Perjalanan meraih pendidikan tinggi di luar negeri tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada yang berhasil dalam satu kesempatan, tetapi tidak sedikit pula yang harus melewati berbagai penolakan sebelum mendapatkan peluang terbaik. Pengalaman tersebut dialami Andrew Dwi Permana, mahasiswa asal Indonesia yang akhirnya berhasil menempuh pendidikan master di empat negara Eropa.

Andrew membuktikan bahwa kegagalan dalam proses mendapatkan beasiswa bukan alasan untuk menghentikan cita-cita. Setelah tiga kali mengalami kegagalan dalam upaya melanjutkan pendidikan ke Eropa, ia akhirnya memperoleh kesempatan melalui program Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM).

Program tersebut membawanya mengikuti perkuliahan di Prancis, Italia, dan Spanyol. Ia kemudian menyelesaikan tesis magisternya di Karolinska Institutet, Swedia.

Kisah Andrew menjadi gambaran bahwa kesempatan pendidikan internasional membutuhkan persiapan, ketekunan, dan keberanian untuk mencoba jalur yang berbeda.

Berawal dari Pameran Pendidikan Eropa

Ketertarikan Andrew terhadap pendidikan di Eropa sudah muncul sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Keinginan tersebut semakin kuat ketika ia mengunjungi European Higher Education Fair (EHEF) di Bali pada 2015.

Saat itu, Andrew masih menjadi mahasiswa Teknik Elektro di Universitas Udayana. Melalui pameran pendidikan tersebut, ia mendapatkan informasi mengenai perguruan tinggi Eropa, pilihan program studi, sistem pendidikan, hingga peluang beasiswa untuk mahasiswa internasional.

Swedia menjadi salah satu negara yang menarik perhatiannya sebagai tujuan melanjutkan pendidikan magister.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2018, Andrew mulai lebih serius mencari peluang studi di luar negeri. Ia mengumpulkan informasi mengenai universitas, persyaratan pendaftaran, dan berbagai skema pendanaan yang memungkinkan dirinya melanjutkan pendidikan tanpa harus terbebani biaya besar.

Namun, proses tersebut tidak langsung membuahkan hasil. Tiga kali mencoba, tiga kali pula ia belum berhasil mendapatkan kesempatan yang diinginkan.

Kegagalan Bukan Alasan Berhenti

Menghadapi penolakan berkali-kali tentu bukan pengalaman mudah. Bagi sebagian calon mahasiswa, kegagalan mendapatkan beasiswa dapat menimbulkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.

Namun, Andrew memilih melihat pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Ia menyadari bahwa mendapatkan beasiswa luar negeri tidak selalu bisa dilakukan dalam satu kali percobaan. Persaingan yang ketat membuat setiap pelamar perlu mempersiapkan diri dengan baik, mulai dari kemampuan akademik hingga kesesuaian tujuan studi.

Dalam keterangannya, Andrew mengibaratkan proses mendapatkan beasiswa seperti melamar pekerjaan. Seseorang belum tentu langsung mendapatkan panggilan meskipun sudah mengirimkan lamaran.

Karena itu, ia menyarankan calon mahasiswa untuk tidak terlalu larut dalam kekecewaan ketika mengalami kegagalan.

Menurut Andrew, daripada terus memikirkan penolakan, lebih baik mengalokasikan waktu untuk memperbaiki persiapan dan mencari peluang lain yang sesuai dengan minat.

Pendekatan tersebut akhirnya membawanya menemukan kesempatan melalui Erasmus Mundus Joint Masters.

Erasmus Mundus Membuka Jalan ke Eropa

Erasmus Mundus Joint Masters merupakan program pendidikan magister internasional yang didukung Uni Eropa. Program ini memungkinkan mahasiswa menempuh satu program master melalui kerja sama beberapa perguruan tinggi di negara berbeda.

Salah satu keunggulan program tersebut adalah pengalaman belajar lintas negara. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik dari satu universitas, tetapi juga memperoleh kesempatan mengenal sistem pendidikan dan lingkungan budaya yang berbeda.

Pada 2022, Andrew berhasil diterima dalam program Medical Imaging and Applications (MAIA).

Program ini berfokus pada bidang pencitraan medis atau medical imaging, termasuk pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kesehatan.

Kesempatan tersebut menjadi titik balik perjalanan akademiknya setelah beberapa kali gagal mendapatkan peluang studi di Eropa.

Melalui program MAIA, Andrew menjalani pendidikan di tiga negara, yakni Prancis, Italia, dan Spanyol. Ia kemudian menyelesaikan penelitian tesis magisternya di Karolinska Institutet, Swedia.

Dengan demikian, pengalaman pendidikannya mencakup empat negara Eropa dengan lingkungan akademik yang berbeda.

Belajar Medical Imaging hingga Kecerdasan Buatan

Program MAIA memberikan pengalaman akademik yang beragam kepada Andrew. Setiap semester memiliki fokus pembelajaran tersendiri, sehingga mahasiswa dapat memahami bidang medical imaging secara bertahap.

Materi perkuliahan dimulai dari dasar-dasar pencitraan medis dan pengenalan kecerdasan buatan. Pembelajaran kemudian berlanjut menuju bidang spesialisasi sebelum mahasiswa memasuki tahap penyusunan tesis akhir.

Kombinasi antara teknologi pencitraan medis dan AI menjadi salah satu aspek penting dalam perkembangan dunia kesehatan modern.

Teknologi medical imaging digunakan untuk membantu tenaga medis memperoleh gambaran kondisi tubuh pasien melalui berbagai metode pemeriksaan. Sementara itu, kecerdasan buatan berpotensi mendukung proses analisis gambar medis dan membantu meningkatkan efisiensi sejumlah pekerjaan diagnostik.

Pengalaman mengikuti program tersebut memberikan kesempatan bagi Andrew untuk memperluas pengetahuan sekaligus memahami perkembangan teknologi kesehatan dari perspektif internasional.

Bertemu Mahasiswa dari 21 Negara

Pengalaman kuliah di empat negara tidak hanya memberikan keuntungan dari sisi akademik. Andrew juga mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang budaya.

Dalam program MAIA, terdapat 28 mahasiswa yang berasal dari 21 negara. Bahasa Inggris menjadi bahasa utama yang digunakan selama kegiatan perkuliahan.

Lingkungan tersebut membuat mahasiswa harus terbiasa berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami kebiasaan orang-orang dengan latar budaya berbeda.

Andrew juga menemukan bahwa kebiasaan sosial yang dianggap biasa di Indonesia belum tentu memiliki makna yang sama di negara lain.

Salah satu pengalaman yang diceritakannya terjadi ketika ia tersenyum kepada seseorang yang lebih tua saat berada di kereta di Prancis. Respons yang diterima ternyata berbeda dari kebiasaan yang selama ini dikenalnya di Indonesia.

Pengalaman sederhana tersebut menjadi pelajaran mengenai pentingnya memahami norma sosial ketika tinggal di lingkungan internasional.

Menurut Andrew, pengalaman kuliah di luar negeri bukan hanya tentang mendapatkan gelar akademik. Mahasiswa juga belajar beradaptasi, membangun hubungan lintas budaya, dan memahami kehidupan masyarakat dari sudut pandang yang lebih luas.

Kini Melanjutkan Studi Doktoral di Swedia

Perjalanan akademik Andrew tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan master. Saat ini, ia melanjutkan studi doktoral di Department of Biomedical Engineering and Health Systems, KTH Royal Institute of Technology, Swedia.

Keputusan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman belajar di program internasional dapat membuka peluang untuk melanjutkan pengembangan akademik ke jenjang lebih tinggi.

Bidang teknik biomedis sendiri memiliki hubungan erat dengan penerapan teknologi dalam dunia kesehatan. Pengembangan perangkat medis, sistem pencitraan, serta pengolahan data kesehatan menjadi bagian dari bidang penelitian yang terus berkembang.

Pengalaman Andrew dalam program Medical Imaging and Applications juga memberikan landasan akademik yang relevan untuk perjalanan penelitiannya.

Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan lintas negara dapat menjadi salah satu jalur untuk membangun kompetensi dan jejaring profesional internasional.

Pesan Andrew untuk Calon Mahasiswa Indonesia

Melalui pengalamannya, Andrew memberikan pesan kepada calon mahasiswa Indonesia yang memiliki impian melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Ia mengingatkan bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan. Setiap penolakan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki persiapan pada kesempatan berikutnya.

Calon mahasiswa juga perlu mempertimbangkan pilihan program studi secara matang. Menentukan jurusan sebaiknya tidak hanya mengikuti popularitas suatu bidang, tetapi juga mempertimbangkan minat, latar belakang pendidikan, dan tujuan karier jangka panjang.

Selain itu, mencari informasi dari pameran pendidikan, situs universitas, alumni, serta penyelenggara beasiswa dapat membantu pelamar memahami peluang yang tersedia.

Bagi mereka yang tertarik mengikuti Erasmus Mundus, persiapan dokumen akademik, kemampuan bahasa Inggris, pengalaman relevan, dan motivasi studi perlu diperhatikan sejak awal.

Kisah Andrew menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju pendidikan internasional tidak selalu berlangsung mulus. Tiga kali kegagalan ternyata tidak menutup peluangnya untuk belajar di empat negara Eropa.

Dengan persiapan yang lebih matang dan kemauan untuk mencoba jalur berbeda, kesempatan yang sebelumnya terasa jauh akhirnya dapat diwujudkan.



Sumber Artikel : https://edukasi.sindonews.com/
Sumber Gambar : https://edukasi.sindonews.com/