Aurella Shafa Raih IPK 3,97
Meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,97 di Fakultas Kedokteran bukan pencapaian yang mudah. Mahasiswa harus menghadapi materi perkuliahan yang luas, praktikum, ujian blok, tutorial, hingga kegiatan keterampilan klinis. Namun, berbagai tantangan tersebut berhasil dilalui Aurella Shafa Helsana, wisudawan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Aurella menuntaskan pendidikan tahap sarjana kedokteran dengan predikat cumlaude pada Wisuda ke-55 Umsura. Prestasi tersebut menjadi hasil dari konsistensi dan kesungguhannya menjalani proses akademik selama masa pendidikan praklinik.
Menariknya, Aurella mengaku tidak pernah memasang target nilai yang terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Ia memilih menjalani setiap proses perkuliahan dan ujian dengan memberikan usaha terbaik, tanpa membebani diri dengan tuntutan untuk selalu mendapatkan nilai sempurna.
Menurutnya, tantangan terbesar selama kuliah kedokteran bukan hanya memahami banyak materi, tetapi juga mengatur waktu dan menjaga konsistensi belajar. Padatnya jadwal akademik membuat mahasiswa harus mampu menentukan prioritas agar seluruh tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik.
Mencatat Materi dengan Bahasa Sendiri
Salah satu cara belajar Aurella Shafa yang menarik untuk ditiru adalah kebiasaannya mencatat materi menggunakan buku tulis. Ia tidak sekadar menyalin penjelasan dosen, tetapi menyusun kembali informasi menggunakan kalimat dan bahasa sendiri.
Metode tersebut membantunya memahami materi secara lebih mendalam. Ketika menulis ulang sebuah konsep, mahasiswa perlu mengolah informasi terlebih dahulu sebelum menuangkannya ke dalam catatan.
Cara ini juga memudahkan Aurella ketika harus mengulang pelajaran. Catatan yang disusun dengan pemahamannya sendiri terasa lebih mudah dibaca dibandingkan kumpulan materi yang hanya disalin secara mentah.
Saat mengikuti perkuliahan, ia terbiasa mendengarkan penjelasan dosen sambil menuliskan poin-poin penting pada lembar cetak materi presentasi. Dengan demikian, ia memiliki ringkasan tambahan yang dapat digunakan untuk mengingat kembali penjelasan di kelas.
Kebiasaan tersebut menjadi strategi praktis, terutama ketika waktu belajar terbatas dan materi yang harus dipelajari cukup banyak.
Memahami Konsep Lebih Penting
Aurella juga menekankan pentingnya memahami konsep dasar sebelum mempelajari materi yang lebih kompleks. Baginya, menghafal tanpa memahami hubungan antarkonsep dapat menyulitkan mahasiswa ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penalaran.
Salah satu contohnya terlihat ketika mempelajari patofisiologi. Sebelum masuk ke pembahasan mengenai gangguan atau perubahan fungsi tubuh akibat penyakit, ia memastikan terlebih dahulu memahami fisiologi.
Dengan menguasai dasar tersebut, mahasiswa dapat mengikuti alur proses yang terjadi dalam tubuh dan memahami keterkaitan antara kondisi normal dengan perubahan akibat penyakit.
Pendekatan ini relevan dengan karakter pendidikan kedokteran yang membutuhkan kemampuan menghubungkan berbagai disiplin ilmu. Materi anatomi, fisiologi, biokimia, hingga patologi tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dalam memahami kondisi kesehatan manusia.
Bagi mahasiswa kedokteran, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan menjadi bekal penting untuk menghadapi tahap pendidikan berikutnya.
Memilih Waktu Belajar Dini Hari
Dalam mengatur jadwal belajar, Aurella tidak menerapkan rutinitas yang terlalu kaku. Ia biasanya memilih waktu dini hari karena merasa lebih nyaman mempelajari materi pada periode tersebut.
Meski demikian, ia tetap berusaha menghindari kebiasaan belajar hingga terlalu larut malam. Menjaga kondisi tubuh menjadi bagian penting agar aktivitas akademik dapat dijalani secara berkelanjutan.
Menurut Aurella, manajemen waktu bukan berarti setiap jam harus diisi dengan belajar. Mahasiswa juga perlu mengetahui kapan harus fokus dan kapan memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak selalu ditentukan oleh lamanya seseorang duduk di depan buku. Kualitas konsentrasi, pemahaman materi, dan kondisi fisik turut memengaruhi efektivitas belajar.
Mahasiswa yang memiliki jadwal padat perlu mengenali waktu paling produktif bagi dirinya. Dengan begitu, kegiatan belajar dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
Menghadapi Ujian Terberat
Salah satu tantangan akademik paling berat yang pernah dihadapi Aurella adalah exit exam sebelum memasuki pendidikan profesi dokter.
Ujian tersebut menuntut mahasiswa mengintegrasikan kembali materi dari puluhan blok yang telah dipelajari selama empat tahun pendidikan praklinik. Banyaknya materi membuat persiapan membutuhkan strategi yang terarah.
Dalam menghadapi ujian itu, Aurella berusaha menjaga kondisi mental dan berfokus pada proses belajarnya sendiri. Ia tidak ingin terlalu sibuk membandingkan perkembangan akademiknya dengan teman-teman lain.
Aurella juga lebih nyaman mempelajari materi secara mandiri sebelum berdiskusi bersama teman. Belajar sendiri memberinya kesempatan memahami materi sesuai ritme dan gaya belajarnya.
Setelah memiliki pemahaman awal, diskusi menjadi sarana untuk bertukar pengetahuan dan mengklarifikasi hal-hal yang belum dimengerti. Kombinasi tersebut membantunya melihat materi dari sudut pandang berbeda.
Strategi ini menunjukkan bahwa belajar mandiri dan diskusi kelompok tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi jika digunakan sesuai kebutuhan.
Aktif Organisasi dan Kompetisi
Di tengah kesibukan kuliah, Aurella tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik. Ia juga aktif mengikuti organisasi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) serta sejumlah kompetisi.
Beberapa kegiatan yang pernah diikutinya meliputi lomba anatomi dan lomba inovasi. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di luar kegiatan perkuliahan.
Namun, mengikuti berbagai aktivitas tentu membutuhkan pengaturan waktu yang baik. Aurella berusaha mempertimbangkan skala prioritas dan tanggung jawab akademik sebelum mengambil kegiatan tambahan.
Pengalaman berorganisasi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai kerja sama, komunikasi, dan tanggung jawab. Kemampuan tersebut penting bagi calon dokter yang kelak akan bekerja bersama tenaga kesehatan lain.
Dengan demikian, pencapaian akademik tidak membuatnya mengabaikan pengembangan diri melalui kegiatan nonakademik.
Dukungan Orang Tua Jadi Kekuatan
Di balik keberhasilan meraih IPK 3,97, Aurella menyebut orang tua sebagai sumber dukungan terbesar dalam perjalanan pendidikannya.
Ia mengungkapkan bahwa orang tuanya tidak pernah menuntut dirinya untuk selalu memperoleh nilai sempurna. Mereka justru lebih mengutamakan kesehatan, kebahagiaan, dan proses pendidikan yang dijalani.
Dukungan tersebut membuat Aurella merasa memiliki ruang untuk berkembang tanpa tekanan berlebihan. Ia juga memandang pencapaian akademiknya bukan semata-mata hasil perjuangan pribadi, melainkan buah dari doa, pengorbanan, dan kepercayaan keluarga.
Aurella turut menyampaikan apresiasi kepada para dosen yang telah membimbingnya selama masa pendidikan. Ia secara khusus menyebut dr. Nurma dan dr. Laily sebagai sosok yang memberikan arahan serta dukungan dalam perjalanan akademiknya.
Bersiap Menjadi Dokter
Setelah menyelesaikan pendidikan praklinik, Aurella kini bersiap memasuki tahap pendidikan profesi dokter. Tahap tersebut akan membawanya lebih dekat dengan pengalaman klinis, termasuk menghadapi pasien dan mempelajari berbagai kasus medis secara langsung.
Ia bertekad menjalani setiap rotasi dengan sungguh-sungguh, memperdalam kemampuan klinis, serta terus mengembangkan pengetahuan.
Bagi Aurella, IPK tinggi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan mahasiswa kedokteran. Pemahaman materi dan kemampuan mengintegrasikan ilmu justru menjadi bekal penting untuk menjalankan tanggung jawab sebagai dokter.
Ia juga membagikan tiga pesan kepada mahasiswa yang sedang berjuang menghadapi tuntutan akademik. Pertama, kenali kemampuan dan batas diri, kemudian temukan metode belajar yang paling sesuai. Kedua, ingat kembali tujuan awal agar motivasi tetap terjaga ketika menghadapi kejenuhan. Ketiga, jangan mudah berpuas diri dan terus kembangkan kemampuan meskipun telah meraih prestasi.
Kisah Aurella Shafa memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik tidak selalu berawal dari target nilai yang tinggi. Konsistensi, pemahaman konsep, pengelolaan waktu, serta dukungan lingkungan dapat menjadi fondasi penting dalam perjalanan pendidikan.
Predikat cumlaude dengan IPK 3,97 menjadi pencapaian membanggakan. Namun, bagi Aurella, keberhasilan tersebut bukan akhir perjalanan. Justru, hasil itu menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar dan mengabdikan ilmu di bidang kedokteran.
Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/
