapkannya menghadapi tahap berikutnya.

Ia pun memiliki pandangan sederhana mengenai pencapaian akademiknya.

“3,99 adalah hasil, tapi perjalanan ini untuk semua sampai di sini adalah cerita yang sebenarnya,” ujarnya.

Kisah yang Berawal dari Kesempatan

Perjalanan Najmi menunjukkan bagaimana kesempatan pendidikan dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan mahasiswa dari keluarga sederhana.

KIP Kuliah menjadi salah satu pintu yang memungkinkan Najmi mengakses pendidikan tinggi. Setelah mendapatkan kesempatan tersebut, ia mengisinya dengan pencapaian akademik dan berbagai pengalaman di luar kelas.

Kisahnya juga memperlihatkan bahwa perjalanan mahasiswa tidak selalu berlangsung melalui satu jalur. Ada ruang untuk belajar melalui kuliah, magang, organisasi, kompetisi, penelitian, hingga kegiatan sosial.

Bagi Najmi, seluruh pengalaman tersebut akhirnya bertemu pada satu titik ketika ia berdiri sebagai wisudawan terbaik UNNES ke-142.

IPK 3,99 menjadi salah satu bukti pencapaian akademiknya. Namun, di balik angka itu terdapat perjalanan empat tahun, dukungan keluarga, kesempatan melalui KIP Kuliah, serta berbagai pengalaman yang membentuk dirinya.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana Kesehatan Masyarakat, Najmi memasuki babak baru. Perjalanan di UNNES telah berakhir, tetapi pengalaman yang diperolehnya menjadi bekal untuk melanjutkan langkah berikutnya.



Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/