Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah aktivitas akademik di perguruan tinggi. Mahasiswa memanfaatkan teknologi ini untuk mencari referensi, merangkum bacaan, menyusun kerangka tulisan, hingga membantu menjawab pertanyaan dalam tugas kuliah. Di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah dosen juga menggunakan AI untuk mengoreksi tugas dan memberikan nilai kepada mahasiswa?

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika beban kerja dosen tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar. Pengajar juga perlu menyiapkan materi, menyusun soal ujian, merancang rubrik penilaian, membimbing penelitian, serta melakukan berbagai pekerjaan administratif.

Dalam situasi tersebut, AI berpotensi menjadi alat bantu untuk mempercepat sebagian pekerjaan akademik. Meski demikian, penggunaannya untuk menilai hasil belajar mahasiswa membutuhkan pertimbangan yang lebih serius dibandingkan sekadar membantu menyusun materi presentasi.

AI Mulai Masuk ke Proses Penilaian

Pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak terbatas pada aktivitas mahasiswa. Teknologi ini juga dapat membantu pengajar menganalisis hasil ujian, menyusun instrumen evaluasi, merancang rubrik, dan memberikan masukan awal terhadap pekerjaan peserta didik.

Laporan detikEdu pada 23 Oktober 2026 menyoroti peluang penggunaan AI untuk mendukung pekerjaan pengajar, termasuk dalam penyusunan instrumen penilaian dan analisis hasil ujian. Dalam laporan tersebut, Dr. Sabar Nurrahman dari Universitas Negeri Yogyakarta menjelaskan bahwa AI dapat membantu mengurangi beban administratif sehingga pengajar memiliki lebih banyak waktu untuk memperhatikan kebutuhan pembelajaran.

Namun, kemampuan AI membantu proses evaluasi tidak otomatis berarti teknologi tersebut dapat mengambil alih seluruh tugas penilaian.

Dalam praktiknya, dosen dapat menggunakan AI untuk memeriksa apakah jawaban mahasiswa telah membahas aspek-aspek yang tercantum dalam rubrik. Teknologi tersebut juga bisa membantu menemukan bagian yang kurang jelas, mengidentifikasi kesalahan umum, atau menyusun saran perbaikan terhadap sebuah tulisan.

Sebagai contoh, ketika dosen menerima puluhan esai dengan topik serupa, AI dapat membantu mengelompokkan jawaban berdasarkan tema dan menunjukkan argumen yang belum didukung bukti memadai. Dosen kemudian meninjau temuan tersebut sebelum menentukan nilai akhir.

Model seperti ini memungkinkan teknologi bekerja sebagai asisten, sementara keputusan akademik tetap berada di tangan pengajar.

Mengapa Dosen Tertarik Menggunakan AI?

Salah satu alasan utama penggunaan AI adalah efisiensi waktu. Mengoreksi banyak tugas secara manual dapat menjadi pekerjaan yang menyita perhatian, terutama ketika dosen mengajar beberapa kelas sekaligus.

AI dapat membantu mempercepat pemeriksaan awal, memberikan umpan balik yang lebih terstruktur, dan mengidentifikasi pola kesalahan yang muncul berulang kali. Pengajar pun dapat menggunakan hasil analisis tersebut untuk menentukan materi yang perlu dijelaskan kembali.

Misalnya, apabila banyak mahasiswa keliru memahami konsep statistik tertentu, AI dapat membantu merangkum pola kesalahan dalam jawaban mereka. Dosen kemudian bisa menggunakan informasi itu untuk merancang pembelajaran tambahan.

Teknologi ini juga dapat membantu menjaga konsistensi pemeriksaan apabila dosen menggunakan rubrik yang jelas. Setiap jawaban dapat ditinjau berdasarkan kriteria yang sama, seperti ketepatan konsep, kekuatan argumentasi, penggunaan referensi, dan struktur penulisan.

Meski begitu, konsistensi tidak selalu identik dengan keadilan. AI dapat menerapkan pola penilaian secara seragam, tetapi tetap menghasilkan keputusan yang kurang tepat apabila rubriknya tidak sesuai, instruksinya ambigu, atau konteks jawaban tidak dipahami dengan baik.

Apakah AI Bisa Memberikan Nilai yang Akurat?

Inilah persoalan utama dalam penggunaan AI untuk mengoreksi tugas mahasiswa. Jawaban yang terlihat rapi dan meyakinkan belum tentu benar secara akademik. Sebaliknya, tulisan yang sederhana belum tentu menunjukkan pemahaman yang rendah.

AI dapat salah menafsirkan argumen, melewatkan konteks penting, atau memberikan penilaian yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam tugas yang membutuhkan pemikiran kritis, kreativitas, dan interpretasi mendalam, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks.

Sebuah kajian sistematis yang diterbitkan dalam International Journal of Educational Technology in Higher Education pada 2026 menelaah 72 studi tentang penilaian di pendidikan tinggi pada periode 2024–2026. Kajian itu menemukan bahwa penggunaan AI dalam evaluasi mencakup sejumlah kegiatan, mulai dari penyusunan asesmen dan pemberian umpan balik hingga proses pemberian nilai.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pendekatan penilaian semakin mempertimbangkan proses pengerjaan, keaslian tugas, serta diskusi lisan antara mahasiswa dan pengajar. Artinya, penilaian tidak cukup hanya mengandalkan hasil akhir yang dikumpulkan mahasiswa.

Studi lain yang terbit pada 2026 dan dipublikasikan melalui jurnal Assessment & Evaluation in Higher Education menguji kemampuan model AI dalam menilai esai mahasiswa bidang biosains. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun nilai gabungan yang dihasilkan AI terkadang mendekati penilaian manusia, terdapat perbedaan berarti pada sejumlah kriteria dan esai individual.

AI juga cenderung mempersempit variasi nilai dalam pengujian tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa kemiripan nilai rata-rata tidak menjamin AI mampu menilai setiap mahasiswa secara akurat.

Karena itu, hasil koreksi otomatis sebaiknya tidak langsung dijadikan nilai final tanpa pemeriksaan manusia.

Risiko Bias dan Privasi Mahasiswa

Selain akurasi, penggunaan AI dalam penilaian juga memunculkan persoalan transparansi dan perlindungan data.

Mahasiswa perlu mengetahui apabila AI digunakan untuk membantu memeriksa tugas mereka, terutama jika hasilnya berpengaruh terhadap nilai akhir. Kampus dan dosen juga perlu menjelaskan sejauh mana teknologi tersebut dilibatkan serta bagaimana hasilnya diverifikasi.

Persoalan privasi tidak kalah penting. Tugas mahasiswa dapat memuat informasi pribadi, hasil penelitian yang belum dipublikasikan, atau data sensitif lainnya. Mengunggah dokumen tersebut ke layanan AI tanpa memahami ketentuan penggunaan dan pengelolaan datanya dapat menimbulkan risiko.

Karena itu, institusi pendidikan perlu menetapkan aturan mengenai jenis data yang boleh diproses, layanan yang diizinkan, serta pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan informasi.

UNESCO melalui panduan penggunaan AI generatif dalam pendidikan dan penelitian menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia. Panduan tersebut juga menyoroti perlindungan data, validasi teknologi, dan perlunya kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan.

Prinsip ini relevan bagi perguruan tinggi: penggunaan AI harus mendukung kualitas pembelajaran, bukan sekadar mempercepat pekerjaan.

Dosen Tetap Memegang Tanggung Jawab Akademik

Kehadiran AI seharusnya tidak menghilangkan peran dosen dalam memahami kemampuan mahasiswa. Nilai bukan hanya angka yang diberikan berdasarkan kemiripan jawaban dengan sebuah standar, melainkan hasil evaluasi terhadap capaian pembelajaran.

Dosen perlu mempertimbangkan konteks soal, tujuan tugas, perkembangan kemampuan mahasiswa, serta alasan di balik jawaban yang diberikan. Dalam beberapa kasus, diskusi langsung dapat membantu memastikan bahwa mahasiswa benar-benar memahami materi yang ditulisnya.

Pendekatan ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada pendeteksi tulisan AI. Hasil deteksi otomatis tidak semestinya menjadi satu-satunya dasar untuk menuduh mahasiswa melakukan pelanggaran akademik. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan bukti lain, proses pengerjaan, dan kesempatan bagi mahasiswa untuk menjelaskan pekerjaannya.

Perguruan tinggi dapat menerapkan beberapa langkah praktis, antara lain menetapkan rubrik penilaian yang jelas, mewajibkan pemeriksaan manusia atas rekomendasi AI, melakukan evaluasi berkala terhadap akurasi sistem, serta menyediakan mekanisme keberatan terhadap nilai.

Mahasiswa juga perlu memperoleh aturan yang tegas mengenai penggunaan AI dalam tugas, termasuk kapan penggunaannya diperbolehkan dan bagaimana bantuan tersebut harus dinyatakan.

Bukan Siapa yang Menggunakan AI, tetapi Bagaimana

Pertanyaan apakah dosen menggunakan AI untuk mengoreksi tugas mahasiswa tidak cukup dijawab dengan ya atau tidak. Pemanfaatan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat apabila dilakukan secara terukur, transparan, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

AI bisa membantu mempercepat pekerjaan berulang dan menyusun umpan balik awal. Namun, teknologi ini masih memiliki keterbatasan dalam memahami konteks, menilai argumentasi yang kompleks, serta memastikan keadilan dalam setiap keputusan akademik.

Tantangan bagi perguruan tinggi bukan semata-mata melarang atau menerima AI, melainkan membangun aturan yang membuat teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, mahasiswa tetap membutuhkan dosen yang mampu membimbing proses berpikir, menilai pemahaman, dan memberikan pertimbangan akademik. AI dapat menjadi alat pendukung, tetapi tanggung jawab atas kualitas pendidikan tidak seharusnya dialihkan sepenuhnya kepada mesin.



Sumber Artikel : https://www.detik.com/
Sumber Gambar : https://www.detik.com/