Perang tidak hanya menghancurkan bangunan dan merenggut nyawa. Konflik bersenjata juga membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, harta benda, modal usaha, hingga sumber penghidupan yang selama ini menopang kehidupan keluarga. Kondisi itulah yang menjadi perhatian Yusra Ali Idris, wisudawati asal Sudan yang baru saja menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Alih-alih menjadikan pengalaman negaranya sebagai cerita pribadi semata, Yusra mencoba merespons persoalan tersebut melalui penelitian. Ia mengembangkan model strategi bertahan hidup yang memadukan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), personal branding, dan kewirausahaan praktis.

Riset tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat Sudan yang terdampak perang membangun kembali kemandirian ekonomi, termasuk bagi mereka yang kehilangan modal dan aset produktif. Bagi Yusra, ilmu manajemen tidak seharusnya berhenti sebagai teori di ruang kuliah, tetapi perlu diarahkan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat.

Lulus Magister di Unesa

Yusra resmi dikukuhkan sebagai lulusan Program Studi S2 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Unesa dalam Wisuda Periode ke-123. Prosesi tersebut berlangsung di Graha Unesa, Surabaya, pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Ia merupakan penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program beasiswa tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia.

Wisuda ke-123 Unesa diikuti 1.511 lulusan. Dalam periode ini, sembilan mahasiswa asing juga tercatat mengikuti kelulusan, termasuk Yusra yang berasal dari Sudan.

Pencapaian tersebut memiliki arti khusus bagi Yusra. Perjalanannya menyelesaikan studi di Indonesia berlangsung ketika negaranya masih menghadapi konflik bersenjata. Situasi tersebut membuat persoalan pemulihan kehidupan masyarakat Sudan menjadi isu yang dekat dengan pengalaman pribadinya.

Ia kemudian memilih mengembangkan penelitian yang berhubungan dengan upaya masyarakat mempertahankan kehidupan ekonomi setelah kehilangan sumber penghasilan.

Riset Gabungkan AI dan Wirausaha

Dalam penelitiannya, Yusra merancang model strategi bertahan hidup dengan menggabungkan tiga pendekatan utama, yakni pemanfaatan AI, personal branding, dan kewirausahaan.

Ketiga unsur tersebut memiliki peran yang saling melengkapi. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu mencari informasi, mengenali peluang, menyusun strategi, serta mendukung aktivitas usaha. Teknologi ini berpotensi membantu pelaku usaha kecil bekerja lebih efisien, terutama ketika mereka memiliki sumber daya terbatas.

Sementara itu, personal branding berkaitan dengan cara seseorang membangun identitas, reputasi, dan kepercayaan. Bagi masyarakat yang harus memulai usaha dari awal, kemampuan memperkenalkan produk maupun jasa menjadi bagian penting untuk menjangkau calon pelanggan.

Adapun kewirausahaan menjadi landasan untuk mengubah peluang menjadi kegiatan ekonomi. Pendekatan ini mencakup kemampuan mengenali kebutuhan pasar, mengelola sumber daya, menyusun rencana usaha, hingga mempertahankan kegiatan bisnis.

Yusra mengintegrasikan ketiganya sebagai panduan yang diharapkan dapat digunakan masyarakat Sudan untuk membangun kembali aktivitas ekonomi. Fokusnya bukan hanya membantu seseorang mendapatkan pekerjaan, melainkan mendorong kemampuan menciptakan sumber penghasilan secara mandiri.

Ia berharap model tersebut dapat membantu korban perang memulai kembali kehidupan ekonomi meskipun kehilangan modal dan harta benda akibat konflik.

Berangkat dari Persoalan Nyata

Gagasan penelitian Yusra berangkat dari kondisi masyarakat Sudan yang terdampak perang. Konflik dapat membuat seseorang kehilangan aset produktif, tempat usaha, jaringan bisnis, hingga akses terhadap pasar.

Bagi pelaku usaha kecil, kehilangan modal bukan satu-satunya persoalan. Mereka juga harus menghadapi perubahan lingkungan, keterbatasan akses teknologi, dan ketidakpastian kondisi ekonomi.

Dalam situasi seperti itu, pendekatan pemulihan ekonomi membutuhkan strategi yang tidak hanya berorientasi pada bantuan jangka pendek. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali peluang dan membangun sumber penghidupan baru.

Di sinilah penelitian Yusra mencoba menawarkan pendekatan melalui ilmu manajemen. Pemanfaatan teknologi, penguatan identitas usaha, dan pengetahuan kewirausahaan diharapkan dapat menjadi bekal untuk memulai aktivitas ekonomi dari kondisi terbatas.

Meski demikian, model penelitian tersebut tetap membutuhkan pengujian dan penyesuaian sebelum diterapkan secara luas. Kondisi setiap kelompok masyarakat berbeda, termasuk dari sisi pendidikan, akses internet, ketersediaan perangkat digital, dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Karena itu, keberhasilan penerapannya tidak hanya bergantung pada konsep penelitian, tetapi juga pada kesesuaian strategi dengan kebutuhan masyarakat yang terdampak konflik.

Perjalanan Kuliah Penuh Tantangan

Selain menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kondisi negaranya, Yusra juga harus melewati proses adaptasi selama menempuh pendidikan di Indonesia.

Perbedaan bahasa dan lingkungan akademik menjadi tantangan tersendiri. Ia datang dari Sudan untuk melanjutkan pendidikan magister di Unesa, sehingga perlu menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran dan kehidupan di negara baru.

Namun, Yusra mengaku mendapatkan dukungan dari dosen, pimpinan fakultas, serta Unesa Global Engagement (UGE). Pendampingan tersebut membantunya menjalani kegiatan akademik hingga menyelesaikan studi.

Dukungan juga diberikan melalui penyesuaian dalam proses pembelajaran. Mahasiswa internasional, termasuk Yusra, mendapatkan kesempatan menggunakan bahasa Inggris dalam ujian sehingga dapat memahami pertanyaan dan menyampaikan jawaban dengan lebih baik.

Pengalaman tersebut membuatnya merasa diterima selama berada di lingkungan kampus. Perbedaan negara dan bahasa tidak menjadi penghalang untuk membangun hubungan akademik dengan dosen maupun sesama mahasiswa.

Dukungan lingkungan kampus menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Yusra hingga berhasil meraih gelar magister.

Persembahkan Kelulusan untuk Ayah

Di balik keberhasilan akademiknya, Yusra menyimpan kisah personal yang mendalam. Ia mempersembahkan kelulusannya untuk sang ayah yang meninggal dunia di tengah konflik bersenjata di Sudan.

Bagi Yusra, pencapaian gelar magister bukan hanya hasil dari proses belajar selama beberapa tahun. Kelulusan tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga dan perjalanan hidup yang harus dilaluinya di tengah situasi sulit.

Kehilangan orang terdekat ketika konflik berlangsung tentu menjadi pengalaman berat. Namun, Yusra tetap melanjutkan pendidikan dan mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan kondisi masyarakat di negara asalnya.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat menjadi dorongan untuk menghasilkan karya akademik yang memiliki tujuan sosial. Ia tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan, tetapi juga berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Sudan.

Dapat Kesempatan Beasiswa S3

Perjalanan akademik Yusra di Unesa ternyata belum berhenti pada jenjang magister. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral mendapat respons dari Rektor Unesa, Nurhasan, yang akrab disapa Cak Hasan.

Rektor Unesa memberikan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi S3 di kampus tersebut. Kesempatan ini membuka peluang bagi Yusra untuk memperdalam bidang keilmuan sekaligus mengembangkan penelitian yang telah dirintis selama pendidikan magister.

Pendidikan doktoral juga dapat menjadi ruang untuk menguji dan menyempurnakan model pemulihan ekonomi yang dikembangkannya. Dengan penelitian lebih lanjut, gagasan tersebut diharapkan memiliki landasan akademik yang lebih kuat dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat terdampak perang.

Bagi Yusra, tantangan berikutnya adalah membawa hasil penelitian keluar dari ruang akademik. Ia perlu memastikan bahwa gagasan tentang AI, personal branding, dan kewirausahaan dapat diterjemahkan menjadi pendekatan yang relevan serta memungkinkan untuk diterapkan.

Pendidikan untuk Misi Kemanusiaan

Kisah Yusra menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi sarana untuk merespons persoalan sosial dan kemanusiaan. Penelitian yang dikembangkan tidak hanya membahas pengelolaan bisnis, tetapi juga menyentuh kebutuhan masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan akibat konflik.

Pemanfaatan AI dan strategi kewirausahaan memang bukan solusi tunggal untuk mengatasi dampak perang. Pemulihan masyarakat membutuhkan banyak aspek, mulai dari keamanan, akses pendidikan, infrastruktur, dukungan sosial, hingga kesempatan ekonomi.

Namun, upaya mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dapat menjadi salah satu bagian dari proses membangun kembali kehidupan. Masyarakat yang memiliki kemampuan mengelola usaha dan mengenali peluang ekonomi berpotensi lebih siap menghadapi kondisi setelah konflik.

Yusra kini membawa bekal ilmu manajemen dan kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral. Harapannya, penelitian yang dikembangkan di Indonesia kelak dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat Sudan yang berjuang memulai kembali kehidupan mereka.

Gelar magister yang diraihnya bukan menjadi garis akhir. Bagi Yusra, pencapaian tersebut justru membuka jalan untuk melanjutkan misi yang lebih besar: menjadikan ilmu pengetahuan sebagai salah satu cara membantu sesama bangkit dari dampak perang.



Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/