Netravest Bantu Tunanetra Beraktivitas
Berjalan kaki di ruang publik bukan selalu aktivitas sederhana bagi penyandang tunanetra. Trotoar yang terhalang kendaraan, lubang, benda yang menggantung, hingga berbagai objek di luar jangkauan tongkat putih dapat menjadi tantangan tersendiri.
Persoalan tersebut mendorong lima mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan sebuah perangkat wearable bernama Netravest. Rompi navigasi cerdas ini dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mengenali objek dan kondisi lingkungan secara waktu nyata.
Netravest memadukan kecerdasan artifisial atau AI, computer vision, sensor Light Detection and Ranging (LiDAR), sensor fusion, bone conduction, serta sistem peringatan berbasis getaran. Perangkat tersebut dikembangkan sebagai alat bantu pendamping tongkat putih, bukan sebagai penggantinya.
Tim pengembang terdiri atas Raden Farhan Rizki Septrian, Najwa Adistia Nisrina, Muhammad Fattan Al Farisi, Sulthan Ariq Haikal, dan Hanif Muzaffar Gunawan. Mereka mengembangkan Netravest melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026 dengan bimbingan Muhammad Taufik Dwi Putra.
Berawal dari Kebutuhan Pengguna
Pengembangan Netravest tidak semata-mata berangkat dari gagasan teknologi. Para mahasiswa terlebih dahulu berdiskusi dan melakukan wawancara dengan penyandang tunanetra untuk memahami tantangan yang mereka hadapi ketika melakukan mobilitas.
Dari proses tersebut, tim menemukan bahwa tongkat putih sebagai alat bantu utama memiliki keterbatasan. Tongkat memang membantu pengguna mendeteksi kondisi tertentu di sekitar kaki dan permukaan jalan, tetapi tidak semua objek dapat dikenali dengan mudah.
Benda yang berada lebih tinggi, seperti papan, spanduk, atau objek yang menggantung, menjadi salah satu contoh rintangan yang membutuhkan mekanisme deteksi tambahan.
Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan perangkat yang mampu memberikan informasi tambahan kepada pengguna tanpa menghilangkan peran tongkat putih.
Nama Netravest sendiri berasal dari gabungan kata “netra” yang berarti melihat dan “vest” yang berarti rompi. Konsepnya adalah memberikan kemampuan bagi pengguna untuk memperoleh gambaran mengenai objek di sekitarnya melalui informasi yang diterjemahkan menjadi suara maupun getaran.
Gabungkan Kamera dan LiDAR
Salah satu bagian penting Netravest adalah sistem sensor fusion. Teknologi tersebut menggabungkan informasi dari beberapa sensor agar perangkat dapat memperoleh gambaran lingkungan yang lebih komprehensif.
Kamera digunakan bersama teknologi computer vision untuk mengenali objek. Sementara itu, sensor LiDAR membantu memperoleh informasi mengenai jarak dan kondisi ruang di sekitar pengguna.
Data tersebut kemudian diproses oleh sistem AI. Dalam pengembangan computer vision, tim menggunakan algoritma pendeteksi objek YOLOv8n dengan lebih dari 30.000 dataset dan lebih dari 20 kelas objek rintangan.
Ketika sistem mengenali objek tertentu, informasi dapat disampaikan kepada pengguna melalui suara menggunakan teknologi bone conduction. Pendekatan ini menjadi penting karena pengguna tetap dapat mendengar suara lingkungan sekitar.
Selain suara, Netravest juga menggunakan umpan balik berupa getaran. Dengan kombinasi tersebut, pengguna mendapatkan lebih dari satu bentuk informasi ketika perangkat mendeteksi kondisi tertentu.
Sistem ini membuat Netravest tidak hanya berfungsi sebagai perangkat pendeteksi objek, tetapi juga menjadi sebuah sistem komunikasi antara lingkungan dan pengguna.
Bisa Kenali Nominal Uang
Salah satu fitur yang membuat Netravest menarik adalah kemampuannya mengenali nominal uang rupiah.
Fitur tersebut dikembangkan setelah tim menemukan bahwa sebagian penyandang tunanetra masih menghadapi kesulitan ketika harus mengetahui nilai uang secara mandiri. Meskipun uang rupiah memiliki sejumlah karakteristik pembeda, kondisi fisik uang tidak selalu membuat nominal mudah dikenali oleh pengguna.
Melalui kamera dan sistem computer vision, Netravest dapat mengidentifikasi nominal uang yang diberikan kepada perangkat. Hasil identifikasi kemudian disampaikan kepada pengguna melalui suara.
Dalam pengujian, tim mencoba fitur tersebut menggunakan uang yang kondisinya relatif baru. Respons pengguna disebut positif ketika mereka dapat mengetahui nominal uang yang sedang dipegang tanpa harus meminta bantuan orang lain.
Fitur tersebut menunjukkan bahwa teknologi asistif tidak hanya berkaitan dengan keselamatan saat berjalan. Kemampuan melakukan aktivitas sederhana secara mandiri juga menjadi bagian penting dari peningkatan aksesibilitas.
Ada Sistem SOS dan Pemantauan
Netravest juga dirancang dengan memperhatikan aspek keselamatan. Perangkat memiliki sistem SOS yang terhubung dengan aplikasi pendamping.
Fitur tersebut dapat diaktifkan melalui tombol pada rompi maupun aplikasi. Tombol pada rompi dapat ditekan selama sekitar tiga detik untuk mengaktifkan mekanisme SOS.
Ketika aktif, sistem dapat mengirimkan informasi kepada pendamping. Data yang tersedia mencakup lokasi terakhir pengguna serta kondisi sejumlah komponen perangkat, termasuk baterai, kamera, GPS, dan sensor. Sistem juga dikembangkan dengan dukungan notifikasi melalui bot Telegram.
GPS pada rompi dapat digunakan bersama GPS pada ponsel pengguna sebagai sumber informasi lokasi tambahan. Koneksi internet terutama dibutuhkan untuk fungsi SOS dan pemantauan berbasis peta.
Menariknya, proses utama pendeteksian objek dapat dilakukan secara offline. Hal ini menjadi aspek penting untuk perangkat yang digunakan dalam mobilitas sehari-hari karena tidak semua lokasi memiliki koneksi internet yang stabil.
Masih Berstatus Prototipe
Meski menawarkan berbagai kemampuan, Netravest saat ini masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian. Prototipe mulai dikembangkan pada Juni 2026 dan selesai pada akhir Juli. Pengujian fungsional kemudian dilakukan sepanjang Agustus hingga September 2026.
Tim masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah, terutama terkait ukuran, bobot, konsumsi daya, perangkat keras, algoritma AI, kenyamanan, serta pengalaman pengguna.
Saat ini bobot Netravest berada di kisaran dua kilogram. Tim menargetkan bobot tersebut dapat dikurangi menjadi sekitar satu kilogram melalui penggunaan komponen yang lebih kecil dan desain yang lebih ringkas.
Upaya tersebut penting karena perangkat asistif harus nyaman digunakan dalam aktivitas yang berlangsung cukup lama. Teknologi dengan kemampuan tinggi tetap perlu mempertimbangkan kenyamanan dan kemudahan penggunaan agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Menuju Teknologi Asistif
Kehadiran Netravest memperlihatkan bagaimana teknologi AI dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alih-alih hanya mengejar kemampuan AI untuk menghasilkan teks atau gambar, mahasiswa UPI memanfaatkannya sebagai bagian dari teknologi asistif.
Pengembangan ini juga menunjukkan pentingnya melibatkan calon pengguna sejak tahap awal. Dengan memahami kebutuhan penyandang tunanetra secara langsung, fitur yang dikembangkan dapat diarahkan pada persoalan nyata, mulai dari mendeteksi rintangan hingga mengenali nominal uang.
Ke depan, tim berharap Netravest dapat dibuat semakin ringkas, ringan, nyaman, dan akurat. Dukungan dari mitra industri juga diharapkan dapat membantu proses miniaturisasi komponen, peningkatan kemampuan AI, serta pengembangan perangkat menuju tahap hilirisasi.
Jika proses tersebut berhasil dilanjutkan, Netravest berpotensi berkembang dari sekadar prototipe mahasiswa menjadi teknologi asistif yang dapat membantu lebih banyak penyandang tunanetra.
Pada akhirnya, inovasi tersebut bukan hanya soal rompi dengan kamera dan sensor. Netravest membawa gagasan bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan untuk memperluas akses, meningkatkan kemandirian, dan membantu seseorang beraktivitas dengan lebih percaya diri di lingkungan sekitarnya.
Sumber Artikel : https://www.kompas.com/
Sumber Gambar : https://www.kompas.com/
